Berita Nasional Terpercaya

Peta Kekuatan Tim Menjelang Perempatfinal Euro 2020

0

JAKARTA, BERNAS.ID – Perhelatan akbar sepakbola Eropa (Euro 2020) telah separuh jalan dan beberapa nama unggulan seperti Spanyol dan Prancis telah pulang lebih awal. Lantas siapa saja delapan tim yang tersisa dan bagaimana peta kekuatannya? Apakah nama-nama tradisional seperti Italia dan Inggris mampu melaku ke babak selanjutnya? Ataukah tim-tim dengan sejarah yang kurang bersinar seperti Ukraina dan Swiss mampu menciptakan kejutan?

Babak perempat final Euro 2020 dimulai malam ini, Jumat (2/7). Berikut adalah ulasan singkat yang disiapkan tim Bernas.id.

 

Swiss: Si Penakluk Prancis

Swiss merupakan salah satu kuda hitam yang berhasil mengejutkan penikmat sepakbola di seantero dunia ketika mereka mempercundangi Prancis di babak 16 besar Euro 2020. Sempat unggul satu gol di awal babak pertama melalui gol yang dicetak oleh Haris Seferovic, Swiss keteteran di awal babak kedua. Pemain veteran Prancis, Karim Benzema, menyumbang dua gol dan maestro lini tengah yang bermain untuk klub Manchester United, Paul Pogba, mencetak satu gol untuk Les Bleus.

Ketinggalan dua gol, Swiss tancap gas dan membuktikan mereka layak bersanding di 8-besar Euro 2020. La Nati mencetak dua gol di menit akhir melalui Seferovic dan pemain pengganti, Mario Gavranovic.

Pertandingan kemudian berlanjut ke babak perpanjang waktu dan akhirnya adu penalti. Di sini, mentalitas pemain Swiss dan kecemerlangan kipper Yann Sommer memaksa juara dunia Prancis untuk pulang lebih awal.

Di babak perempat final yang ditayangkan pada pukul 23.00 WIB jumat (2/7), Swiss akan bertemu dengan mantan juara Eropa tahun 2008 dan 2012, Spanyol. Ini pertama kalinya Swiss mencapai babak perempatfinal di sebuah perhelatan akbar setelah sebelumnya mendapat pencapaian serupa saat mereka menjadi tuan rumah di Piala Dunia 1954. Hal ini tentu saja menjadi motivasi tersendiri bagi Xherdan Shaqiri dan kawan-kawan untuk membuktikan kepada dunia bahwa mereka mampu bersaing dengan nama-nama tradisional.

Tentu saja ada faktor kelelahan yang dapat menjadi katalis permainan malam ini. Spanyol memiliki waktu ekstra satu hari untuk beristirahat, karena La Furia Roja menuntaskan pertandingannya pada hari senin (28/6). Selain itu, Spanyol digadang-gadang oleh berbagai media dan pandit mampu mengulang kesuksesan mereka sembilan tahun yang lalu. Lantas, seberapa hebatkah Sergio Busquets dan kompatriot?

 

Spanyol: Mantan Jawara yang Sekarang Tumpul

Tidak ada Fernando Torres. Tidak ada Diego Costa. Spanyol punya Morata.

Pernyataan di atas dapat menjadi sebuah ironi ketika publik menilai bahwa Alvaro Morata belum mampu dipercaya menjadi ujung tombak La Furia Roja. Penampilannya terkesan biasa-biasa saja, meskipun Morata akhirnya mampu mencetak satu gol di pertandingan terakhir.

Selain Morata, nama lain yang menjadi perbincangan adalah sang kiper, Unai Simon. Penjaga gawang klub Athletic Bilbao ini dinilai tampil kurang meyakinkan di bawah mistar. Unai Simon bahkan mencetak sebuah momen komedi ketika dirinya gagal mengantisipasi umpan belakang dari Pedri yang berbuah pada gol pertama bagi Kroasia di babak 16-besar.

Lantas, seperti yang ditanyakan di atas, seberapa hebatkah timnas Spanyol di ajang Euro 2020?

Spanyol mungkin tidak memiliki nama-nama besar dan reputasi seperti yang mereka punya di tahun 2012. Akan tetapi, Spanyol membuktikan bahwa mereka mampu meladeni intensitas keras permainan Kroasia, finalis Piala Dunia 2018. Kembalinya Sergio Busquets ke dalam skuat juga menjadi suntikan tambahan bagi Spanyol karena mereka telah sebelumnya kehilangan figur senior seperti Sergio Ramos yang harus menepi karena cedera.

Di atas kertas atau ditilik dari peringkat FIFA, Spanyol tentu saja diunggulkan. Akan tetapi, babak perempatfinal ini bisa dianggap tidak lebih dari sekedar pemanasan, baik bagi Spanyol atau Swiss. Hal ini dikarenakan pemenang dari pertandingan ini akan menghadapi salah satu dari Belgia atau Italia. Tentu saja, itu bukanlah pertandingan yang mudah.

Baca juga: Messi Gratis, Barcelona Menangis

 

Belgia: Generasi Emas Mencari Validasi

Belgia mencoba menghindari mimpi buruk mereka, setelah sebelumnya tersingkir di perempat final Euro 2016 dari Wales. Kali ini, Belgia akan bertemu dengan lawan, yang di atas kertas, lebih berat dibandingkan dengan Gareth Bale dan kompatriot.

Tentu saja generasi emas The Red Devils memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Eden Hazard dan kawan-kawan telah memenangkan 11 dari 13 pertandingan terakhir mereka, mencetak 32 gol, dan hanya kebobolan delapan. Lebih lanjut, Belgia hanya menelan sekali kekalahan dari 27 pertandingan terakhir mereka. Kekalahan itupun hampir dua tahun silam ketika melawan Inggris di Wembley.

Selain itu, lini depan Belgia yang dipimpin oleh striker Inter Milan, Romelu Lukaku, telah menunjukkan produktifitas yang mencengangkan dengan tidak pernah gagal mencetak gol di 34 pertandingan terakhir mereka. Terakhir kali mereka gagal mencetak gol adalah saat mereka menelan kekalahan 1-0 dari Prancis di semifinal Piala Dunia 2018.

Sebagai salah satu kandidat juara piala Eropa 2020, tentu saja Belgia harus mampu menaklukkan Italia di babak perempat final yang digelar sabtu dini hari nanti (3/7). Permasalahannya, Italia bukanlah tim yang mudah ditaklukkan sejak ditangani oleh Roberto Mancini.

 

Italia: Skuat yang Tak Terkalahkan

Pertandingan melawan Belgia akan menjadi laga ulangan bagi Italia, setelah sebelumnya Gli Azzurri mampu menaklukkan Kevin de Bruyne dan kawan-kawan di babak penyisihan grup di Euro 2016. Ini adalah pertandingan kelima antara kedua tim di turnamen besar dan Italia belum pernah kalah dari Belgia di empat pertandingan sebelumnya.

Dari kacamata publik Italia, kepercayadirian tengah membumbung tinggi karena timnas mereka telah memecahkan rekor nasional dengan memenangkan 12 pertandingan berturut-turut, mencetak 34 gol, dan hanya kebobolan satu.

Seperti Belgia, timnas Italia juga tidak terkalahan dalam kurun waktu yang cukup lama. Terakhir kali Italia menelan kekalahan adalah ketika mereka menghadapi Portugal pada bulan September 2018.

Dalam konteks Euro, ini adalah keempat kalinya berturut-turut Italia mencapai perempat final. Tiga penampilan perempat final terakhir mereka semuanya ditentukan oleh adu penalti – kalah dari Spanyol pada 2008, mengalahkan Inggris pada 2012, dan kalah dari Jerman pada 2016. Dengan kata lain, jika sejarah terulang, bisa jadi Gianluigi Donarumma menjadi penentu kiprah Italia di Euro 2020.

Meskipun terkesan sempurna, Italia bukanlah tanpa cela. Lini belakang mereka akhirnya kebobolan di pertandingan terakhir melawan Austria. Hal tersebut mengakhiri rekor 19 jam dan 28 menit mereka tanpa kebobolan. Menarik untuk melihat bagaimana eksplosivitas lini depan Belgia yang dihuni pemain sekaliber Lukaku, Hazard, dan De Bruyne mencoba menembus rapatnya benteng Italia malam ini.

Baca juga: Kemenag Melarang Pelaksanaan Salat Iduladha Berjamaah di Zona PPKM Darurat

 

Ceko: Menantang Hegemoni Ronaldo

Ceko dan Denmark merupakan definisi kuda hitam di medio 90an. Kalau Denmark mampu manjadi kampiun di gelaran 1992, Ceko merupakan finalis Euro 1996 yang tumbang di tangan Jerman. Akan tetapi, setelah lebih dari dua dekade berselang, keduanya memiliki peta kekuatan yang jauh berbeda.

Ceko tidak lagi memiliki nama besar seperti Davor Suker atau Milan Baros. Akan tetapi, Ceko punya Patrik Schick. Nama itu mungkin masih terdengar asing bagi penikmat sepakbola di tanah air, mengingat striker Ceko tersebut bermain untuk Bayer Leverkusen di Bundesliga yang kurang terdengar gaungnya di nusantara. Meskipun demikian, Schick mampu mencuri perhatian publik ketika mencetak gol dari tengah lapangan di pertandingan pertama fase grup melawan Skotlandia.

Saat ini, Schick telah mencatatkan empat gol atas namanya. Capaian tersebut dianggap cukup cemerlang mengingat Ceko bukanlah nama besar yang dijagokan melaju ke fase akhir Euro 2020. Nama-nama lain seperti Kylian Mbappe dan Harry Kane mungkin lebih menjual daripada Schick. Tetapi, pada kenyataannya, Mbappe tidak mampu mencetak satupun gol dan Kane bahkan baru mengemas satu gol atas namanya dari pertandingan terakhir.

Menariknya lagi, Schick hanya butuh mencetak satu gol lagi untuk menyamai megabintang Cristiano Ronaldo dalam hal capaian gol di Euro 2020. Ronaldo, yang telah mencetak 5 gol di perhelatan ini, sayangnya telah tereliminasi setelah Portugal kalah dari Belgia.  

Kendalanya adalah Schick dan kompatriot akan menghadapi Denmark yang terkenal tangguh di sisi pertahanan. Secara individual, Schick akan berjuang untuk mematahkan hegemoni Ronaldo; sedangkan secara kolektif, timnas Ceko haus akan prestasi yang nampaknya selalu luput dari genggaman mereka.

 

Denmark: Mengulang Sejarah 1992

Denmark dikenal dengan moniker Tim Dinamit karena prestasinya di Euro 1992. Pada saat itu, Denmark datang sebagai tim yang menggantikan Yugoslavia yang sedang dilanda perang saudara. Menariknya lagi, Denmark harus kehilangan pemain bintangnya, Michael Laudrup, karena cedera sebelum turnamen dimulai. Banyak yang jurnalis yang berpendapat bahwa Denmark hanya akan menjadi tim penghibur atau elemen pelengkap turnamen.

Anggapan itu tentu saja keliru karena Denmark pulang dengan membawa trofi juara. Sejak saat itu, Timnas Denmark menjadi acuan dalam penyebutan tim kuda hitam dalam sebuah turnamen.  

Timnas Denmark yang berlaga di Euro 2020 ini tidak jauh berbeda. Mereka harus kehilangan maestro lini tengah mereka, Christian Eriksen, di pertadingan pertama fase grup melawan Finlandia. Eriksen jatuh tak sadarkan diri di tengah lapangan dan sempat mendapatkan resusistasi jantung (CPR) oleh tim medis. Kejadian ini menjadi pukulan berat bagi Tim Dinamit dan mereka kalah melawan Finlandia dan Belgia di dua pertandingan fase grup.

Akan tetapi, mentalitas berbicara karena setelah menelan kekalahan tersebut, Denmark bangkit dan mulai menunjukkan tajinya di pertandingan ketiga. Seperti yang disampaikan di atas, kunci permainan Denmark pasca cederanya Eriksen adalah mentalitas dan kedisiplinan pertahanan. Lini belakang mereka dipimpin oleh Andreas Christensen yang baru saja memenangkan Champions League bersama Chelsea dan Kasper Schmeichel yang merupakan anak dari kiper legendaris Denmark, Peter Schmeichel.  

Dengan banyaknya kesamaan antara timnas Denmark yang berlaga di Euro 2020 dan Tim Dinamit yang menggondol trofi Euro 1992, sudah saatnyakah sejarah terulang? Kota Baku, Azerbaijan, akan menjadi saksinya. 

Baca juga: Kapolri, Jajarannya Mendukung Pelaksanaan PPKM Darurat

 

Ukraina: Tanpa Nama Besar

Hanya satu nama yang praktis cukup familiar di kalangan pecinta sepakbola di tanah air ketika mendengar nama pemain dan pelatih Timnas Ukraina: Andriy Shevchenko. Mantan striker AC Milan dan Chelsea itu sekarang menukangi Timnas Ukraina yang untuk pertamakalinya dalam 15 tahun masuk ke babak perempatfinal turnamen akbar. Terakhir kali Ukraina bermain di fase ini, sang manajer masih menjadi ujung tombak Zhovto-Blakytni.

Tentu saja ada nama-nama seperti Andriy Yarmolenko yang bermain untuk Everton di Liga Inggris dan Oleksander Zinchencko dari Manchester City yang berlaga di partai final Liga Champions tahun ini. Tetapi tanpa keduanya, Timnas Ukraina didominasi oleh pemain yang berlaga di liga domestik.

Yang lebih miris lagi, selain tanpa diperkuat tanpa nama besar, adalah lini belakang dari tim berseragam kuning ini. Dalam konteks putaran final Piala Eropa, Ukraina menelan 7 kekalahan kali dalam 10 pertandingan yang telah mereka mainkan. Selain itu, Ukraina selalu kebobolan dalam 10 pertandingan tersebut. Bahkan, anak asuhan Andriy Shevchenko hanya mampu mencatatkan 2 clean sheet dalam 13 laga terakhir.

Tugas amat berat menanti Zinchenko dan kawan-kawan di Roma pada hari Minggu (4/7) dimana mereka harus menghadapi Timnas Inggris yang sedang dalam performa terbaiknya. Tapi hal ini bukan ini bukan berarti bahwa Ukraina hampir pasti harus pulang lebih awal. Inggris sempat dijungkalkan oleh Wales di Euro 2016 yang notabene adalah tim dengan reputasi yang kurang lebih sama dengan Ukraina. Bisa jadi kali ini adalah saatnya Ukraina bangkit dan melangkah lebih jauh.

 

Inggris: Penantian yang Tak Kunjung Berbuah

Sudah 45 tahun sejak Inggris merengkuh trofi internasional. Dengan pesatnya perkembangan liga domestik dan tren yang diciptakannya, tentu saja publik bertanya-tanya: kapan negara pencipta sepakbola modern akan menikmati kejayaannya lagi?

Timnas Inggris terkenal dengan tren semifinal. Piala Dunia 2018 serta Piala Eropa 1968 dan 1996 menjadi bukti bahwa semifinal merupakan momok bagi Inggris dan trofi masih jauh dari genggaman meskipun skuat yang dimiliki sudah sangat perkasa.

Kali ini, Inggris punya kesempatan untuk bisa meraih trofi dan merayakannya di depan publik sendiri karena final Euro 2020 akan digelar di Stadion Wembley, London. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Inggris mampu menghadapi Ukraina dan dua negara lainnnya yang menjadi penghadang kesuksesan The Three Lions?

Di atas kertas, Inggris jauh diunggulkan di babak perempatfinal ini. Skuat Inggris dihuni oleh pemain-pemain muda yang sudah menunjukkan kebolehannya di ranah kontinental seperti Mason Mount dari Chelsea, Phil Foden dari Manchester City, dan Jadon Sancho yang sebelumnya bermain untuk Borussia Dortmund. Merekapun menunjukkan bahwa usia bukan penghalang dalam memiliki mentalitas juara. Hal ini dibuktikan dengan penampilan solid mereka saat mengganyang Jerman 2-0 di pertandingan terakhir.

Kelemahan Timnas Inggris pun tampaknya sudah berhasil diantisipasi oleh sang pelatih, Gareth Southgate. Inggris tidak lagi takut untuk menghadapi babak adu penalti seperti saat melawan Kolombia di Piala Dunia 2018. Inggris juga tidak lagi terpaku pada formasi standar 4-4-2 yang telah mereka praktekkan selama berpuluh-puluh tahun. Merekapun tak malu untuk bermain pragmatis dan mengandalkan kemenangan dengan skor kecil seperti saat melawan Kroasia.

Apakah ini merupakan tanda berakhirnya penantian Inggris akan trofi? Selain Inggris, hanya Belgia dari lima besar ranking FIFA yang tersisa di Piala Eropa kali ini. Prancis dan Portugal sudah tersingkir. Spanyol, Italia, dan Denmark masih berada di lingkup sepuluh besar, tapi berada di bawah Inggris. Mungkinkah laga final di Wembley pada hari Minggu (11/7) menyajikan duel The Red Devils vs The Three Lions? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Baca juga: PPKM Darurat: Penumpang Pesawat, Kereta, Kapal Wajib Vaksin

Leave A Reply

Your email address will not be published.