Berita Nasional Terpercaya

Pengulangan Sejarah Politik Keniscayaan

0

BERNAS.ID – Diawal pemerintahan Presiden Jokowi periode pertama, banyak kalangan, terutama pengamat politik dan bahkan tidak sedikit cendekiawan memprediksikan pemerintahan akan gagal, karena Presiden Jokowi adalah presiden yang lemah, dikhawatirkan akan terjebak dalam politik oligarki atau bahkan menjurus ke plutokrasi.

Apa itu plutokrasi? Sebuah istilah yang berakar sejak masa Yunani kuno. Plutokrasi berasal dari kata ploutos (kekayaan) dan kratos (kekuasaan), berasal dari bahasa Yunani. Jadi, plutokrasi adalah 'sistem' kekuasaan yang dikendalikan segelintir orang kaya.

Kenapa mereka memprediksi akan terjadi plutokrasi? Mungkin kalkulasi dukungan secara riil dalam pemerintahannya hanya dari PDIP (bahkan dari partai PDIP sendiripun, hanya dikatakan sebagai petugas partai, sebuah diksi yang menurut saya kurang elegan) dan para pengusaha kaya yang berada di sekeliling wakil presidennya, jadi nanti akan mudah ikut menyetir kekuasaan. 

Prediksi ini diawal pemerintahan seakan tepat mengenai sasaran, terbukti ketika mengangkat Kapolri dan pencabutan subsidi BBM, banyak para cukong2 politik yang dibantu para pemodal besar ikut bermain didalam sehingga terjadi turbulensi politik yang tinggi waktu itu.

Akhirnya setelah berjalannya waktu, semua prediksi itu jatuh berguguran, beliau berhasil mengkonsolidasikan politik dan membalikan keadaan sehingga sekarang ini Jokowi adalah Presiden terkuat di era demokrasi (saya tidak menganggap orde lama dan baru adalah era demokrasi).

Banyak yang menganggap keberhasilan Jokowi karena beliau pilihan Alam, jadi alam dan segenap isinya yang membimbingnya, Jokowi adalah Satrio Piningit. Jokowi adalah Ratu Adil dan seterusnya dan tentunya ini tidak rasional, karena bagi saya yang rasional adalah keberhasilan Jokowi salah satunya adalah lebih dikarenakan ketulusan dan kejujuran, beliau telah “berhenti sebagai manusia”.

Sejarah akan berulang, L'Histoire se Repete kata orang Perancis dan yang akan saya bahas di Alinea ini adalah pengulangan 10 tahunan, bahwa kemungkinan bisa terjadi di hanya 2 kandidat dalam gelaran pilpres mendatang.

Bila itu terjadi maka prediksi saya besar kemungkinan hanya ada dua kubu, yakni kubu GP dan kubu non GP yang mana akan terjadi konsolidasi politik yang massive dan lobby tingkat tinggi baik di lingkungan parpol maupun non parpol, relawan bentukan atau sekedar tim hore-hore, yang besar kemungkinan melibatkan cukong politik dan para saudagar yang berkelindan di dalamnya.

Dalam tulisan ini saya tidak menyinggung golongan mana yang mendukung, elemen mana yang akan dilawan, karena politik itu sangat cair, dinamis dan dipenuhi dengan intrik-intrik yang kadang membuat berdecak bingung oleh karenanya, kemarin adalah lawan bisa jadi nanti ketemuan makan siang jadi kawan.

Dus dengan demikian sejarah akan terulang, akan terjadi pengulangan suasana seperti tahun 2014 yang mana, kandidat manapun yang menjadi pemenang akan terjadi guncangan/turbulensi yang kencang diawal pemerintahan.

GP adalah sosok yang kenyang makan asam garam di parlemen, hal ini adalah menjadi pegangan, namun yang krusial adalah parpol mana yang akan mendukungnya. Sedangkan di “kandang” sendiri sampai saat ini masih di anggap sempalan, so biarlah waktu yang akan membuktikan.

Yang perlu di cermati sekarang ini adalah faktor penentu siapakah yang akan mendampingi sebagai calon RI 2? 

Karena memilih sosok yang tepat adalah sebuah keharusan, berpijak kembali kepada sejarah ketika SBY mencari pasangan maka terjadilah sebuah proses belibet yang panjang, di penuhi dengan ‘konsesi’ kekuasaan pada akhirnya golongan saudagarlah keluar sebagai pemenang, akankah itu terulang?

Bilamana di kaitkan dengan ‘faktor alam’, maka ada satu lagi faktor penentu dalam suksesi presiden mendatang, yakni restu dari JKW adalah suatu keniscayaan.

Politik itu adalah sebuah tafsiran, karena politik itu adalah seni mencari masalah, kemudian mendiagnosis permasalahan, benar atau salah dalam meresep pengobatan itu bukan masalah.

Cheers

wiw

Bantul Feb 07’ 22

(Penulis: Wahyu Indro Widodo, S.ST., M.Par., | Komisaris PT PP Properti Tbk, Dosen STP AMPTA Yogyakarta)

Leave A Reply

Your email address will not be published.