Berita Nasional Terpercaya

Masih Sulit Memaafkan? Coba Forgiveness Therapy agar Hidup Jadi Lebih Bahagia

0

BERNAS.ID – Memaafkan kesalahan orang lain memang sulit untuk dilakukan, namun itu bisa menjadi salah satu jalan melepaskan beban dalam diri. Yang tak kalah sulit dibandingkan memaafkan kesalahan orang lain adalah memaafkan diri sendiri.

Bahkan penelitian semakin menunjukkan manfaat dari sikap memaafkan yakni membantu seseorang menyembuhkan diri. Proses yang dilalui tak mudah, tapi setidaknya itu harus dicoba.

Jika bebannya sangat berat dan sesak, Anda barangkali membutuhkan bantuan. Salah satu metode hipnosis, forgiveness therapy bisa membantu Anda memaafkan segalanya.

Forgiveness therapy atau terapi memaafkan juga biasa dipakai dalam mengatasi beban perasaan yang dialami oleh korban bencana alam. Forgiveness therapy membantu untuk memaafkan situasi yang menimpa mereka, yang membuat mereka kehilangan harta benda bahkan keluarga.

Maaf Sejati

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai forgiveness therapy, mari kita dalami tentang arti memaafkan. Banyak yang beranggapan memaafkan atau mengampuni berarti melepaskan atau melupakan untuk bisa move on

Baca Juga: Hipnosis: Definisi, Sejarah, Cara Kerja, dan Manfaat bagi Kesehatan

Menurut psikolog di University of Wisconsin Bob Enright PhD yang meneliti tentang pengampunan selama puluhan tahun, memaafkan yang sejati sesungguhnya tak hanya sekadar melepaskan dan move on.

Mengutip dari American Psychological Association (APA), ia mengatakan pengampunan sejati menawarkan sesuatu yang positif yakni empati, kasih sayang, dan pemahaman. Harus diakui, masih banyak orang yang agak bingung dengan konsep tersebut. Kemudian muncul pendapat yang keliru bahwa memaafkan berarti membiarkan orang yang menyakiti Anda lolos begitu saja.

Harap dipahami, memaafkan tidak sama dengan keadilan dalam hukum, tidak juga membutuhkan rekonsiliasi. Profesor Psikologi di Virginia Commonwealth University, Everett Worthington, PhD mencoba menjelaskan hal tersebut. Misalnya, seorang korban kekerasan tidak boleh berdamai dengan pelaku yang tetap berpotensi berbahaya. Namun, dia masih boleh punya maaf.

“Apakah dia memaafkan atau tidak memaafkan, itu tidak akan mempengaruhi keadilan dalam hukum,” katanya.

Enright menambahkan, memaafkan adalah hal yang ajaib. Tidak ada yang salah apabila kita marah dengan seseorang, namun kemarahan yang sangat dalam dan berlangsung lama bisa berdampak buruk pada kesehatan.

“Ketika Anda menyingkirkan kemarahan, otot-otot Anda rileks. Kecemasan Anda berkurang, Anda memiliki lebih banyak energi, sistem kekebalan tubuh dapat menguat,” ujarnya.

Tujuan memaafkan tidak selalu untuk memulihkan hubungan atau mencapai rekonsiliasi. Namun, memaafkan untuk memulihkan kebahagiaan pribadi dan keseimbangan hidup.

Ilustrasi kelegaan. (Sumber: Pixabay/Fotorech)

Forgiveness Therapy

Mengutip dari Therapy Tribe, memaafkan adalah tentang penyembuhan diri dan pembebasan. Kita tidak akan menghabiskan banyak energi untuk memikirkan segala aspek negatif dari kehidupan.

Namun, tak jarang masih ada orang yang menyimpan kenangan menyakitkan selama bertahun-tahun, mengingat kenangan masa lalu yang masih menyakiti kita di masa sekarang.

Jika sulit memaafkan, Anda bisa meminta bantuan terapis untuk mengatasi kemarahan dan rasa sakit dengan peristiwa masa lalu. Melalui forgiveness therapy, Anda dapat dibantu untuk healing.

Baca Juga: Kisah Avifi Arka Perjuangkan Hipnotis sebagai Profesi Mulia dan Memberi Manfaat Positif

Menurut Ketua DPP Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia (PKHI) Avifi Arka, forgiveness therapy adalah terapi memaafkan yang tidak hanya memaafkan orang lain atau peristiwa, tapi yang paling penting adalah memaafkan diri sendiri.

“Karena selama dia nggak memaafkan, itu akan mengganjal. Ibaratnya, mau terbang tinggi tapi bawa ransel berat, ya nggak bisa ngebut naiknya,” katanya kepada Bernas.id.

Dari banyak klien yang pernah ia tangani, memang mengakui sulit untuk memaafkan. Avifi berpendapat, mereka yang sulit untuk mengampuni belum memahami maksud sesungguhnya dari pemaafan.

Ada beberapa penjelasan yang dia paparkan mengenai memaafkan, berikut selengkapnya:

Perumpamaan Menusuk Orang

Untuk menjelaskan mengenai efek belum bisa memaafkan, Avifi menggunakan perumpamaan tentang seseorang yang ditusuk oleh dengan pisau. Apabila ia tidak memaafkan insiden tersebut, itu artinya pisau masih menempel di tubuhnya.

Pelaku penusukan juga seakan masih memegang pisau itu, dan perasaan tersebut dibawa ke mana pun. Padahal sesungguhnya, si penusuk sedang berada di tempat lain dan bersenang-senang.

“Orang yang menyakiti justru happy, tapi orang yang ditusuk malah sebaliknya. Itu analoginya kayak orang tertusuk pisau tapi belum dilepas,” ujarnya.

Rasa Sakit Berkali-kali

Selanjutnya, Avifi menyebut tak jarang orang hanya menyakiti satu kali, namun dampaknya bisa berkepanjangan kepada orang yang disakiti. Misalnya, seorang karyawan dimarahi bos.

Tindakan itu hanya dilakukan sekali, namun masih berbekas sehingga ketika melihat orang lain yang memakai baju sama dengan si bos, ia masih merasakan sakit hati. Seperti itulah apabila belum bisa memaafkan. Seseorang yang menyakiti justru akan terus lengket pada diri kita.

Persepsi Memaafkan

Tentang persepsi memaafkan, Avifi kerap mempraktikkan analogi ini pada setiap kelasnya. Peserta biasanya diminta untuk memegang satu benda berat dengan menggunakan tangan kanan, misalnya benda itu adalah tas.

Sementara tangan kiri, memegang benda yang lebih ringan, misalnya pensil. Saat ditanya mana yang lebih, peserta dengan kompak menjawab tas. Kemudian, ketika ditanya mana yang lebih ringan, peserta akan menjawab pensil.

“Lalu saya bilang ke mereka, coba pegang 5 menit, tambah berat nggak? Pegang selama 1 jam pensil itu tambah berat nggak? Kalau satu bulan, satu tahun? Pasti tambah berat,” jelasnya.

“Jadi ini bukan tentang bobot atau beratnya, tapi tentang lamanya. Ini yang jadi masalah karena memori tentang kesakitan itu tertanamnya di bawah sadar, kita selama ini menyelesaikan di tataran sadar. Jadi nggak ketemu,” imbuhnya.

Baca Juga: Bagaimana Mengatasi Trauma Korban Bencana Alam Melalui Hipnoterapi?

Untuk melepaskan beban tersebut, maka harus masuk ke alam bawah sadarnya. Secara teknis, ada beberapa tahapan untuk melepaskan beban untuk bisa memaafkan, berikut selengkapnya:

Pertama, saat kita menjalani terapi, terapis biasanya akan menggali seseorang yang berjasa dalam hidup orang tersebut. Ini merupakan langkah untuk menurunkan ego pada diri.

“Mau pejabat sekalipun, kalau dimunculkan orang yang berjasa, egonya akan turun. Lalu saya minta untuk ucapkan terima kasih. Memang sengaja dinaikturunkan emosionalnya,” tutur Avifi.

Kedua, terapis akan “menghadirkan” orang yang paling menyakiti untuk nanti dimaafkan. Setelah ego diturunkan, terapis akan mencoba untuk menaikkan emosional orang tersebut.

Ketiga, terapis akan mengajak kita untuk memunculkan sosok yang pernah kita sakiti. Setiap manusia pasti pernah menyakiti orang lain.

Keempat, ini merupakan tahap melepaskan segala penyesalan, misalnya penyesalan atas peristiwa bencana yang merenggut harta dan keluarga. Menurut Avifi, penyesalan dapat merusak pikiran bahkan fisik.

Kelima, ini adalah puncak dari seluruh tahapan yakni mengingat kembali satu dosa yang pernah dilakukan kepada Tuhan. Kita akan diajak untuk memohon pengampunan dari Yang Maha Kuasa.

“Memang kita naik turunkan emosinya, kita tanamkan itu sehingga dia stabil,” katanya.

Forgiveness therapy ini juga cocok kepada korban bencana alam agar traumatik tidak menimbulkan psikosomatis, yang dapat mengganggu kesehatan fisiknya.

Manfaat Memaafkan

Sejumlah riset dalam psikologi positif menunjukkan hasil dari pemaafan yang berdampak positif bagi seseorang. Berikut manfaat dari memaafkan, seperti yang dikutip dari Positive Psychology:

  • mengurangi efek negatif dan gejala depresi
  • memulihkan pikiran positif
  • memulihkan sebuah hubungan
  • mengurangi kecemasan
  • menguatkan rasa menghargai diri sendiri
  • memiliki pengharapan yang lebih besar
  • memiliki kapasitas manajemen konflik yang lebih baik
  • memiliki kemampuan untuk mengatasi stres dan menemukan kelegaan

Tak hanya itu, memaafkan juga baik bagi kesehatan tubuh seperti menurunkan tekanan darah, meningkatkan sistem imun tubuh, dan meningkatkan kesehatan jantung.

Leave A Reply

Your email address will not be published.