Berita Nasional Terpercaya

Kisah Ahmad Saifudin Mutaqi, Lahirkan Mahakarya dan Ajak Arsitek untuk Merdeka

0

BERNAS.ID – Sebagai seorang arsitek, Ahmad Saifudin Mutaqi telah melahirkan karya-karya kenamaan di Yogyakarta, dan bahkan luar negeri. Ia juga memimpin Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Daerah Istimewa Yogyakarta selama dua kali periode secara berturut-turut.

Sebagai seorang dosen, dia selalu berharap ilmunya dapat bermanfaat. Namun yang terpenting, para penerus adalah menjadi sosok arsitek yang merdeka.

Bagaimana pria yang kerap disapa Uut ini merintis aktivitas profesionalnya di dunia arsitektur? Berikut kisahnya.

Berdarah Seni

Ahmad lahir dan besar di Kebumen, Jawa Tengah. Ia besar di lingkungan keluarga seniman yang gemar melukis, membuat sketsa, dan seni visual lainnya.

Baca Juga: Kisah Dokter Sekaligus Penulis Dito Anurogo, dari Hobi Menulis hingga Melenggang ke Luar Negeri

Dari situlah, darah seni mengalir dalam tubuhnya sehingga ia memutuskan untuk kuliah arsitektur di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

“Nah, itu (darah seni) klop pada saat saya memilih sekolah kemudian diterima di UGM, lalu mengembangkan diri,” katanya kepada Bernas.id.

“Terbentuknya menurut saya, saat saya sekolah di arsitektur UGM,” imbuhnya.

Ahmad mengaku sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja, bahkan nilainya juga tidak tinggi. Dia justru banyak menghabiskan waktu sebagai aktivis kampur.

Ia lebih menyukai perannya di bidang kemahasiswaan seperti mengadakan pameran, kegiatan mahasiswa, menulis di majalah, dan sebagainya. Ketika kuliah, ia bahkan berhasil mengadakan kegiatan yang mengumpulkan mahasiswa arsitektur se-Indonesia pada 1983-1984.

Selain aktif di dunia kemahasiswaan dan kuliah, Ahmad juga kerja sampingan. Menurutnya, ia bukan mahasiswa yang kutu buku yang selalu belajar.

“Saya sudah bekerja sejak zaman mahasiswa. Bukan mahasiswa kutu buku yang belajar terus, saya juga punya pengalaman proyek ketika itu,” ujarnya.

Merancang Seperti Ibu Hendak Melahirkan

Terus mengasah diri hingga menghasilkan mahakarya yang terkenal, Ahmad menyebut merancang bangunan seperti layaknya seorang ibu yang mau melahirkan anaknya.

Artinya, ia selalu memberikan yang terbaik sehingga memiliki keseimbangan, bukan sebagai karya yang harus menonjol ketimbang yang lainnya.

“Jadi seperti seorang ibu mau melahirkan anaknya, tentu kan dia berusaha untuk makan yang baik maka anak yang di dalam kandungan kan juga dapat makanan yang baik juga, dan ketika lahir, anak itu harus juga dipelihara,” jelasnya.

“Kemudian bagaimana anak itu akan bisa hidup di tengah-tengah masyarakat,” imbuhnya.

Baca Juga: Perjalanan Profesor Suhono, Guru Besar ITB yang Jadi Sosok di Balik Smart City di Indonesia

Menurut Ahmad, seperti itulah kiasan yang tepat untuk menggambarkan setiap hasil karya seorang arsitek sehingga bangunan tersebut bisa diterima oleh masyarakat.

“Sehingga kehadiran bangunan yang kita lahirkan ini tidak jadi alien di tengah-tengah masyarakat, tapi jadi bagian yang mewarnai masyarakat,” ujarnya.

Dengan prinsip itulah maka ia telah menghasilkan karya seperti Jogja International Hospital (JIH), Club House Adisucipto Golf Course, dan Perpustakaan Universitas Islam Indonesia yang dibangun di atas Candi Kimpulan (ditemukan pada saat pembangunan).

Karya di luar negeri sepeti Indonesian Guesthouse di Qadian, Punjab, India, dan merancang Islamic Center di Rangsit , Bangkok, Thailand

Salah satu karyanya adalah JIH. Terletak di Jalan Ring Road Utara No.160, Yogyakarta, Ahmad ingin menghadirkan suasana rumah sakit yang menyenangkan dan nyaman. Dia berpendapat rumah sakit seharusnya bukanlah bangunan yang mengerikan, penuh bau obat, lorong gelap, dan tempat yang menyeramkan.

“Kita ciptakan yang bagus, menggugah emosi orang jadi senang, baunya juga bukan bau obat,” katanya.

“Itu supaya orang jadi cepat sembuh, makanya bahasa Inggrisnya hospital, itu kan hospitality,” imbuhnya.

Mahakarya Perpustakaan

Suatu hari, Ahmad yang merupakan arsitek sekaligus proyek pembangunan perpustakaan di UII menerima kabar bahwa penggalian untuk proyek tersebut terantuk struktur bangunan.

Ternyata, bangunan itu adalah kompleks candi. Sebuah hal yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Langkah pertama yang harus diambil ketika itu adalah berdiskusi dengan pejabat rektorat dan pihak yayasan Badan Wakaf UII.

“Mereka coba dilihat dulu seperti apa sehingga konsekuensi melihat dulu ini menjadikan pekerjaan konstruksi berhenti,” katanya, mengingat kembali peristiwa di bulan Desember 2009.

Baca Juga: Kisah Roby Ikhsan, Putra Aceh yang Mencintai Teknologi, Kini Berkarier di Kanada

Akhirnya diputuskan untuk menghubungi Badan Pembantu Penyelenggara dan Pembangunan (BP3). Para arkeolog dan pihak terkait kemudian melanjutkan penggalian.

Mereka melakukan penelitian terhadap candi, yang kemudian di beri nama Kimpulan, sesuai dengan nama dusun di daerah itu. Tantangan selanjutnya bagi sang arsitektur adalah mengubah rancangan bangunan.

“Ternyata tinggal setengah gedungnya, ujungnya kita harus memproses lagi gedung kita mau menjadi seperti apa,” katanya.

“Jadi banyak cara yg kita lakukan dan eksplor, yang akhirnya kita menemukan konsep melingkar itu,” imbuhnya.

Sebagian area direlakan menjadi kawasan pelestarian peninggalan sejarah. Pada area dinding yang menghadap ke candi ditutupi dengan cermin sehingga memberi kesan mirroring.

“Itu merupakan mirroring, tinggal separuh massa pembangunan itu kita mirror, kita cerminkan, malah menjadi barang utuh dan unik, ketemunya ada lingkaran,” ucapnya.

Karya yang Martabat

Principal Architect di PT Architama Cipta Persada ini juga aktif dalam kepengurusan IAI Yogyakarta. Dua kali memimpin asosiasi ini, Ahmad menyebut kegiatan ini bersifat kerelaan, pengkhidmatan, dan pengorbanan.

Keikutsertaanya dalam IAI supaya profesi arsitek dapat dihargai oleh masyarakat sehingga harus diperjuangkan. Apalagi, profesi ini baru dilindungi oleh undang-undang pada 2017 silam melalui UU Arsitek No.6 Tahun 2017.

“Salah satu cara memperjuangkan itu adalah bergabung dengan asosiasi karena asosiasi profesi itu yang paling diutamakan adalah kode etik profesi dan tata laku arsitek,” ujarnya.

Dengan adanya etika dalam praktik, menurutnya, seorang arsitek akan melahirkan karya-karya yang bermartabat dan bukan karya yang serampangan atau asal-asalan.

“Dengan adanya UU, maka semua orang akan berhimpun di asosiasi ini, berarti semakin baik kalau para arsitek berhimpun di IAI,” katanya.

Saat ini, Ahmad juga menjadi salah satu kandidat Ketua Umum IAI. Dia memiliki visi untuk menjadikan IAI sebagai rumah keadaban praktik arsitek yang berkemajuan bersama menyatukan sinergi hadapi tantangan peradaban masa depan.

Dia juga membawa misi mengokohkan pranata organisasi merespons perubahan norma baru dan menghasilkan sinergi pemangku kepentingan berarsitektur.

Menjadi Arsitek yang Merdeka

Dalam kehidupan sehari-hari, dia selalu membawa makna hidup harus bermanfaat bagi orang lain. Baginya, selama segala hal yang dia lakukan dapat memberi manfaat, maka itu sudah lebih dari cukup.

Sebagai seorang arsitek, dia selalu berharap bangunan hasil buah karyanya dapat berguna bagi masyarakat. Selain itu, dia juga mengajar sehingga ilmu yang ia bagikan tidak akan berakhir.

“Pengabdian yang lain banyak tergantung kebutuhan masyarakat seperti apa karena di sisi yang lain saya juga ngajar,” katanya.

“Ilmu itu tidak akan ada berakhirnya meskipun sudah mati, dan ilmunya memberi manfaat,” imbuhnya.

Ahmad juga mengingatkan kepada generasi muda agar tidak membayangkan menjadi arsitek itu akan kaya raya. Menurutnya, arsitek yang menyenangkan adalah yang bisa membangun pribadi yang merdeka.

Ada tiga kemerdekaan seorang arsitek. Pertama, jangan sampai merasa terjajah oleh kapitalisme korporasi  dan uang.

Baca Juga: I Kadek Dian Sutrisna Artha, Siswa Teladan Jurusan IPA yang Berubah Haluan Jadi Ekonom

“Di situ adalah tantangan, karena ada yang berpikir jadi arsitek golek duwit (cari uang). Kalau arsitek itu makanya dapatnya bukan fee, tapi honorarium, honor, itu kan artinya penghargaan yang tinggi,” jelasnya.

Kemerdekaan yang kedua bagi seorang arsitek adalah merdeka dari penggiringan publik, artinya arsitek harus bisa memberikan pencerahan bagi masyarakat. Seorang arsitek bukan yang digiring oleh klien. Yang ketiga adalah seorang arsitek harus merdeka dari nafsunya sendiri. Inilah tantangan yang paling tinggi.

“Saya mengajak komunitas, kalau mengakhiri suatu pertemuan dengan 'Salam Arsitek, Merdeka',” ujarnya menirukan salam penutup dalam pertemuan komunitas arsitek.

Leave A Reply

Your email address will not be published.