Berita Nasional Terpercaya

Kisah Margareta Astaman, Asa Jadi Penulis hingga Bawa Buah Lokal ke Pasar Global

0

BERNAS.ID – Mangga, manggis, dan salak, buah yang kerap kita lihat di toko buah pinggir jalan, pasar, dan swalayan. Karena sering menemukan buah-buah tersebut, terkadang kita bosan untuk mengonsumsinya.

Padahal, buah itu justru jadi primadona di luar negeri. Inilah yang dilirik Margareta Astaman dan kedua temannya hingga akhirnya mereka mendirikan PT Nusantara Segar Global atau dikenal sebagai Java Fresh.

Java Fresh adalah perusahaan eksportir yang telah membawa buah-buah lokal Nusantara ke 19 negara di dunia. Bagi Margareta, masyarakat Indonesia sangat beruntung karena dapat menikmati kesegaran buah tropis yang matang di pohon.

Sementara penduduk negara-negara di Eropa, tidak bisa merasakan sensasi itu. Kini, dengan menggandeng lebih dari 3.000 petani, Java Fresh ingin mengubah wajah pertanian Indonesia agar dikenal dunia karena kualitasnya.

Baca Juga: Kisah Nurul Taufiqu Rochman, Gaungkan Nanoteknologi untuk Kemajuan Indonesia

Meski sukses memasarkan buah-buah lokal ke pasar global, perjalanan karier Margareta penuh dengan lika-liku karena sebelumnya ia bercita-cita menjadi seorang penulis.

Kisah Merancang Asa

Ketika berusia tiga tahun, Margareta masih ingat ketika ayahnya kerap membacakan buku cerita untuknya. Hal itu membuat Margareta kecil begitu terpesona dengan para penulis yang mampu membagikan cerita.

“Aku sangat terpesona dengan pekerjaan sebagai penulis itu karena aku anak yang lahir di wilayah tropis ini bisa membayangkan musim dingin di Inggris,” katanya.

Kepada Bernas.id, ia mengungkapkan cita-cita awalnya adalah menjadi “tukang cerita”. Kemudian setelah belajar menulis, ia menyadari hal tersebut sebagai cara yang mudah untuk membagikan cerita. 

Namun, asa itu terpatahkan ketika ada orang bilang menjadi penulis atau wartawan tidak akan memiliki penghasilan yang besar. Akhirnya, dia mencoba mengubah cita-cita.

Mendengar pernyataan orang jika menjadi pengusaha bisa menghasilkan uang lebih banyak, akhirnya dia berubah haluan dengan berharap suatu saat menjadi pengusaha.

Sejak itu, akhirnya dia menulis cerita dalam buku kecil kemudian menjualnya ke teman-teman dan saudara. Margareta juga sempat berjualan pulpen.

“Kadang-kadang ambil pulpen reject dari pabrik, kemudian aku jual ke teman-teman, dengan iming-iming kalau dalam satu hari itu pulpennya rusak bisa ganti 100%,” ujarnya.

“Jadi saya punya datanya, dari satu batch pulpen itu, berapa yang reject,” imbuhnya.

Baca Juga: Endah Saraswati, Seniman Multitalenta yang Sukses Populerkan Campursari

Suatu saat, cita-cita menjadi pengusaha terpatahkan lagi ketika orang bilang jika menjadi wirausaha itu butuh modal besar. Belum lagi, omongan yang menyebut seseorang bisa menjadi pengusaha jika orangtua atau kakek neneknya juga seorang pengusaha.

Melihat ayahnya yang merupakan seorang karyawan, Margareta akhirnya mengubur cita-cita tersebut. Kemudian dia bertanya apa karier yang cocok untuknya di masa depan.

Akhirnya, ia memilih menjadi insinyur. Dengan belajar fisika dan matematika, ia yakin bisa meraih itu. Saat SMA, ia memilih jurusan IPA hingga mengikuti olimpiade biologi. Namun, keinginannya sebagai insinyur goyah karena satu hal yakni pelatihan jurnalistik.

“Sampai saya ingat banget waktu SMA ada pelatihan jurnalistik, yang ikut hanya beberapa saja. Saya salah satu yang ikut,” ujarnya.

“Ternyata senang ya, keliling-keliling, wawancara orang. Aku mau kerjaan yang kayak gini. Kalau bisa melakukan pekerjaan ini seumur hidupku, aku akan menjadi orang yang paling bahagia di seluruh dunia,” ucapnya ketika itu.

Singkat cerita, dia berkesempatan untuk kuliah di Nanyang Technological University atau NTU di Singapura. Dari Jakarta, dia masih dengan membawa asa menjadi seorang penulis, tapi kemampuannya diragukan.

Margareta lebih unggul di bidang IPA ketimbang menulis. Namun, setelah melewati beberapa tahapan akhirnya dia bisa mengambil jurusan jurnalistik di fakultas komunikasi dan informasi.

“Kemudian diminta wawancara ulang di Singapura, diterima dan sekolah di jurusan jurnalistik. Ternyata pas kuliah ternyata kerjanya cuma membaca dan menulis, melakukan hal-hal yang aku suka,” tuturnya.

Ketika lulus kuliah pada 2008,  ia juga fokus menjadi pekerjaan yang kaitannya dengan jurnalistik. Ia pun berhasil menjadi country editor untuk MSN Indonesia. 

Kerap menulis blog, kemudian dia “berjodoh” dengan sejumlah penerbit buku hingga akhirnya telah menghasilkan 6 buku dengan namanya sendiri.

Orang Paling Labil

Berganti cita-cita hingga berhasil mewujudkan asa masa kecil sebagai penulis, Margareta banting setir jadi pengusaha melalui Java Fresh, yang didirikan pada 2014.

Dengan perjalanan karier yang berubah-ubah, ia bahkan menyebut dirinya sebagai orang paling labil di dunia. Pada awalnya, dia tidak pernah terpikir akan menjadi pengusaha karena sudah nyaman dengan profesi penulis.

“Salah satu yang aku suka dari menulis adalah aku bisa menyampaikan ide, pemikiran, atau nilai-nilai yang aku percayai benar, yang mungkin orang lain punya pandangan yang berbeda,” jelasnya.

“Tapi kemudian mereka jadi mempertanyakan pandangan mereka dan sampai pada kesimpulan pandangan mereka baik atau benar, dan dengan pemikiran yang lebih mendalam,” imbuhnya.

Semuanya berubah ketika suatu hari ia berkumpul dengan teman kuliahnya, Robert Budianto, yang kelak juga salah satu Co-Founder Java Fresh. Dari obrolan temu kangen itu, mereka sampai pada topik tentang buah segar.

Baca Juga: Kisah Irma Sustika, Buktikan Perempuan Indonesia Bisa Berdaya secara Ekonomi

Mereka mengagumi buah segar impor yang cenderung memiliki bentuk dan warna yang seragam, kemasan yang menarik, dan selalu ditaruh di lemari pendingin swalayan, serta dijual dengan harga relatif stabil.

Sementara di Indonesia, buah kerap dijual secara curah tanpa kemasan yang menarik, belum lagi jika tercampur yang sudah busuk dan penyok. Buah lokal juga cenderung memiliki harga yang naik turun, yang kadang bisa sangat mahal.

“Padahal ketika di luar negeri, buah-buah dari negara tropis seperti Thailand dan Brasil, justru jadi buah yang dihargai, dianggap dari tempat yang jauh, jadi harganya mahal, kualitas dan rasanya istimewa,” katanya.

“Kenapa kita nggak berpikir sebaliknya, berusaha membawa sesuatu yang baik dari Indonesia, disortir jadi premium, dan dipasarkan ke negara-negara yang selama ini mengirimkan kita barang (impor),” imbuhnya.

Dari obrolan itulah, perjalanan karier Margareta akan berubah, yang semula menjadi penulis kemudian berganti menjadi entreprenuer.

Tim Java Fresh

Memulai Ilmu Bisnis dan Buah dari Nol

Pengalaman berbisnis Margareta hanya diperoleh ketika berjualan tulisan dalam buku kecil dan pulpen. Suatu ketika, ia dihadapkan pada usaha yang memiliki cita-cita besar.

Setelah melewati obrolan dengan Robert, Margareta memiliki tugas untuk mencari suplai di sekitar Pulau Jawa. Sementara Robert, kembali ke China untuk melihat potensi pasar.

Ketika berburu suplai langsung dari petani, Margareta mengajak Swasti Adicita, teman SMA-nya yang memang hobi jalan-jalan.

“Kita jalan-jalan keliling cari buah manggis. Ketemu sama petani, belajar dari mereka kemudian sampai pada kesepakatan mau ekspor dengan kualitas tertentu, dan jalan bersama-sama,” ucapnya.

“Kemudian berhasil dan bergulir terus sampai sekarang,” tambahnya.

Akhirnya, Margareta, Robert, dan Swasti mendirikan Java Fresh pada 2014. Nama Java Fresh dipilih karena lebih mudah diucapkan dan lebih singkat. Buah yang diekspor juga kebanyakan berasal dari Pulau Jawa.

Awalnya, banyak yang meragukan Indonesia sebagai negara pengekspor buah karena misalnya saja buah manggis biasanya berasal dari Thailand dan Vietnam.

Baca Juga: Kisah Julius Widiantoro, Anak Desa yang Menjelma Jadi Brand Strategist Merek Kenamaan

Setelah berkeliling dan menemukan petani buah, langkah selanjutnya adalah menentukan standarisasi buah yang diekspor. Menurut Margareta, buah-buah tropis di Indonesia memiliki kualitas yang bagus, hanya saja belum memiliki standar baku.

Kepada petani, ia dan tim juga menjelaskan kenapa perlu standarisasi buah agar bisa diekspor. Dengan begitu, petani bisa memahami langkah yang harus diambil untuk menghasilkan buah-buah tersebut.

“Teman-teman petani sudah mengerjakan 20-30 tahun, mereka tahu cara terbaik memperlakukan buah itu. Kita hanya membakukan praktik baik yang ada di lapangan,” ujar Margareta.

Meski mendulang kesuksesan melalui Java Fresh, Margareta memulai usahanya tersebut dengan kesulitan. Tentu saja, awalnya ia belum paham dengan dunia bisnis dan terlebih lagi buah-buahan. Tapi ia tidak pernah berhenti belajar.

“Buat aku semuanya susah, karena mulai dari nol, nggak mengerti juga soal buah-buahan. Tantangannya ketika menawarkan produk ke luar negeri, banyak negara yang belum melihat Indonesia sebagai negara pengekspor buah,” tuturnya.

Tantangan dan Cita-cita Besar

Java Fresh tumbuh sekitar 40% tiap tahun dengan omzet tahunan bisa mencapai Rp30 miliar per tahun. Meski begitu, masih ada tantangan yang harus dihadapi.

Menurut Margareta, banyak negara yang belum melihat Indonesia sebagai negara pengekspor buah, bahkan mereka mempertanyakan standarnya. Namun perlahan, hal tersebut bisa diatasi.

Tantangan selanjutnya adalah biaya logistik yang masih mahal dibandingkan dengan negara lain. Ini memang benar karena pada Maret 2021, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut biaya logistik indonesia mencapai 23,5% dari Produk Domestik Bruto atau PDB.

Angka itu memang jauh lebih tinggi ketimbang biaya logistik di negara kawasan Asean, termasuk Malaysia yang tercatat hanya 13% dari PDB.

Margareta mengatakan pelabuhan ekspor di Indonesia masih berpusat di Jawa, yakni Jakarta dan Surabaya. Seperti diketahui, Java Fresh menggandeng ribuan petani dari berbagai wilayah di Tanah Air seperti Sumatra Barat, Jawa Barat, Yogyakarta, Bali, dan Sulawesi.

“Ongkos transportasi kita lebih tinggi ketimbang negara lain. Itu yang kemudian harga produk kita justru lebih tinggi ketimbang Thailand, Kolombia, atau Brasil,” katanya.

“Tantangannya, untuk membeli barang dari negara yang belum mereka kenal sebelumnya, tapi harganya lebih tinggi. Jadi ada strategi pemasaran yang lebih keras,” imbuhnya.

Kesulitan lainnya adalah pertanian di Indonesia yang belum berbentuk hamparan, artinya petani memiliki lahan yang isinya berbagai banyak pohon buah.

Baca Juga: Kelik Pelipur Lara, Melawak Sejak SD hingga Sukses Jadi Wakil Presiden Republik BBM

Untuk mengumpulkan kuota ekspor, maka harus bekerja sama dengan banyak petani di Indonesia. Koordinasi menjadi sangat menantang, apalagi ada 3.000 petani yang digandeng Java Fresh. Dari jumlah tersebut, sebanyak 790 petani yang kebunnya telah teregistrasi di Java Fresh. 

Waktu terus berjalan, tapi Java Fresh selalu membawa misi yang sama yakni ingin mengubah wajah agrikultur Indonesia, sebuah cita-cita besar yang mungkin diraih 20-30 tahun ke depan.

“Sekarang mereka sudah kenal manggis dari Indonesia, tapi kita mau lebih dari itu. Ketika bicara buah Indonesia, mereka bisa mengidentifikasi itu sebagai kualitas,” ujarnya.

“Mereka jadi bisa melihat itu sebagai buah yang berkualitas, dan bukan mempertanyakan manggis Indonesia,” katanya.

Kini, Indonesia termasuk lima besar sebagai negara pengekspor buah manggis. Kebanyakan dikirim ke China, Thailand, Vietnam, Singapura, Arab Saudi, Oman, Amerika, Australia, dan beberapa negara di Eropa.

Selain manggis, buah lain yang diekspor adalah slak, jeruk purut, kelapa, buah naga, sirsak, markisa, dan durian.

Margareta dan tim di Java Fresh selalu menekankan nilai-nilai seperti faith in humanity, bahwa setiap manusia adalah baik dan luhur, serta mempunyai kemampuan berkembang terlepas dari suku, agama, ras, golongan, dan gender.

“Saya ingin melihat ketika kita bersatu seperti ya Indonesia, kita bisa panen setahun penuh, kita punya kekuatan,” ucapnya.

“Untuk mempekerjakan manusia secara manusiawi supaya petani kita tidak bilang 'saya cuma petani'. Tapi ya karena saya petani, jadi petani itu keren,” tuturnya.

Nilai berikutnya adalah grow together, artinya berkembang secara bersama-sama, saling berbagi ilmu, dan keahlian baru. Nilai yang terakhir adalah adapt to change, yakni menyambut perubahan dengan semangat.

Baca Juga: Cerita Tony Sukentro: Dokter Bedah Seperti Tentara, Harus Siap Kapan Pun

“Kita senang melakukan riset, kita punya pusat riset sendiri. Mereka para petani merasa ini sesuatu yang baru,” katanya.

Sebelum kehadiran Java Fresh, sebagian hasil panen buah para petani memang sudah diekspor. Namun, mereka tidak tahu bagaimana perlakuan buah tersebut di luar negeri sehingga tidak ada kebanggaan.

“Pokoknya jual saja ketika itu. Tapi akhirnya tidak ada kebanggaan yang disematkan ke produk tersebut karena mereka tidak tahu perlakuan terhadap buah tersebut, apakah dijual mahal, dijual murah, diperlakukan istimewa atau enggak,” jelasnya.

Merayakan Kebodohan

Sepanjang kariernya, Margareta mengaku mengawalinya sebagai orang yang berpengetahuan sedikit, seperti misalnya ketika ia memulai menulis ketika mulai kuliah, dan kemudian merintis bisnis.

Banyak yang menyentilnya, namun ia justru merayakan “kebodohan” di setiap titik dalam hidupnya. Dengan begitu, ia dapat menempatkan diri sebagai orang yang belum berilmu kemudian memperoleh pengetahuan baru dari banyak orang.

“Aku punya kesempatan belajar, mengejar ketertinggalan, kemudian bangga menjadi bodoh. Tapi yang salah kalau malu karena bodoh kemudian jadi minder,” katanya.

“Buat aku, aku selalu merayakan kebodohanku,” imbuhnya.

Berinteraksi dengan petani dan sumber pangan di Tanah Air membuat Margareta menyadari Indonesia bisa menjadi lumbung pangan atau lumbung buah dunia.

“Buat aku, harapanku supaya Indonesia nanti bisa ngasih makan dunia,” ujarnya.

Merayakan Sekitar

Perempuan yang murah senyum ini juga berharap agar masyarakat Indonesia merayakan apa yang ada di sekitar, seperti buah, sayur, kerajinan, dan kesenian.

Terkait buah, ia menemukan fakta jika buah tropis seperti manggis dan salak dari Indonesia diperlakukan istimewa. Bahkan ketika Natal, buah tersebut dipajang di meja makan atau menjadi hiasan.

“Sebegitunya, padahal buah itu di sini dianggap sebagai buah terminal, buah murah, buah rakyat jelata, sementara di sana diperlakukan spesial,” ujarnya.

Menurutnya, penduduk Indonesia mendapatkan keistimewaan dari buah-buah tropis yang dapat dinikmati langsung dari pohon. Sementara negara lain, tidak mungkin merasakan buah tropis yang matang dari pohon.

“Karena ketika diekspor, kita nggak bisa petik itu matang pohon karena kalau sampai di sana keburu rusak,” tuturnya.

Baca Juga: Kisah Ahmad Saifudin Mutaqi, Lahirkan Mahakarya dan Ajak Arsitek untuk Merdeka

“Tapi kita punya buah yang lebih oke, rasa lebih baik, kenapa kita nggak menikmati itu dibanding sebaliknya, kita malah makan apel yang nggak mateng pohon,” ucapnya.

Ya, apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia, dengan lebih dari 17.000 pulau. Iklim tropis dan tanah subur membuat Indonesia memiliki banyak buah-buahan eksotis.

Kita tidak boleh mengabaikan potensi yang luar biasa dari hasil pangan di negeri sendiri, untuk kemudian  membagikannya ke seluruh dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.