Berita Nasional Terpercaya

Para Raja Keraton dan Kerajaan Seluruh Nusantara Gelar Acara Matra di Bali

0

GIANYAR, BERNAS.ID – Puri Agung Peliatan Ubud, Gianyar, Bali, punya hajat penting bagi negeri ini, Selasa (15/3/2022) lalu. Puri nan sejuk itu menggelar acara Pengukuhan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Masyarakat Adat Nusantara (Matra) Bali. Sebanyak 24 raja dan utusan dari berbagai keraton dan kerajaan seperti Kerajaan Minangkabau, Kerajaan Gowa, Kerajaan Jambi, Pasaman Barat, Sumatera Barat serta utusan dari berbagai keraton dan kerajaan yang lain. 

Masyarakat Adat Nusantara (Matra) adalah organisasi yang beranggotakan para raja dan keluarga berdarah asli dari berbagai keraton dan kerajaan dari seluruh penjuru Indonesia yang masih eksis hingga saat ini. Organisasi ini memiliki berbagai agenda yang berfokus pada merawat dan melestarikan kekayaan adat di seluruh nusantara ini sebagai bagian dari kekayaan adat dan budaya Indonesia. 

Matra memiliki kepengurusan nasional, untuk tingkat daerah sistem organisasi dijalankan oleh Dewan Pengurus Wilayah. Nah, acara ini adalah pengukuhan para pengurus yang akan menjalankan agenda organisasi untuk kerajaan dan keraton di wilayah Bali dan sekitarnya. 

Baca Juga : Peringati Jumenengan, Keraton Jogja Gelar Pameran Jayapatra

Apa perbedaan keraton dan kerajaan. Jadi, dalam tata aturan keorganisasian komunitas ini,  keraton adalah kerajaan yang telah menetapkan diri sebagai kekuasaan adat yang telah menganut Islam. Sedangkan kerajaan adalah sistem kekuasaan adat lokal yang tidak mengidentifikasikan diri pada ikatan keyakinan tertentu. 

Upacara ini dipimpin oleh Ketua Umum Matra Yang Mulia Mangku Alam II dan didampingi Sekjen Dewan Pengurus Pusat Matra yakni Yang Mulia Kanjeng Pangeran Ferizal Utama Suryo Wibowo. Sedangkan para pengurus yang dikukuhkan adalah Dewa Krisna Artawan (Ketua), I Ketut Kresnayana dan I Nengah Murja (Wakil), I Nyoman Karsana, SE (Sekretaris) dan I Putu Edi Santika (Bendahara). Para pengurus ini akan menjalani masa tugas sebagai Pengurus DPW Matra Bali untuk masa bakti 2022-2025.

Uniknya acara ini adalah, para utusan datang dengan pakaian kebesaran keraton dan kerajaannya masing-masing lengkap dengan ciri khasnya seperti warna-warna keemasan, hitam dan sebagainya. Para tamu juga mengenakan mahkota hingga membawa tongkat atau simbol-simbol kekuasaan mereka. 

Aneka warna dan aksesori yang dikenakan para utusan membuat acara ini menjadi penuh warna. Soalnya, pakaian kebesaran dan adat yang khas serta berbeda-beda warna itu menciptakan gaya fashion yang menampakkan nilai adat masing-masing keraton dan kerajaan. 

Tak perlu heran makanya jika acara ini mengundang ketertarikan banyak wisatawan asing yang sedang berlibur di Bali. Berbagai tarian sakral khas Bali mewarnai sepanjang acara ini.

Selain para raja, utusan kerajaan dan keraton, hadir pula dalam acara itu para putri keraton dari berbagai utusan keraton dan kerajaan. Juga hadir para penglingsir atau ketua puri dari berbagai puri di Bali. Panglingsir adalah ketua atau tetua dari kekerabatan yang turun-temurun di setiap puri.

Baca Juga : Keraton Yogyakarta Gelar Acara Hadeging Nagari 274 Secara Virtual

Pada acara ini, para putri dari berbagai keraton dan kerajaan juga mendeklarasikan organisasi baru bernama Putri Keraton Nusantara. Komunitas ini rencananya akan menggali potensi kerajaan dan keraton untuk disulap menjadi produk-produk yang akan dijual secara umum ke pasar. 

Bukan rahasia lagi, setiap keraton dan kerajaan sudah pasti memiliki beragam resep kuliner turun-temurun dan khas yang selama ratusan tahun hanya dinikmati kalangan atas atau keluarga kerajaan. Juga berbagai resep kecantikan para putri keraton yang selama ini dikenal sebagai resep kecantikan yang membuat para putri keraton menjadi simbol keindahan  kecantikan asli Indonesia. 

Nah, organisasi para putri keraton dan kerajaan ini telah memiliki berbagai produk yang siap dipasarkan dan semuanya memiliki nilai sejarah dan kelestarian budaya keraton. Juga, kelompok perempuan cantik ini akan menggelar Festival Putri Keraton Nusantara yang rencananya digelar di Pulau dewata. 

Gelaran ini diharapkan akan menjadi magnet wisata yang mampu mengarusutamakan kekayaan adat nusantara, sehingga mampu mewarnai kekayaan budaya Indonesia sekarang ini. (dji/tut)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.