Berita Nasional Terpercaya

Kisah Rini Haerinnisya, “Dibajak” Berbagai Perusahaan hingga Jadi Professional Life Coach?

0

BERNAS.ID – Tidak pernah terbersit dalam benak Rini Haerinnisya jika suatu saat dia akan mendalami karier sebagai seorang professional life coach, yang berfokus pada wellbeing, kepemimpinan perempuan, kecerdasan emosional, dan komunikasi.

Memperoleh gelar Professional Certified Coach dari ICF, ia mengawali karier di agensi periklanan multinasional. Dari situ, dia terus tumbuh mengembangkan diri dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, dengan karier yang berbeda.

Memperoleh posisi yang tinggi di perusahaan membuatnya tersadar, perempuan yang berada di top position memiliki dampak yang besar. Perempuan mampu membuat kebijakan untuk kemajuan perusahaan, sekaligus menginspirasi perempuan lainnya.

Rini juga tercatat sebagai Co-Founder dan Women Coach di Women of Indonesia, yang menjadi penghubung, kolaborator, dan penguat dalam upaya mendukung perempuan Indonesia untuk meraih impian.

Baca Juga: Dari Garasi Rumah, Mooryati Soedibyo Rintis Usaha Jamu dan Produk Kecantikan yang Kini Mendunia

Berkarier selama 15 tahun dengan berada di dunia coaching selama 6 tahun, Rini bersama kawan-kawannya mendirikan Hasta Communications, sebuah agensi humas yang berbasis di Jakarta.

Bagaimana kisah Rini dalam mewujudkan impian dan merintis kariernya? Berikut selengkapnya.

Refleksi Anak 9 Tahun

Rini lahir dan dibesarkan di Jakarta Selatan. Dia tumbuh selayaknya anak-anak lainnya yang bermimpi besar. Pada usia 9 tahun, dia masih ingat momen ketika sedang kerja bakti sekolah. Ia dan teman-temannya ngobrol tentang cita-cita. 

“Ada yg ingin kerja di PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa), nggak tahu ngapain, kumpul sama semua negara satu meja. Idenya adalah bekerja bersama multinegara dan multikultural, representing Indonesia. Akhirnya (bercita-cita) ingin masuk PBB. Habis itu nggak kepikiran lagi,” ucapnya kepada Bernas.id.

Setelah itu, hari-hari Rini berjalan seperti biasanya. Ia tetap sederhana dan tidak ingin menyusahkan orangtua. Dia selalu memilih sekolah yang dekat dengan rumah, paling tidak bisa ditempuh dengan hanya naik bus sekali.

Ketika SMA, pergulatan hidup Rini selanjutnya adalah terkait pilihan karier yang akan mempengaruhi kuliahnya. Awalnya, dia terpikir untuk menjadi psikolog. Tapi setelah tahu menjadi psikolog harus melalui kuliah yang panjang, ia mengundurkan niatnya.

Alasannya, karena ia ingin kuliah yang cepat sehingga bisa segera bekerja dan berkreasi, tapi dengan profesi yang tidak perlu baju rapi. Akhirnya pilihan jatuh ilmu komunikasi dengan konsentrasi studi periklanan di Universitas Indonesia pada 1999.

“Saya tipenya nggak suka bergaul, tapi suka mengajar, jadi lumayan buat sampingan. Akhirnya ambil komunikasi. Tapi melihat kalau komunikasi massa itu serius-serius, kalau humas kayaknya santai, lebih lifestyle. Saya masuk tengah-tengah, yaitu periklanan yang lebih seru.,” ujarnya.

Selama kuliah, ia menjalani semester-semester awal dengan tidak serius. Dia merasa belum perlu untuk belajar serius. Namun, apa yang dilakukannya ternyata membawa dampak yang tidak baik.

Baca Juga: Kisah Margareta Astaman, Asa Jadi Penulis hingga Bawa Buah Lokal ke Pasar Global

Pada mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi, ia harus kecewa karena memperoleh nilai C. Tapi Rini tidak menyerah. Ketika semester 5, dia mengulang mata kuliah tersebut dan berhasil menjadi salah satu yang terbaik.

Suatu ketika, dia mendapat hadiah berupa buku dari profesornya. Buku itu berjudul High Tech, High Touch oleh John Naisbitt. Ada catatan pendek yang berharap agar dirinya terus berkarya di dunia ilmu komunikasi.

“Saya nggak kepikiran karena inginnya kerja di iklan, copywriter, strategic planner, tapi nggak ada yang nerima. Kerja di iklan pun yang awalnya menerima saya lebih ke divisi event atau PR (Humas),” tuturnya.

Dari situ, karier Rini semakin menanjak hingga ia berada di titik merefleksikan kembali tentang cita-citanya di usia 9 tahun. Saat itu, dia sedang ikut coaching. Sang guru menyebut jika anak umum 9 tahun merupakan refleksi dari kehidupan di masa depan.

Meski menempuh pendidikan yang tidak membuatnya berkarier di PBB, tapi dia berhasil memperoleh kesempatan kerja dengan lingkungan yang multikultural, bertemu dengan orang-orang baru, dan itulah yang ia inginkan selama ini.

“Ini lingkungan kerja yang saya ingin, semuanya terbuka. Ini ciri-cirinya sama (dengan PBB), tapi mungkin labelnya yang beda,” katanya.

Karier dan Perempuan Memimpin

Sebelum lulus kuliah, Rini sempat mengalami ketakutan tidak bakal memperoleh pekerjaan. Ia memutuskan untuk mengirim banyak lamaran pada kuliah semester 7. Mendapat beberapa panggilan, akhirnya ada satu yang menurutnya jelas jobdesk-nya.

Tapi pada saat yang sama, dia mendapat kesempatan menjadi asisten dosen. Dia berupaya untuk melobi HRD perusahaan tersebut agar bisa bekerja di sana sekitar tiga bulan lagi.

Rini menyelesaikan kuliahnya pada 2003. Singkat cerita, ia berhasil memperoleh pekerjaan pertamanya setelah menyelesaikan tugasnya sebagai asdos, yakni sebagai visit merchant. Dia bertugas untuk memeriksa Standar Operasional Prosedur (SOP).

“Kerjaan pertamanya visit merchant, jadi mystery shopper. Saya anak kuliahan gitu,  nggak punya duit, terus dikasih kartu kredit, visit restoran terkenal pada masa itu,” tuturnya.

Di perusahaan tersebut, dia juga belajar banyak hal dari menangani event, marketing communication, humas, dan sebagainya. Di situ, Rini sempat satu kantor dengan aktor Tora Sudiro, yang kala itu menjadi Account Executive.

“Dulu diomelin sama Tora karena kerja terus, jadi disuruh main-mainlah,” ujarnya.

Hasrat Rini untuk terus berkembang dalam karier profesional membawanya berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. 

Apa sebenarnya alasan Rini memilih untuk terus mengembangkan sayapnya di tempat yang berbeda?

“Setelah saya belajar life coaching, saya jadi tahu bahwa salah satu value saya adalah learning atau growth, jadi selama saya bisa belajar sesuatu yang baru, yang penting bagi saya untuk merasa tumbuh,” jelasnya.

Baca Juga: Kisah Irma Sustika, Buktikan Perempuan Indonesia Bisa Berdaya secara Ekonomi

Sepanjang kariernya, Rini belum pernah mengirimkan lamaran dengan ijazah. Kebanyakan, dia “dibajak” oleh bosnya yang pindah ke perusahaan lain, atau oleh klien yang puas dengan kinerjanya.

Ia bahkan pernah diminta untuk memilih jabatannya sendiri di perusahaan. Di satu sisi, itu merupakan keuntungan karena bisa mendefinisikan sendiri jabatan yang tepat. Tapi, ia berpikir hal lain.

“Tapi saat yang sama aku nggak akan tumbuh kalau paling expert. Kalau lama di situ, aku akan toxic karena akan sok tahu, sok pintar, dan sok kuasa,” ujarnya.

Rini meyakini pencapaian dalam karier diperoleh karena orang lain percaya dengannya. Tentu saja, kesempatan itu tidak ia sia-siakan. Dia menjadi bagian dari women leadership program yang membuat pikirannya semakin terbuka terhadap pribadi perempuan.

Ia menyadari selama ini perempuan tidak pernah membawa identitasnya sendiri, melainkan selalu identik dengan identitas suami, anak, bahkan perusahaan.

“Seiring aktivitas program perempuan, komunitas digital, saya sadar merasa di lingkungan pekerjaan jadi lumayan expert. Sempat cross division kayak sales, marketing, corporate communication, dan sebagainya,” jelasnya.

Pernah suatu ketika, ia mengunjungi sebuah SMP di Ujung Kulon. Di sana, ia memaparkan vision board agar anak-anak mau mengungkapkan mimpi mereka. Ada seorang murid perempuan yang malu-malu ketika ditanya tentang cita-cita.

Kemudian, seorang siswa berceletuk bahwa murid perempuan tersebut hanya akan berakhir di rumah dan menunggu seorang pria untuk menikahinya. Menurut Rini, ini merupakan sesuatu yang miris.

Baca Juga: Endah Saraswati, Seniman Multitalenta yang Sukses Populerkan Campursari

Meski demikian, dia menyadari alasan di balik itu bukan semata-mata karena kemiskinan. Jarak rumah dengan SMA saja sudah sangat jauh sehingga orangtua mengkhawatirkan keselamatan anak-anak perempuan jika harus meneruskan sekolah ke tingkat lebih tinggi.

“Kesempatan perempuan untuk jadi leader sudah terkikis sejak dini. Bahkan kalau di top position, kita nggak aware. Dulu saya gitu, yang penting dibawa happy dan berpikir untuk keluarga sendiri. Tapi kita lupa sebenarnya apa yang kita lakukan punya impact yang besar, bukan hanya tim kita, tapi bisa jadi dari policy atau aktivitas yang kita jalanin,” jelasnya.

Rini pernah juga mendapat kesempatan untuk memimpin divisi consumer service dengan 6 orang staf yang harus melayani 2,5 juta konsumen. CS bukan hanya tentang melayani konsumen yang komplain, tapi bagaimana membangun engagement dengan pelanggan.

Kemudian, dia mengubah Key Performance Indicator atau KPI untuk CS. Perubahan itu dari yang sebelumnya dinilai berdasarkan siapa yang paling cepat melayani komplain pelanggan menjadi yang paling lama melakukan engagement communication. Membangun engagement dengan konsumen bisa dilakukan dengan berbagai saluran, seperti media sosial.

Learn, Love, Laugh

Bicara tentang teknologi digital, pandemi memang membawa perubahan dalam kehidupan pekerjaan. Work from home membuat pekerja menjadi terbiasa menggunakan alat komunikasi virtual, seperti Zoom. Menurutnya, teknologi bukanlah tentang teknologi itu sendiri, melainkan tentang manusia. 

“Ini bukan tentang Zoom karena kita sudah familiar. Tapi kalau di kampung lebih familiar sama WhatsApp video, ya lakukan dengan WA, jangan Zoom. Jadi kembali lagi tentang manusianya,” ucapnya.

Hal itu yang sama dengan coaching. Menurutnya, melatih seseorang itu bukan membawa orang tersebut ke dunia sang pelatih, melainkan sebaliknya. Manusia adalah manusia, dan bertumbuh adalah bagian dari diri manusia.

“Kalau ada beberapa hal yang kita merasa  nyaman, kita lupa kalau nyaman itu ancamannya adalah growth kita yang nggak bergerak,” katanya.

Baca Juga: Deasy Andriani, Tinggalkan Karier di Ibu Kota dan Dirikan Olifant School di Jogja

Menjadi coach, menurut Rini, bukan berarti berhenti belajar. Justru seorang coach harus punya nilai untuk terus belajar bahkan hingga saat ini. Ia juga selalu menekankan pentingnya learn, love, and laugh, yang menjadi kompas dalam hidupnya. Ketiga situasi itu bukan dicari, tapi diciptakan.

Selain coaching, kini Rini sedang merintis agensi humas bernama Hasta Communication dengan menggandeng beberapa temannya.

“Tugasku memastikan kalau tim aku happy, klien juga akan happy,” tuturnya.

Rini tercatat sebagai Certified Professional Coach lulusan Loop Institute of Coaching, NLP Master Practitioner, Professional Certified Coach dari International Coaching Federation (ICF), member dari Richard Bandler’s NLP Society Worldwide dan memiliki lisensi dari Yoga Alliance International.

Leave A Reply

Your email address will not be published.