Berita Nasional Terpercaya

Warganet Berkicau tentang Kemiskinan

0

BERNAS.ID – Jejak digital bukan aib, melainkan kekayaan data. Hal tersebut diangkat oleh Drone Emprit yang dikembangkan oleh Media Kernels Indonesia atas inisiasi Ismail Fahmi PhD.

Pun demikian dengan kicauan-kicauan netizen di twitter tentang kemiskinan. Melalui Drone Emprit Akademik, dapat dipelajari mengenai tren pembicaraan kemiskinan di twitter. Kemiskinan merupakan salah satu dari tujuh belas cabang SDGs (Sustainable Development Goals) dimana Drone Emprit Akademik dibangun untuk mendukung SGDs tersebut.

Tercatat sebanyak 114.809 twit dengan menyertakan kata “kemiskinan” yang terjadi sejak akhir Mei 2021 hingga akhir Januari 2022. Puncak perbincangan dengan kata “kemiskinan” terjadi pada bulan Juni 2021. Pada akhir September 2021, perbincangan sempat menurun ke titik nol hingga menguat kembali pada Oktober 2021.

Ramainya topik kemiskinan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negeri jiran Malaysia. Dapat dilihat dari peta SNA (Social Network Analytics), pembicaraan di Malaysia dan Indonesia terjadi pada dua klaster yang terpisah. 

Pada peta SNA, terlihat bahwa percakapan pengguna di Malaysia cenderung berkumpul dan terpusat. Berbeda dengan pembicaraan oleh pengguna Indonesia yang cenderung menyebar dan tidak ada tokoh sentral yang benar-benar menjadi pusat perhatian.

Percakapan di klaster Malaysia, sentimen negatif lebih mendominasi dengan ditandai garis penghubung berawarna merah. Hal ini mengingat data yang ada, dari total mention yang terjadi, sentimen negatif terjadi pada dua per tiga jumlah total mention dan sepertiga sisanya adalah sentimen positif. 

Sedangkan pada klaster Indonesia, dari total mention yang terjadi, sentimen positif dan negatif berbagi dalam presentase yang hampir sama di kisaran 50%. 

Dari peta SNA pula, meskipun pengguna dari Malaysia tidak sebanyak pengguna dari Indonesia tetapi percakapan justru lebih “panas”. Peringkat pertama hingga keempat belas dari top influencer adalah dari akun-akun perbincangan di Malaysia. Peringkat berikutnya pengguna dari Indonesia kemudian banyak berbicara.

Tweet Kemiskinan di Indonesia

Peta SNA untuk klaster Indonesia lebih menyebar dengan pengguna yang lebih banyak dan beragam. Topik-topik yang berkembang menyertai isu kemiskinan pun beragam. 

Hashtag atau tagar yang menyertai tweet tentang kemiskinan pun lebih banyak dibangun oleh klaster Indonesia. Sebut saja #SDGS #ASKARAINDONESIA #KumhamBerbagi #KumhamPeduli #MulaiDariDesa #GanjarGercep #PapuaIndonesia #SDGsDesa #desabisa dan lain sebagainya.

Beberapa tokoh, media, dan organisasi di Indonesia juga tidak kalah dalam membicarakan tentang kemiskinan. Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, dengan potensi impact yang besar mengingat jumlah follower yang besar, di angka 2 jutaan. Didukung pula dengan dimunculkannya beberapa hashtag dengan menyematkan nama ganjar.

Di Bulan Desember 2021 dan Januari 2022, Ganjar Pranowo tercatat beberapa kali berkicau tentang kemiskinan. 

“Selain bantuan pembangunan RSLH, kita juga salurkan bantuan pemasangan listrik secara gratis. Dua hal itu memang kita prioritaskan karena jadi indikator penurunan angka kemiskinan,” demikian salah satu cuitan Ganjar Pranowo dengan menyertakan video aktivitas mengendarai motor ketika meninjau program bantuan listrik gratis untuk warga Desa Kamal, Brebes. Tweet ini telah di-retweet sebanyak 154 kali dan 27 kali balasan.

Selain Ganjar Pranowo, tercatat beberapa tokoh lain dengan potensi impact besar adalah Mario Teguh, Susi Pudjiastuti, Muhammad Said Didu, Dr. Rizal Ramli, Sandiaga Salahuddin Uno, Christ Wamea. 

Beberapa organisasi dan instansi pun berpotensi dalam memberikan impact pembicaraan tentang kemiskinan, semisal Kementrian Desa dan PDTT, Sekretariat Kabinet, Kementrian Keuangan, Kementrian Sekretariat Negara, dan beberapa akun partai politik.

Program pengentasan kemiskinan yang dirancang oleh pemerintah dapat dikomunikasikan ke publik salah satunya melalui media sosial. Dan di media sosial pula, dapat dilihat bagaimana respon baik positif, negatif, maupun netral dari masyarakat. 

Kekuatan akan publik figur dalam menyampaikan sebuah isu pun dapat diukur dengan keberadaan data tersebut. Sehingga, data jejak digital dapat dimanfaatkan untuk merancang kebijakan yang berkelanjutan.

(Penulis: Farid Nugroho, S.T., M.T. | Kaprodi Teknik Industri Universitas Mahakarya Asia)

Leave A Reply

Your email address will not be published.