Berita Nasional Terpercaya

Kisah I Wayan Mustika, Dokter yang Sukses Terbitkan Berbagai Buku Berkat Pesan Alam Semesta

0

Bernas.id – Ada banyak hal yang dilakukan oleh manusia untuk mencari makna kehidupan. Ada yang melakuan perjalanan ribuan mil, ada yang memilih mengasingkan diri di wilayah terpencil, atau berdiam diri di tempat ibadah.

Namun, lain halnya dengan I Wayan Mustika. Pria asal Bali yang berprofesi sebagai dokter ini justru menemukan makna kehidupan ketika dirinya menjalani pendidikan. 

Sebagai seorang manusia yang sejatinya selalu dipenuhi tanya, Wayan Mustika juga selalu dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan, seperti apa tujuan dirinya diciptakan di dunia ini atau siapakah Tuhan yang selama ini selalu disembah oleh manusia. Acapkali ia menemukan jawaban tersebut Wayan selalu menuliskannya hingga menjadi sebuah buku.

Salah satu contoh buku karya Wayan Mustika antara lain “Tuhan Segala Agama” yang membahas segala pertanyan tentang Tuhan. Nah, bagaimana, sih, kisah Wayan Mustika hingga sukses menjadi penulis sekaligus dokter? Berikut kisah Wayan Mustika yang telah dirangkum oleh tim Bernas.id:

Berawal Dari Keprihatinan

Menjadi seorang dokter bukan cita-cita utama Wayan Mustika. Namun saat ia mengantarkan saudaranya yang sedang jatuh sakit untuk berobat, Wayan Mustika merasa terketuk pintu hatinya untuk menjadi seorang dokter.

“Awalnya saya ingin jadi insinyur. Namun jelang UMPTN, saya mengantar saudara berobat ke dokter dan harus membayar sekitar Rp 50 ribu untuk berobat. Dokter itu masih keluarga. Disitu saya berpikir, ternyata berobat itu butuh uang meski dokternya saudara sendiri. Lalu mengapa saya tidak jadi dokter saja biar bisa mengobati orang secara gratis. besoknya saat UMPTN saya pilih jurusan kedokteran,” ucap dia.

Belajar di dunia kedokteran ternyata membuat Wayan Mustika menemukan apa yang dirinya cari selama ini, yaitu mengenali diri sejati. Ia merasa mempelajari ilmu kedokteran membuat dirinya banyak mengetahui bagaimana tubuh dan pikiran manusia. Dengan cara itu, Wayan Mustika pun berhasil menemukan jawaban atas kehebatan tubuh dan pikiran manusia.

“Jadi, sekolah kedokteran tidak hanya membuat saya memahami dunia medis. Saya bisa tahu bagaimana kehebatan tubuh dan pikiran manusia. Dari situ akhirnya saya bisa paham mengenai diri sendiri,” ucap dia.

Setelah tamat dari sekolah kedokteran,  Wayan Mustika mendapatkan tugas sebagai dokter PTT (pegawai tidak tetap) di sebuah desa kecil yang berada di kawasan Singaraja, Bali. Usai praktek di wilayah tersebut, ia ditugaskan kembali di sebuah klinik yang berlokasi di Legian. Sekembalinya ia dari bertugas itulah, Wayan Mustika kembali dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan.

“Saat itu Februari 2001 malam hari. Saya langsung dibayangi banyak pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu saya bangin dan saya ketik di komputer semua pertanyaan itu agar waktu ketemu guru, saya bisa tanyakan tentang hal itu supaya bisa dapat jawaban yang masuk ke logika. Nah, saat saya mengetik pertanyaan itu, tiba-tiba saya dapat aliran jawaban yang nggak tau darimana sumbernya. Nah, belakangan saya tau itu namanya automatic writing,” ucapnya.

Usai melakukan automatic writing itu, sebuah buku berjudul “Dialog Spiritual 1” pun terlahir dari tangan Wayan Mustika. Hal itu pun berlanjut menjadi beberapa buku. Setelah itu, ada salah satu desa adat di Kuta yang memintanya membuatkan sebuah buku.

“Buku yang diminta desa adat Kuta itu saya beri judul ‘Grahasta Asrama: Itu jalan cinta berjumpa Tuhan. Buku itu sebagai hadiah anak muda atau orang-orang yang baru saja menikah. Buku itu menjadi karya keempat saya. Lalu buku kelima berjudul ‘Saat Semesta Bicara’,” ucap Wayan Mustika.

Baca juga:  Kisah Martoyo, Sukses Jalankan Amanat Sultan untuk Kembangkan Kuliner Lokal Lewat Bale Raos

Antara Dokter dan Penulis

Menuliskan buku sembari bekerja sebagai dokter bukanlah hal yang mudah. Bahkan, Wayan Mustika pun mengaku tidak memahami proses yang dilaluinya selama menuliskan buku. Namun, ia mengaku semua buku yang ditulisnya adalah hasil dari pertanyaan kritis yang sudah lama menghantuinya.

“Ada banyak pertanyaan kritis dalam diri saya yang dicari jawabannya nggak ketemu. Waktu sekolah kedokteran, misalnya, saya cari dimana letak roh saat meneliti mayat. Saya cari-cari nggak ketemu. Di tahun 2001 itulah terjadi dan tiba-tiba menjadi automatic writing,” ucapnya.

Sejak merasa mendapatkan jawaban dari semesta di tahun 2001 itu, Wayan Musika juga merasa pesan-pesan dari alam semesta mengalir dengan lancar dalam dirinya. Hal itu kemudian ia manfaatkan sebagai inspirasi menulis agar tidak hilang begitu saja.

“Banyak hal yang tidak tau sebenarnya. Lalu tiba-tiba mengalir begitu saja sehingga saya harus mencatat agar tidak lupa. Misalnya, saya lagi menyapu di rumah. Saya melakukan aktivitas itu sebagai tindakan meditatif dan saya tuliskan pesan yang saya dapatkan,” ungkapnya.

Hingga saat ini, Wayah Mustika sudah menerbitkan 11 buku dan 2 buku diantaranya masih dalam proses penggarapan. Semua proses penulisan buku tersebut ia lakukan disela-sela kesibukannya sebagai dokter. Setiap ada waktu luang, Wayan Mustika selalu menyempatkan diri untuk menulis. Bahkan, saat berada di tempat kerja pun ia selalu berusaha mencuri waktu luang untuk menulis. Maka tak heran, ada banyak karya luar biasa yang lahir dari buah pemikirannya.

Mencari Jawaban Tentang Kehidupan

Hidup adalah kumpulan pertanyaan yang tak akan pernah usai. Mungkin hal itulah yang dirasakan oleh Wayan Mustika. Sedari kecil ia telah dihantui banyak pertanyaan kritis hingga tiba saatnya, alam pun memberikan jawaban pada dirinya.

Tak ingin apa yang didapatkannya hilang begitu saja, Wayan Mustika pun membagikannya lewat tulisan. Semua buku yang dituliskan oleh Wayan Mustika hampir semuanya membahas pertanyaan tentang kehidupan, mulai kenapa kita diciptakan dan apa itu hakikat kematian.

“Hampir semuanya buku saya itu memang isinya pencarian saya tentang kehidupan. Perjalanan Itu itu kan hal yang bermanfaat bukan sekedar menikmati apa yang tidak akan kita bawa pulang manfaatnya sebagai ruh. Hal itulah yang menjadi dasar dari sebagian besar karya saya,” ucapnya.

Di sisi lain, Wayan Mustika juga ingin mencari apa yang dicari manusia tentang Tuhan yang selama ini dicari dan disembah oleh manusia.

Hingga akhirnya, Wayang Mustika pun mendapatkan pengetahuan mengenai jalan pikiran orang terdahulu mengenai apa itu Tuhan dan menyebarkan pengetahuan mengenai Ketuhanan kepada orang-orang di masa itu hingga mampu mempengaruhi agama dan moralitas orang-orang.

“Hal inilah yang ingin saya bawa ke dunia modern supaya pemahamannya sama cuma sudut oandang berbeda agar lebih mudah dipahami. Ketika saya melaksanakan berbagai tugas penulisan dan berbagi apa yang saya pahami, alam semesta ini memiliki peran yang besar dalam membantu saja,” ucapnya.

Wayan Mustika juga mengaku bahwa para leluhurnya juga sangat membantu dirinya untuk mendapatkan inspirasi dalam menemukan jawaban atas pertanyaan yang menghantuinya.

“Secara real, yang juga berperan besar dalam kehidupan saya yaitu istri, teman-teman seperjalanan, dan guru-guru saya. Dari sana, saya mengamati apa yang mereka dapatkan atau belum didapatkan untuk saya gali lebih dalam,” ucapnya.

Wayan juga mengaku bahwa dirinya adalah sosok yang tidak mudah menerima segala hal yang sudah ditemukan oleh orang lain. Karena itu, ia selalu mengamati apa yang sudah diperoleh oleh orang-orang disekitarnya lalu ia jadikan “alat” untuk menggali pengetahuan lebih lanjut.

Baca juga: Kisah Joschy Saadeekhun, Pemilik Phuket Resto yang Kuasai 200 Menu

Rutin meditasi

Kebiasaan meditasi diakui Wayan Mustika sebagai salah satu jalan baginya bisa mendapatkan berbagai jawaban atas pertanyaan mengenai kehidupan. Namun, meditasi yang dilakukannya tidak seperti meditasi pada umumnya, yakni duduk bersila dan berdiam diri di tempat sunyi.

“Meditasi saya itu macam-macam. Kadang hanya mengamati pepohonan atau ombak di laut. Saya jarang melakukan meditasi khusus seperti duduk dan berdiam diri di tempat sepi. Saya lebih sering menggunakan aktivitas sehari-hari lalu memfokuskan pikiran saya ke gelombang meditatif,” ungkap dia.

Menurut Wayan Mustika, ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk memasukan pikirannya ke gelombang meditatif. Karena itu, ia selalu berusaha agar setiap aktivitas yang dilakukannya bisa memiliki nilai meditasi. Maka tak heran inspirasi selalu memasuki kepalanya hingga dia berhasil melahirkan banyak karya. 

Buku-buku karya Wayan Mustika yang kini sudah beredar luas antara lain:

  1. Dialog Spiritual (1)
  2. Dialog Spiritual (2)
  3. Dunia Tanpa Suara
  4. Grahasta Asrama (Jalan Cinta Berjumpa Tuhan)
  5. Saat Semesta Bicara
  6. Pesan Langit dan Bumi (1)
  7. Pesan  Langit dan Bumi (2)
  8. Berguru Pada Langit dan Bumi (1)
  9. Berguru Pada Langit dan Bumi (2)
  10. Tuhan Segala Agama
  11. Rahasiamu RahasiaKu.

Selain sibuk menulis dan menjalani profesi sebagai dokter, Wayan Mustika juga aktif sebagai pengasuh di komunitas Rumah Semesta. Komunitas Rumah Semesta adalah komunitas yang mewadahi orang-orang untuk mencari pemahaman kesemestaan lewat pengetahuan spiritualitas.

Komunitas tersebut aktif melakukan kegiatan untuk penyadaran jiwa, salah satunya lewat penulisan puisi atau diskusi tentang spiritualitas.

Leave A Reply

Your email address will not be published.