Berita Nasional Terpercaya

Masyarakat Jogja Menerima Pemberlakuan PPKM Level 4

0

YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus berupaya menekan laju peningkatan kasus COVID-19, termasuk mengikuti keputusan Pemerintah Pusat dengan melaksanakan PPKM Level 4 sampai 2 Agustus 2021 mendatang. Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 pun terus dilakukan.

Asisten I Sekretaris Daerah Provinsi DIY, Sumadi mengatakan dalam pantauannya kondisi di jalan wilayah Yogyakarta selama PPKM Darurat dan PPKM Level 4 tidak seramai biasanya. “Untuk mencegah penyebaran Covid-19 memang dilakukan pembatasan-pembatasan dan sudah diterima dengan baik oleh masyarakat,” tuturnya dalam Dialog Produktif Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Rabu (28/7/2021).

Menurut Sumadi, PPKM Level 4 efektif membatasi mobilitas masyarakat dan warga DIY taat serta mematuhinya saat ini. Kepatuhan tersebut terjadi karena melibatkan tokoh masyarakat di masing-masing daerah, RT, RW dan kelurahan untuk memberikan pengertian. “Pembatasan aktivitas ini demi kepentingan bersama. Jika ada penyekatan, masyarakat sudah memahaminya,” ujarnya.

Baca Juga : Sultan Minta Pasien Isoman Bergejala Diangkut ke Rumah Sakit

Ia juga mengungkapkan Pemda DIY terus berupaya untuk menanggulangi lonjakan kasus positif dengan bekerjasama lintas instansi seperti TNI, Polri, dan Satgas Penanganan Covid-19. Salah satu upaya peningkatan kapasitas layanan kesehatan, misalnya menambah persediaan oksigen di RS dan dukungan tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat. 

Untuk Bed Occupancy Ratio (BOR), Sumadi menyampaikan bahwa di Provinsi DIY mengalami penurunan setelah PPKM diberlakukan dengan ketat. Ia juga menyampaikan BOR sempat di atas 80%, lalu dilakukan penambahan fasilitas kamar tidur sehingga berhasil menurunkan BOR. “Lalu, hanya pasien yang membutuhkan penanganan darurat yang masuk RS. Untuk pasien mendekati sembuh dipindah ke shelter yang dilengkapi nakes dan akomodasi sesuai kebutuhan,” imbuhnya.

Lanjut Sumadi, saat ini, DIY terus memperbanyak 3T (Tracing, Testing, Treatment) pasca kenaikan angka kematian. Saat itu ada sekitar 25 ribu orang yang melakukan isolasi mandiri yang tidak dikontrol. “Banyak yang meninggal karena karena mereka tidak lapor RT atau puskesmas. Saat saturasi oksigen menurun, penanganan menjadi terlambat,” ungkapnya. 

Sumadi menambahkan, Pemda DIY siap menyalurkan bantuan sosial (Bansos) dalam bentuk uang, sembako, obat-obatan, dan vitamin ke masyarakat terdampak. “Kami mendapat lampu hijau dari pusat terkait penggunaan Dana Keistimewaan untuk penanganan Covid-19,” katanya. 

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Dr Sonny Harry menegaskan pentingnya perubahan perilaku masyarakat untuk mengendalikan pandemi. 

“Karenanya, sejak akhir tahun lalu pemerintah telah membentuk Duta Perubahan Perilaku yang mengajak partisipasi masyarakat agar mengedukasi sesama warga pentingnya mematuhi prokes, memahami risiko dan bahaya COVID-19,” ujarnya. 

Sonny menambahkan, sejak 7 Desember 2020 hingga hari ini (28/7/2021), jumlah Duta Perubahan Perilaku telah mencapai 107.980 orang, yang telah mengedukasi 55 juta orang. “Para Duta Perubahan Perilaku ini melibatkan mahasiswa, pramuka, ibu PKK, Satpol PP, tokoh agama dan masyarakat, penyuluh KB/sosial yang bekerja secara sukarela,” jelas Sonny.  

Para Duta itu telah membagikan 17,2 juta masker kepada masyarakat. Selama PPKM Darurat hingga PPKM Level 4 telah ada penambahan Duta Perubahan Perilaku 13 ribu orang yang direkrut, dilatih, dan diterjunkan ke masyarakat. Hasilnya sekitar 2,7 juta orang telah mendapatkan edukasi langsung. 

Duta Perubahan Perilaku yang tersebar di 34 provinsi dan 427 kabupaten/kota berkontribusi untuk meningkatkan angka kepatuhan protokol kesehatan di masyarakat, khususnya dengan pemberlakukan PPKM sejak 3 Juli hingga kini.  

Di kesempatan yang sama, Dokter Konsultan RSDC Wisma Atlet, dr Andi Khomeini Takdir SpPD-KPsi, mengatakan bahwa sebagai dokter bukan hanya membantu dan merawat pasien di RSDC Wisma Atlet, tapi juga berusaha mengurangi jumlah pasien yang dirawat di RS. “Tujuannya adalah bagaimana agar kurva pandemi selandai mungkin. Untuk itu perlu dilakukan upaya preventif promotif,” katanya. 

Guna lebih meningkatkan pemahaman masyarakat dalam membantu mengendalikan pandemi, Khomeini menyarankan perlunya penambahan Duta Perubahan Perilaku di tiap daerah. “Kemenangan-kemenangan kecil bisa diraih. Ada titik terang di ujung lorong. Dibutuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk bersama mengatasi pandemi. Dengan menerapkan sila ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia, hal ini akan berikan hasil yang baik,” pungkasnya. (jat) 

Leave A Reply

Your email address will not be published.