Berita Nasional Terpercaya

Sumbu Filosofi DIY Terus Digaungkan

0

YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Dinas Kebudayaan DIY, melalui Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi terus berupaya mensosialisasikan penanda sumbu filosofi kepada masyarakat Yogyakarta. Sosialisasi dilakukan kepada masyarakat di 11 kelurahan dari Kelurahan Gowongan di kawasan Tugu hingga masyarakat Kalurahan Panggungharjo, atau sekitar Kandang Menjangan Krapyak.

“Hanya 11 kelurahan atau kalurahan yang masuk kawasan sumbu filosofi hanya di situ. Kita belum masuk ke kawasan Imogiri atau makam raja-raja Mataram yang juga masuk sumbu filosofi,” kata Kepala Seksi Edukasi, Humas, Monitoring dan Evaluasi Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi, Dinas Kebudayaan DIY, Yohannes, Minggu (3/10/2021).

Yohanes mengatakan, konsep sumbu filosofi sebenarnya sudah ada sejak awal, jauh sebelumnya, atau sejak pangeran Mangkubumi. Hanya untuk maju ke DIY sebagai warisan dunia yang diakui UNESCO nanti itu harus ada penamaan yang lebih bisa diterima oleh mereka masyarakat Barat sekaligus tidak asing oleh masyarakat Jawa. Masyarakat Barat tidak mengenal filosofi. Sedangkan masyarakat Jawa juga belum banyak tahu mengerti cosmology axis atau sumbu filosofi.

“Sehingga ini menjembatani, kenapa namanya sumbu filosofi menjadi jembatan antara UNESCO dengan pemahaman dunia barat yang tidak mengerti filosofi dengan masyarakat kita yang tak ngerti kosmologi. Maka kita keluarkan itu. Karena menjadi nama baru tentu kita harus mengenalkan masyarakat meski tata nilai sudah ada dari dulu. Paraning dumadi nyawiji greget sungkuh ora mingkuh itu sesuatu sudah ada. Anak muda sekarang tak kenal kita kenalkan dulu,” papar Yohanes.

Diakui oleh Yohanes cukup sulit mengenalkan sumbu filosofi yang kental dengan nilai-nilai luhur. Butuh proses panjang upaya pengenalannya. Yang paling mudah untuk dimengerti adalah melalui penanda terlebih dahulu, seperti Tugu kenapa bisa ada, Kepatihan, Pasar Beringharjo, Kraton, Tamansari, Alun-alun, dan Krapyak, ditambah dengan makam raja-raja di Imogiri.

Baca juga: Sumbu Filosofis Jogja Harus Bebas Macet

Pihaknya sudah mengajukan sumbu filosofi tersebut ke UNESCO dan sudah ada informasi agar DIY menyelesaikan peta untuk menyelaraskan kembali gambar supaya UNESCO bisa memahami dan menentukan batas-batasnya. Rencana Februari tahun depan akan dilihat di bagian mana kekurangannya dan bagaimana seharusnya.

“Penanda sedari awal sudah ada antara Panggung Krapyak ke Kraton mengandung tata nilai sangkaning dumadi, Tugu ke Kraton paraning dumadi. Makanya diberi pemahaman baru kosep baru paraning dumadi atau proses daur hidup manusia dari kelahiran sampai meninggalnya nanti,” ujar Yohanes sambil menyebut nilai-nilai itu sudah lama ditinggalkan masyarakat. (den)

Leave A Reply

Your email address will not be published.