Berita Nasional Terpercaya

Kisah Dodik Pujo Prasetyo, Dokter Nyentrik Pelopor Hipnosis di NTT

0

BERNAS.ID – Rambutnya gondrong sebahu berhiaskan ikat kepala daerah yang khas. Pergelangan tangannya dipenuhi gelang-gelang yang membuat penampilannya semakin nyentrik.

Tanpa jas putih, orang mungkin akan mengira dia bukanlah seorang dokter. Tapi nyanya Dodik Pujo Prasetyo adalah seorang dokter umum. Dia bertugas di RSUD Soe, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Pria penggemar mistis ini bisa dikatakan sebagai pelopor hipnosis di NTT. Rasa penasarannya terhadap hipnosis mempertemukannya dengan Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia (PHKI). Dia pun dipercaya sebagai Ketua DPW PKHI wilayah NTT.

Baca Juga: Kisah dr. Ramadhanus: Sempat Bilang Haram, Kini Sembuhkan Luka Batin dengan Hipnosis

Setelah mempelajari hipnosis, ia mampu membantu mengatasi kecemasan para orang yang mulai menua. Dia juga menggunakan hipnosis untuk membantu pasien di Unit Gawat Darurat agar tidak merasakan sakit.

Lalu, bagaimana perjalanan dan kiprah Dody dalam mengenalkan hipnosis di NTT? Berikut selengkapnya.

Menempel Uang di Baju

Dodik dilahirkan di Tulungagung, Jawa Timur. Karena pekerjaan orangtuanya yang berpindah-pindah, ia pun dibesarkan di beberapa tempat seperti Banyuwangi, Lamongan, dan Gresik.

Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi dokter. Ketika lulus SMA pada 1994, dia sempat mengambil ujian masuk perguruan tinggi negeri, namun tak lolos.

Namun, dia tidak menyerah untuk mengejar asanya. Dia memutuskan mendaftar di perguruan tinggi swasta. Ia pun diterima, namun biaya kuliah Fakultas Kedokteran waktu itu sangat mahal.

Ia pun berniat mengundurkan diri. Tapi yang namanya takdir, orangtua Dodik tak tega melihat sang putra harus berakhir dengan mengubur impiannya. Sehari sebelum penutupan registrasi ulang, orangtuanya memberi uang sebesar Rp7,5 juta untuk dibawa ke kampus.

“Saya dipaksa untuk berangkat bayar registrasi. Menurut saya sebelum krismon itu, saya kena Rp7,5 juta. Waktu itu mahal sekali,” katanya.

Kepada Bernas.id, ada yang lucu ketika orangtuanya mengantarkan uang tersebut. Dini hari pukul 03.00 WIB, ia dibangunkan oleh ayah dan ibu untuk segera mengantarkan uang biaya kuliah.

Baca Juga: Kisah Edward Henry yang Rela Jadi “Tempat Sampah” Para Remaja Melalui Hipnosis

Uang sebesar Rp7,5 juta itu ditempelkan pada baju dengan lakban karena sistem transfer belum semasif sekarang. Dodik pun merasa lebih aman pergi ke kampus untuk mengantarkan uang itu.

“Uangnya nempel di baju, terus saya disuruh jalan, karena takut saya dirampok atau bagaimana,” ucapnya.

Selama semester 1 dan 2, Dodik masih mengandalkan uang orangtua untuk membayar kuliah. Selanjutnya, ia menjadi lebih mandiri dan bisa membiayai kuliah dan kehidupannya sendiri.

Ia berbisnis walaupun awalnya tidak selalu berhasil. Dimulai dari bisnis menjual pakaian, namun gagal. Selanjutnya, ia sempat bisnis jual beli mobil. Kemudian dia mencoba peruntungan di bisnis jual beli ponsel bekas dan layanan jasa servis. Bisnis itu pun berhasil membuatnya lulus dan menjadi seorang dokter.

“Alhamdulilah, bisa sampai jadi dokter karena jual beli hape bekas, termasuk service,” tuturnya.

Dari Kupang ke Soe

Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran, ia pun melanjutkan tugasnya sebagai dokter pegawai tidak tetap di NTT. Ia memilih provinsi tersebut sebagai jembatan untuk mengambil spesialisasi.

Meski jauh dari daerah asalnya, ia cepat beradaptasi karena saking sering hidup berpindah-pindah sejak kecil. Dodik pun merasa nyaman di Kupang karena jauh dari kemacetan di Surabaya.

Awalnya ia sempat bekerja di RSUD Prof. Dr. W Z Johannes Kupang, namun dia dipindahkan karena PTT untuk pria harus di wilayah yang lebih jauh. Beruntung dia punya kawan di Kota Soe.

Sebagai informasi, Soe merupakan ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Letaknya sekitar 110 km dari Kupang, atau sekitar 185 km dari Atambua.

Sebelum sampai di Soe, dia banyak mendengar cerita jika daerah itu lumayan keras dengan kasus kriminal yang tinggi, seperti perampokan, pembunuhan, dan sebagainya.

Baca Juga: Kisah Mahendra Jaya, Pendeta Hindu yang Aktif Bantu Orang Lakukan Self Healing

Dia ditempatkan di sebuah puskesmas yang wilayahnya dilabeli dengan Kejadian Luar Biasa atau KLB, karena banyak penyakit seperti diare dan malaria. Belum lagi insiden kejahatan yang terjadi di daerah itu.

“Beberapa bulan saya di situ, saya jahit orang itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Awalnya mengaku sih jatuh, ternyata setelah membaik, dia adalah perampok yang sempat ketahuan lalu dimassa,” tuturnya.

Namun, Dodik tetap menikmati pekerjaannya sebagai dokter. Dia pun mengajak istri dan anaknya untuk tinggal di sana. Semuanya malah kerasan.

Misi di NTT

Suatu hari pada tahun 2017, Dodik membuka smartphone-nya dan Googling tentang hipnosis dan Uya Kuya. Sampai suatu saat, ia pun mendapat tawaran melalui ponselnya tentang pelatihan hipnosis.

Harganya yang cukup mahal membuatnya tertanya-tanya dan takut penipuan. Malam hari ketika selesai pengajian, ia mendapat telepon dari Ketua DPP PKHI Avifi Arka.

Ia pun mengiyakan untuk bergabung mengikuti pelatihan hipnosis di Kupang. Januari 2017, ia pun bertemu dengan Avifi di sebuah hotel yang dekat dengan rumahnya.

“Hotel tempat menginap Pak Avifi dekat dengan rumah saya di Kupang. Saya ragu, tapi malam saya datang,” katanya.

Sampai di lokasi, ternyata ia dan satu temannya mendapatkan pelatihan privat langsung dengan Avifi. Di balik itu, ada misi yang ingin dibawa yakni mengubah paradigma masyarakat tentang hipnosis dan mengenalkan hipnosis.

“Di NTT teryata belum ada, jadi satu orang pun yang ikut tetap diajarkan. Level 1 saya ikut, ernyata menarik juga,” ujar Dodik.

Baca Juga: Kisah AKP Gusti Komang Sulastra, Anak Petani Jadi Polisi Hingga Mendalami Hipnosis

Satu bulan kemudian, dia pun ikut pelatihan hingga level 2. Dodik makin mendalami hipnosis. Dia dipercaya sebagai promotor hipnosis di NTT hingga akhrinya menjadi Ketua DPW PKHI wilayah NTT.

Di tengah kesibukannya sebagai dokter, ia masih bisa menyediakan waktu untuk melayani klien yang ingin dihipnosis. Di tempat praktiknya, dia memasang banner menerima hipnoterapi dengan berbagai keluhan.

Tak jarang, sebagian besar pasiennya meminta untuk disembuhkan dengan hipnoterapi. Sebagai praktisi di bidang medis, ia meyakini semua dasar dari penyakit medis datang dari tigal hal, yakni perilaku, perasaan, dan pikiran. 

“Ada juga pasien yang minta hipnoterapi. Ada yang juga saya sampaikan, kayaknya sakit ini sebenarnya dari pikiran. Kalau pikiran kembalinya dr pikirannya juga, terapinya pakai pikiran, bukan obat,” jelasnya.

Penyembuhan hipnoterapi ini pun menyebar dari mulut ke mulut. Namun, Dodik masih menemukan masalah pada waktu. Tak jarang, jadwal temu dengan klien hipnoterapi kerap tidak pas dengan jadwal kerjanya. 

Menurutnya, sudah ada 50-an praktisi hipnosis di NTT. Namun, mereka masih belum percaya diri melayani klien, selain dari lingkungan keluarga dan pertemanan. Dia pun kewalahan dalam melayani para klien.

“Sudah banyak praktisi hipnoterapi, tapi untuk kita kasih pasien, rata-rata nggak ada yang berani. Padahal sosialisasi kami, sampai wakil gubernur ikut. Tapi tetap kalau dikasih pasien, sudah Dodik saja,” ujarnya.

Hipnosis di UGD

Dodik memanfaatkan hipnosis untuk membantu tugasnya sebagai seorang dokter. Dia melayani sunat tanpa anestesi, bahkan pasien yang nyeri hebat di UGD dapat diberikan hipnosis.

Banyaknya warga di Soe yang mengonsumsi alkohol, tak jarang mengakibatkan angka kecelakaan lalu lintas yang tinggi. Dia pun membantu mereka yang harus segera dioperasi dengan memberikan hipnosis terlebih dulu.

“Saya lakukan hipnosis dengan tidur, baru dijahit tanpa bius. Karena kadang dengan obat bius tidak efek bagi pasien yang alkoholik,” katanya.

Tak hanya itu, dia kerap mendapat pasien dari kalangan orang tua hingga lansia. Mereka merasa banyak penyakit yang berdatangan setelah menjadi tua.

Baca Juga: Kisah Lan Ananda, Tokoh Taekwondo di Bali yang Menekuni Hipnosis dan Hypnosport

Belum lagi, wilayah Soe dengan suhu yang paling tinggi membuat mereka kerap menyalahkan alam sebagai penyebab penyakit datang. Inilah yang ingin diubah Dodik. Dia berharap masyarakat menyadari tentang asal penyakit yang bermula dari perilaku, perasaan, dan pikiran.

Dia pun mengajarkan self-hypnosis atau hipnosis pada diri sendiri kepada para kliennya. Dengan begitu, mereka dapat mengobati kekhawatiran terhadap penyakit-penyakit.

“Saya ajarkan self-hypnosis, di mana dia bisa pulang melakukan hipnosis untuk dirinya sendiri. Itu yang saya terapkan selama ini,” ucapnya.

Kalau menerapkan bisnisnya bisa, artinya kalau sakit datang, kalau sakit datang. Tapi saya nggak suka hal gitu,” imbuhnya.

Berjuang Bersama

Dodik selalu mengajak para pasiennya untuk selalu berterima kasih pada setiap organ tubuh. Memang agak aneh bagi sebagian orang, namun begitulah cara untuk menghargai tubuh yang selama ini membantu kita.

Dia pun selalu berusaha untuk berbuat baik kepada siapapun. Dodik tak pernah memikirkan balasan yang diberikan orang lain pada dirinya. Dia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk membantu sesama.

Satu hal lagi, Dodik berharap teman-teman hipnoterapis di NTT dapat berjuang bersama-sama mengubah paradigma masyarakat terkait hipnosis dan mengobati mereka dengan hipnosis.

“Ayo teman-teman semua yang pernah bergabung dengan kami supaya bisa menerapkan ilmu, bukan hanya saya sendiri yang berjuang, tapi semuanya,” katanya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.