Berita Nasional Terpercaya

Kisah Perjalanan Hidup Mindiarto Djugorahardjo Sang “Selling Therapist”

0

BERNAS.ID – Mindiarto Djugorahardjo tak menyangka kegiatan pada masa kecilnya terkait penjualan akan menjadi karier dalam hidupnya. Ia tidak pernah bermimpi sebagai seorang sales.

Namun selama 22 tahun, ia berkarier di dunia sales, dari seorang salesman hingga operational director. Setelah cukup kenyang bekerja di perusahaan orang lain, ia mendirikan perusahaan konsultan penjualan dan pemasaran bernama Force One pada 2001. 

Jauh sebelum berada di dunianya sekarang, Mindiarto sudah bersentuhan dengan aktivitas jual-beli. Sang ibu berjualan masakan matang di pasar. Setiap hari, ia membantu ibunya melayani pelanggan. Dari aktivitas itu, ibunya mampu membesarkan 7 anaknya, termasuk Mindiarto, yang telah bertransformasi menjadi seseorang yang kompeten.

Baca Juga: Kisah Riant Nugroho, dari Anak Kecil Tanpa Mimpi hingga Jadi Spesialis Kebijakan Publik

Kini, Mindiarto menyebut dirinya sebagai selling therapist. Lalu, bagaimana kisah perjalanan hidupnya hingga berada di titik sekarang? Berikut selengkapnya.

Bantu Sang Ibu

Mindiarto Djugorahardjo dilahirkan di Bandung, 24 Juni 1959. Ia dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Ia terjun ke dunia sales karena faktor lingkungan. Diawali ketika ia masih duduk di kelas 2 SD hingga SMP.

Ia kerap membantu ibunya berjualan masakan lauk matang di pasar. Paginya, ia membantu mengolah makanan seperti menggoreng lauk, kemudian ia juga melayani pelanggan yang membeli dagangan sang ibu.

“Ibu saya dari jualan sayur itu bisa untuk makan dan menutupi biaya rumah tangga dengan 7 anaknya,” katanya kepada Bernas.id.

Anak ke-5 dari 7 bersaudara tersebut selanjutnya meneruskan sekolah di STM Negeri Bandung. Pertimbangan orangtua kala itu sangat simpel, biaya sekolah lebih murah dan dapat segera bekerja setelah lulus.

Kakak-kakaknya perlahan sudah bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Dari situ, pengeluaran keluarga menjadi lebih ringan. Ia pun mendapat kesempatan untuk meneruskan pendidikan tinggi.

Namun, nasib baik belum menghampirinya sebab ia gagal masuk perguruan tinggi dengan jurusan yang menjadi incarannya. Ia mengincar jurusan arsitek, mengingat ia punya hobi menggambar.

“Akibatnya, lulus STM, sambil kerja, kemudian dapat kesempatan kuliah lagi di teknik mesin, karena kalau STM paling cocok ke teknik mesin,” ujarnya.

Menjadi Salesman

Sambil kuliah di Akademi Teknik Mesin Industri, yang kemudian dilanjutkan di Unisba Bandung, ia bekerja di outlet aksesoris variasi mobil. Tempatnya bekerja jadi semacam basecamp karena banyak teman-temannya yang sering nongkrong dan ngobrol di sela-sela jam kerja.

Ternyata, teman-temannya itu bekerja sebagai salesman. Dari situ, ia menganggap profesi salesman sangat menyenangkan. Akhirnya, dia mendapatkan tawaran menjadi salesman di sebuah perusahan.

Tapi, apa yang dilihatnya tidak senyaman apa yang dirasakan selama ia menjadi salesman. Perusahaannya bekerja menerapkan American Style yang hampir membuatnya tidak pernah beristirahat.

“Tak seindah apa yang dilihat, rumput tetangga lebih indah. Kan gagasan pertamanya ketika saya kerja di aksesoris mobil, tempat mangkalnya teman-teman sales kumpul siang hari, bisa ngobrol, kemudian pergi lagi,” tuturnya.

“Begitu saya masuk ke sales itu, ternyata perusahaan saya American style. Jadi totally different dari apa yang saya lihat dengan apa yang saya rasakan sebagai karyawan,” imbuhnya.

Meski demikian, ia menikmati dan mencintai pekerjaan. Meski awalnya, dia harus mengalami penolakan demi penolakan, dan tentu keberhasilan demi keberhasilan.

Baginya, penolakan terhadap salesman adalah hal yang biasa. Ia mengatakan selling tidak memiliki fakultas khusus di perguruan tinggi, seperti halnya ilmu lainnya. Penyebab kegagalan sales bisa dipengaruhi oleh teknik menjualnya yang tidak tepat.

Baca Juga: Kisah Avifi Arka Perjuangkan Hipnotis sebagai Profesi Mulia dan Memberi Manfaat Positif

Selama bekerja di perusahaan yang menerapkan American Style, Mindiarto belajar pemetaan sistem pelanggan, mulai dari yang kecil, besar, grosir, modern market, korporasi, dan sebagainya.

Setiap pelanggan itu memiliki karakteristik dan pola-pola tertentu, di mana terdapat persentase yang menentukan kemungkinan pelanggan akan membeli.

“Ada yang kemungkinan keberhasilannya 60%, artinya dari 10 pelanggan, 6 bisa berhasil, yang empat gagal, jadi perlu pemetaan pelanggan,” katanya.

Sementara itu, peringkat kesuksesan dalam menjual barang ke pelanggan baru hanya sebesar 33%. Dengan pemahaman seperti ini, maka setiap salesman sudah menyiapkan diri terjadinya penolakan. Dari segi filosofi, menjadi salesman butuh sikap yang pantang menyerah dan berpikir positif, serta memiliki pengetahuan. 

“Jadi kenapa sih pelanggan model begini, lalu bagaimana cara mengunjunginya, bagaimana cara jualannya. Bagaimana cara menentukan frekuensi kunjungan, mana yang harus sering, mana yang nggak sering,” jelas Mindiarto.

Selain itu, seorang sales juga harus memahami teknik presentasi, teknik komunikasi, dan teknik melayani. Seorang sales tentu wajib memahami berbagai jenis produk yang dijualnya.

Singkat cerita, dalam 9 bulan, ia sudah merasakan jenjang kariernya yang meningkat. Kerja kerasnya berbuah hasil, tidak seperti kawan-kawannya yang bertahun-tahun masih menjadi salesman.

“Kemudian saya diangkat menjadi supervisor, di situlah saya dapat doktrinasi kultur perusahaan dari pimpinan yang membuat mata saya terbuka,” ucapnya.

“Teman bekerja tiga tahun masih kerja jadi salesman. Kalau saya 5 tahun sudah jadi areal manager. Jadi sangat terbuka, ada kerja keras, ada karier,” imbuhnya.

Selling Therapist

Secara total, Mindiarto berkarier di dua perusahaan dengan 9 jabatan yang berbeda selama 22 tahun, mulai dari salesman sampai operational director. Pencapaian itu benar-benar ia raih dengan keringat dan kerja keras.

Dia tidak punya latar belakang keluarga kaya sehingga apa yang diperoleh sungguh berkat kegigihan dan sikap pantang menyerah. Setelah kenyang berkarier, ia mengundurkan diri untuk tujuan yang lebih besar. 

Tujuan itu adalah mendirikan perusahaan konsultannya sendiri bernama FORCE ONE Consultant, yang berbasis di Jakarta. 

“Nah, saya berpikirnya simple, saya bisa membesarkan perusahaan, bikin sukses perusahaan bisa, bikin untung perusahaan, masa sih bikin perusahaan sendiri nggak bisa,” katanya.

Dia meyakini untuk menjadi seorang pengusaha, ada tiga prinsip yang harus dipegang, yakni merintis usaha sesuai dengan latar belakang pendidikan, pengalaman, dan sesuai dengan hobi.

Kini, ia menjalankan usaha yang sesuai dengan pengalamannya selama 22 tahun di dunia selling. Namun, ia juga menjadi seorang konsultan dengan sebutan “selling therapist”.

Menurutnya, ada alasan khusus mengapa ia memilih julukan itu. Mindiarto perlu sebutan yang unik, sementara “terapis” merujuk pada pengobatan. Dengan begitu, ia merupakan orang yang mengobati terkait masalah dengan penjualan yang “sakit”.

“Kenapa salesman bisa gagal maning, gagal maning, yang itu berarti dia 'kesakitan'. Nah, saya terapisnya, mengobati dalam hal penjualan sebagai seorang konsultan,” jelasnya.

Mindiarto juga aktif berorganisasi dan sempat menjadi Ketua Harian Asosiasi Manajemen (AMA) Indonesia periode 2013-2017. Di sana, ia memperoleh banyak pengalaman dan menyadari bahwa ilmu itu tidak ada batasnya.

Setiap individu bisa belajar ilmu dari siapa saja. Selain mengasah kompetensi dari orang lain dengan beragam latar belakang, ia juga menjalin banyak koneksi baru.

“Kegiatan organisasi yang sifatnya itu bagian daripada pengabdian karena ternyata kita juga bisa bisa mendapatkan ilmu dan berbagi ilmu,” ujarnya.

Karya dan Pengabdian

Mindiarto juga sukses menghasilkan sejumlah karya seperti buku, salah satunya berjudul A-Z Sukses Dongkrak Motivasi. Dengan posenya yang unik di halaman depan buku, ia mencoba merangkul semua kalangan melalui karyanya.

Buku itu ia persembahkan bagi mereka yang tidak bisa mengikuti pelatihannya secara langsung, baik karena alasan kesempatan maupun biaya. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan-tulisannya selama mengisi rubrik selling di Majalah Marketing dan selama menjadi pembicara di radio.

“Motivasinya juga sebagai bukti sebuah legenda itu bisa untuk saudara-saudara kita yang ingin belajar tentang isi dari buku tersebut,” ujarnya.

Selama pandemi, ia tidak pernah berhenti untuk berkarya dan mengabdi. Ia menggelar kegiatan amal melalui webinar yang juga ditayangkan di saluran YouTube-nya. Webinar itu bertajuk “A-Z Ngopi”.

Ngopi merupakan kepanjangan dari Ngobrol Pinter. Acara tersebut telah diadakan sejak 3 April 2020, dengan total 350 webinar. Ada 170 narasumber yang terlibat dalam acara itu. Tujuannya adalah untuk berbagai pengalaman dan inspirasi kepada orang lain yang kesulitan di masa pandemi. 

Baca Juga: Kisah Frans Budi Santika, Si Introvert yang Bertransformasi Jadi Trainer Spesialis Komunikasi

Tidak hanya itu, ia juga mengadakan program SKM atau Semangat Kasih Makan, sebuah kegiatan membagi-bagikan makanan kepada sesama. Mindiarto punya hobi masak sehingga mulai dari belanja hingga masak, ia lakukan sendiri.

“Orang dikasih makanan bisa bahagia. Orang gak yang awalnya nggak mengerti kemudian dikasih ilmu juga jadi bahagia,” ucap Mindiarto.

Kepada generasi muda, ia berpesan agar menciptakan nilai-nilai yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Menjadi entrepreneur boleh-boleh saja, namun jangan melupakan sebuah proses. Melihat fenomena generasi yang cenderung lebih menyukai segala sesuatu yang instan, ia meyakini di dunia ini tidak ada yang instan.

“Proses tidak akan mengkhianati hasil, hasil itu diperoleh dari proses. Jadi seorang entrepreneur harus berproses,” tuturnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.