Berita Nasional Terpercaya

Aktiva Tidak Berwujud: Karakteristik dan Manfaatnya

0

Bernas.id – Perusahaan tentunya memiliki aktiva. Aktiva dalam perusahaan sangat berpengaruh terhadap eksistensi perusahaan. Seluruh aktiva dalam perusahaan merupakan aktiva dari perusahaan sendiri baik aset berwujud maupun aset tidak berwujud. Pastinya dalam perusahaan ada perusahaan, perlengkapan, peralatan, kendaraan, mesin dan juga karyawan.

Seluruh aktiva yang dimiliki perusahaan tentunya memiliki fungsi dan nilai yang bervariasi. Di dalam ilmu akuntansi aset atau aktiva yang dimiliki perusahaan ada 2 jenis yaitu aktiva berwujud dan aktiva tidak berwujud.

Aktiva atau aset di perusahaan merupakan suatu sumber daya yang dapat diukur dengan satuan tertentu serta menjadi hak milik perusahaan. Aktiva dalam perusahaan mempunyai pengaruh yang sangat besar yaitu dengan adanya aktiva dapat menciptakan profit atau laba serta keberlangsungan perusahaan.

Dalam artikel ini, akan lebih spesifik ke aktiva tidak berwujud (intangible asset). Lalu apa itu aset tidak berwujud dan apa saja jenisnya?

Baca juga: Aset Investasi Menurun, Investasi Harus Diambil atau Stop Investasi?

Pengertian Aktiva Tidak Berwujud

Pengertian Aktiva Tidak Berwujud

Bicara mengenai aktiva, hal ini telah didefinisikan dengan jelas melalui FASB dan PSAK sebagai rujukan standar. Berikut penjelasan pengertian aktiva tidak berwujud dari kedua standar tersebut.

Menurut Financial Accounting Standards Board (FASB)

Aktiva tidak berwujud merupakan aktiva yang bentuknya tak kasat mata atau aktiva yang tidak memiliki bentuk fisik. Aktiva tak berwujud biasanya lebih spesifik ke laba atau hak yang serupa.

Menurut PSAK

Menurut PSAK 19 Revisi 2020 pengertian aktiva tak berwujud adalah aktiva non-moneter yang tidak mempunyai wujud fisik, yang memiliki fungsi untuk memproduksi barang atau jasa, yang menghasilkan hak ekonomi serta hukum terhadap pemiliknya, dan dalam laporan keuangan tidak dicakup secara terpsiah melainkan dalam kategori aktiva yang lain.

Baca juga: Sri Mulyani Menekankan Pentingnya Pengelolaan Aset Negara

Seringkali perlakuan akuntansi untuk intangible aset masih mengalami kesulitan dalam hal teori akuntansi. Kesulitan yang dialami meliputi pengertian aktiva tak berwujud serta adanya ketidakpastian dalam hal pengukuran nilai serta  manfaat dari aktiva tersebut.

Dalam pendekatan akuntansi aktiva tidak berwujud digolongkan berdasarkan tingkatan dalam teori akuntansi yaitu sintaksis, semantik, serta behavioral. Sementara itu, dalam tingkat sintaksis terdapat 2 pandangan.

Pertama, sumber-sumber yang dikeluarkan untuk mendapat aset tidak berwujud yang sesuai dengan pendapatan yang berkaitan dengan pengeluaran dan sebaiknya melakukan alokasi berdasarkan atas pendapat yang berhubungan dengan adanya suatu hubungan tertentu antara pengeluaran untuk aktiva ini serta laba/ keuantungan di masa depan.

Kedua, non-monetary harus disesuiakan dengan pendapatan yang terdapat hubungan diantara keduanya. Seringkali pengeluaran untuk aset tidak berwujud tidak sesuai dengan pendapatan, sehingga aktiva ini wajib dijadikan biaya, hal ini merupakan suatu proses alokasi yaitu alokasi tahun pertama.

Untuk tingkat semantrik aset tidak berwujud wajib dilaporkan sehingga dapat menghasilkan real world interpretation. Persepsi umum menyebutkan bahwa aktiva tersebut sama halnya dengan aset lain, yaitu sama-sama mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Sebaiknya pengeluaran ini harus diperlakukan sebagai suatu aset sampai keuntungan di masa depan tidak bisa untuk diharapkan lagi.

Sedangkan untuk tingkat behavioral lebih mengutamakan pelaporan aktiva tak berwujud dalam neraca untuk mempermudah dalam pengambilan keputuan.

Baca juga: Akuntansi Pendidikan: Pengertian dan Penerapannya dalam Institusi Pendidikan

Karakteristik Aktiva Tak Berwujud

Karakteristik Aktiva Tak Berwujud

Aktiva tidak berwujud memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan aktiva berwujud. Adapun karakteristik aktiva ini ada 3 yaitu :

  1. Kurang mempunyai keberadaan/eksistensi fisik, memperoleh nilai dari hak serta keistimewaan yang diberikan kepada perusahaan yang telah menggunakannya.
  2. Tidak bagian dari instrument keuangan, memperoleh nilainya dari klaim guna menerima kas atau ekuivalen kas di masa yang akan datang.
  3. Mempunyai sifat jangka panjang dan menjadi subjek amortisasi, menyajikan jasa dalam kurun waktu bertahun- tahun.

Baca juga: Akuntansi Anggaran (Budgeting): Pengertian, Tahapan, Perubahan, Tujuan, dan Fungsinya

Karakteristik Pendukung Aktiva Tidak Berwujud

Aktiva yang satu ini juga memiliki karakteristik pendukung, yaitu sebagai berikut :

  1. Didapatkan dari pengembangan/dibeli secara terpisah/dibeli menjadi satu dengan aset.
  2. Digunakan secara tidak langsung dalam hal operasional perusahaan.
  3. Aktiva ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas pesaing.

Di awal perolehan aktiva/aset tidak berwujud wajib diakui sebesar harga perolehannya. Sedangkan untuk periode berikutnya aktiva ini dilaporkan sebesar nilai tercatatnya.

Harga perolehan aktiva tidak berwujud harus dilaporkan sesuai sesuai nilai tercatatnya. Harga perolehan aktiva tersebut ditentukan dari segi perolehannya. Untuk aktiva ini yang diperoleh melalui pembelian kas, sehingga harga perolehan sebesar jumlah uang yang telah dibayarkan.

Di samping itu, jika aset tersebut diperoleh melalui proses pertukaran dengan aset lainnya, nilai perolehannya menjadi sebesar perkiraan  harga pasar dari aset yang telah digunakan sebagai penukar.

Baca juga: Akuntansi Pemeriksaan (Auditing): Pengertian, Tujuan, Manfaat, dan Kegiatannya

Manfaat Aktiva Tidak Berwujud

Manfaat Aktiva Tidak Berwujud bagi Perusahaan.

Sejak dioperasikan, masa manfaat aktiva tidak berwujud diperkirakan dari 20 tahun. Untuk mempertimbangkan masa manfaat aset ini yang harus di ketahui adalah :

  1. Perkiraan dalam penggunaan aset oleh suatu organisasi dan efisiensi dalam pengelolaannya.
  2. Adanya siklus hidup produk pada umumnya.
  3. Lamanya teknis/ teknologi.
  4. Stabilitas industri dimana aktiva dioperasikan serta tren pasar pada produk/ jasa yang dihasilkan.
  5. Estimasi tindakan kcompetitor.
  6. Adanya pengeluaran guna pemeliharaan supaya mendapat masa manfaat.
  7. Masa pengendalian aset.
  8. Terdapat ketergantungan masa manfaat atas mafaat aset lainnya.

Aktiva tersebut dapat berbentuk semacam nilai yang melekat pada produk intelektual. Pada produk tersebut fasilitasnya bisa digunakan oleh pihak lain.

Baca juga: Inilah Pengertian Akuntansi Pajak, Fungsi, Prinsip, Jenis-Jenis, dan Aturan Sanksinya

Hak-hak Aktiva Tidak Berwujud

Di bawah ini merupakan hak- hak aktiva tidak berwujud dalam perusahaan :

1. Hak Cipta

Aktiva hak cipta diberikan kepada penulis atau pencipta untuk menjual, mengontrol, atau menerbitkan hasil karyanya. Hak cipta dapat dijual pada pihak lain dengan perjanjian yang telah disepakati. Dalam hal ini harga perolehan hak cipta mencakup pengeluaran yang dimulai dari penyusunan sampai dengan pengurusan ijin hak cipta hingga sertifikasi hak cipta yang diterima.

2. Hak Paten

Aktiva berupa hak paten diberikan pada pihak yang telah menjalankan penelitian dan telah menciptakan hal baru dalam hal untuk memproduksi, menjual, atau mengawasi temuannya dalam periode tertentu. Harga perolehannya yaitu meliputi seluruh pengeluaran yang mencakup biaya penelitian, pengembangan, pembuatan/ perencangan gambar, percobaan, serta pengurusan hak paten sampai diterbitkannya sertifikat hak paten tersebut.

3. Hak Merek Dagang

Aktiva berupa hak merek dagang merupakan hak cipta serta hak untuk menggunakan simbol dari sebuah produk. Harga perolehan hak merek dagang yaitu meliputi biaya perencanaan, desain, perancangan/pembuatan lambang atau logo serta termasuk perizinan merk dagang hingga sertifikat merek dagang yang telah diterbitkan.

Baca juga: Sosialisasi HKI Penting di Era Digital

4. Hak Franchise 

Menggunakan fasilitas tertentu dari pihak satu ke pihak lain sebagai franchisee. Pihak franchisee hanya diperbolehkan menggunakan hak franchisee sesuai dengan kesepakatan, tidak berhak untuk menjual hak franchisee ke pihak yang lain. Harga perolehan  bagi pihak  franchisor  yaitu sebesar dana yang dikeluarkan guna memperoleh izin hak franchisee, sedangkan bagi hak franchisee harga perolehan sebesar harga yang diberikan pada franchisor.

5. Hak Sewa

Aktiva berupa hak sewa menggunakan aktiva tertentu yang telah ditetapkan dalam perjanjian sewa menyewa. Pencatatan akuntansi pada pengeluaran berhubungan dengan memperoleh hak sewa yang ditetapkan dari cara pembayaran sewa pada pihak pemilik aktiva serta pengeluaran lain yang digunakan untuk persiapan aktiva guna siap dipergunakan.

6. Hak Eksklusif

Aktiva berupa hak eksklusif merupakan hak khusus  negara pada lembaga atau organisasi atau instansi guna untuk mengelola fasilitas atau sumber daya alam milik negara. Harga perolehan dari hak eksklusif yaitu meliputi biaya survey, penelitian, pemetaan, pengkajian/eksplorasi, pembangunan fasilitas, perjanjian, dan biaya lain sampai hak tersebut siap.

Baca juga: Pengertian Akuntansi Pemerintahan, Karakteristik, dan Tujuan Penggunaannya

Penilaian Aktiva Tidak Berwujud (Intangible Asset) perusahaan

Aset tidak berwujud

Aktiva tak berwujud mempunyai sifat tetap. Dalam hal ini perlu adanya pertimbangan untuk memberikan penilaian aset. Pertimbangan yang perlu dilakukan yaitu yang pertama, pertimbangan mengenai biaya awal serta amortisasi. Dengan menggunakan kedua pertimbangan tersebut maka dapat dilakukan penilaian pada aktiva yang tidak berwujud yang dimiliki oleh masing- masing perusahaan.

1. Penilaian Hak Paten

Penilaian hak paten dapat dilakukan melalui 2 aspek yaitu biaya awal serta amortisasi. Biaya awal dari hak paten yang dibeli adalah biaya imbalan jasa hukum dari perusahaan/instansi yang sebelumnya memiliki atau dengan cara lain biaya awal juga dapat dihitung dari biaya yang telah dihabiskan selama periode penemuan yang melalui riset.

Selanjutnya mengenai amortisasi yaitu penilain nilai aset yang diestimasikan berdasarkan periode operasi hak paten yang dikurangi dari sisa masa hak paten secara hukum.

Baca juga: Inilah Nasi Boran Khas Lamongan yang Diupayakan Hak Patennya

2. Penilaian Merek Dagang

Dalam penilaian merk dagang bisa berdasarkan biaya hukum yang sudah dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendaftarkan nama tersebut menjadi merk dagangnya. Tidak hanya biaya hukum, akan tetapi juga biaya administrasi serta biaya lainnya yang menjadikan merek dagang ini sangat berharga.

Apabila merek dagang dibeli dari perusahaan lain yang telah mengalami penggabungan, maka nilai beli juga merupakan biaya awalnya. Sedangkan mengenai penilaian dari amrotisasinya, dilihat dari seberapa lama merek dagang diestimasikan untuk digunakan.

3. Penilaian Goodwill

Penilaian goodwill dihitung pada saat adanya transaksi pembeliannya dari perusahaan lain. Nilai beli ini merupkan nilai beli perusahaan yang secara bersih meliputi aset/ aktiva dan kewajiban pada perusahaan tersebut.

Mengenai nilai amortisasinya, goodwill di Indonesia diakui masa kegunaannya sampai tidak lebih dari 5 tahun. Akan tetapi kemungkinan untuk perpanjangan amortisasi tidak lebih dari 20 tahun didudukung dengan alasan yang bisa diterima.

Baca juga: Akuntansi Biaya: Pengertian, Fungsi, Jenis-Jenis, dan Penerapannya di Perusahaan

Pengakuan Aset/Aktiva Tidak Berwujud

Perlakuan aset tidak berwujud secara akuntansi memiliki beberapa ketentuan. Adapun ketentuan aset tak berwujud diakui saat diperoleh yaitu,

  1. Perusahaan/individu mampu untuk mendapatkan manfaat ekonomi di masa mendatang dari aset/aktiva tersebut.
  2. Biaya-biaya perolehannya dapat diukur dengan handal.

Pengukuran/Penilaian Aktiva Tidak Berwujud

Penilaian/pengukuran aktiva tidak berwujud sesuai dengan harga perolehannya. Adapun biaya perolehan aktiva ini meliputi :

  1. Harga beli mencakup bea masuk (import), dan pajak pembelian yang tidak bisa untuk dikembalikan, setelah dikurangkan dengan diskon, dan rabat.
  2. Semua biaya yang bisa dihubungkan secara langsung untuk mempersiapkan aktiva tersebut sampai siap untuk digunakan.

Baca juga: Apa Itu Akuntansi Keuangan? Inilah Pengertian, Fungsi, Tujuan, dan Standarisasinya

Pencatatan Aktiva Tidak Berwujud

Adapun pencatatan akuntansi untuk pembelian dan amortisasi aktiva tidak berwujud yaitu sebagai berikut :

Pembelian Amortisasi
(D) Aktiva Tidak Berwujud(D) Biaya Amortisasi
(K) Kas(K) Aktiva Tidak Berwujud

Pelaporan Aset Tidak Berwujud

Dalam laporan neraca terdapat penyajian aset tidak berwujud pada kolom aktiva, dan penyajian ini dicatat berdasarkan nilai bersih yang telah dikurangi akumulasi amortisasi.

Aktiva tidak berwujud dalam akuntansi diakui apabila :

  1. Perusahaan yang mempunyai kemampuan/potensi dalam mendapatkan manfaat ekonomi di masa yang akan datang dari aset tersebut.
  2. Biaya- biaya perolehan aktiva dapat diukur lebih terpercaya.

Dengan demikian, aktiva ini dapat diakui sebesar harga perolehan. Dan untuk selanjutnya akan dilaporkan sebesar nilai yang tercatat. Pada saat menentukan besaran harga perolehan, tergantung bagaimana cara perolehan aktiva tersebut.

Cara untuk mendapatkan aset tidak berwujud dengan membeli atau dengan adanya suatu transaksi yang menggunakan kas atau yang setara kas lainnya sehingga harga perolehan aktiva ini sebesar uang yang telah dikeluarkan atau yang telah dibayarkan oleh perusahaan.

Sebaliknya, apabila aktiva tidak berwujud diperoleh dari adanya pertukaran aktiva lainnya maka harga perolehan aktiva ini sebesar harga terkini dari aktiva yang telah ditukar.

Baca juga: Inilah 10 Jenis Ilmu Akuntansi yang Ada di Perusahaan

Pentingnya Pelaporan Aktiva Tidak Berwujud Untuk Perusahaan

Setiap perusahaan harus melaporkan jumlah pendapatannya kepada pemerintah demi kepentingan untuk membayar pajak. Pelaporan terkait pendapatan diatur dalam SAK (Standar Akuntansi Keuangan) dan SAP (Standar Akuntansi Pemerintahan) yang mendukung program GCG (Good Corporate Governance) dengan tujuan supaya pengelolaan perusahaan bisa menjadi lebih baik dan mampu memberikan nyaman serta aman terhadap para investor.

Menurut SAK (Standar Akuntansi Keuangan) syarat pengakuan pendapatan lebih ketat daripada menurut (SAP) Standar Akuntansi Pemerintahan. Hal ini disebabkan karena seluruh syarat pengakuan pendapatan  manfaat ekonomi berhubungan dengan transaksi yang mengalir ke perusahaan wajib terpenuhi.

Baca juga: 11 Jenis Profesi Akuntan di Indonesia dan Standar Kompetensinya

Ketetapan Dalam Pelaporan Aktiva Tidak Berwujud Dalam Perusahaan

Secara sederhana, aktiva tidak berwujud adalah harta yang tidak terlihat akan tetapi dapat memberikan suatu manfaat. Perlakuan dari aktiva yang tidak berwujud dalam akuntansi pasti mempunyai ketentuan yaitu individu atau perusahaan mempunyai kemampuan/potensi untuk mendapatkan suatu manfaat ekonomi di masa yang akan datang dari aktiva tersebut, serta biaya-biaya yang diperoleh bisa diukur dengan handal.

Penilaian aaset tidak berwujud dinilai berdasarkan harga perolehannya yang mencakup biaya perolehan. Biaya perolehan dari aktiva yang satu ini meliputi harga beli yang termasuk bea masuk (import) serta adanya pajak pembelian yang tidak dapat dikembalikan setealah adanya pengurangan dari diskon, rabat, dan berbagai biaya lainnya yang berhubungan langsung untuk mempersiapkan aset tersebut sampai siap untuk digunakan.

Aset tidak berwujud dicatat dalam laporan neraca di kolom aktiva sesuai dengan nilai bersih setelah adanya pengurangan dengan akumulasi amortisasi. Seperti yang diketahui akuntansi jenis aktiva ini terdiri dari proses pencatatan, pengakuan, pengukuran, serta pelaporan aset tidak berwujud/intangible asset yang memberikan manfaat ekonomi untuk perusahaan.

Pengakuan pendapatan serta penilaian/pengukuran aktiva tidak berwujud (intangible asset) sangatlah penting, hal ini dikarenakan pelaporan kepada pemerintah merupakan bentuk pelaksanaan hukum negara dan pertumbuhan labasebagai tolok ukur dalam pertumbuhan sebuah perusahaan.

Dengan seperti itu, tidak ada perusahaan yang berkembang tanpa mengetahui serta mengontrol keadaan keuangannya. Monitor ini sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup perusahaan dalam jangka waktu yang panjang.

Dengan adanya perkembangan yang pesat dalam bidang akuntansi, standar serta regulasi, teknologi dan bermacam praktik industri yang dapat membuat perusahaan memerlukan pembelajaran, pengembangan serta adanya pelatihan guna dapat menyesuaikan diri dengan keadaan pelaporan akuntansi serta keuangan yang setiap harinya terus berubah.

Baca juga: Program Beasiswa Calon Pengusaha Terbaru di UNMAHA

Definisi Aktiva Tidak Berwujud Menurut Akuntansi Pajak

Aset tidak berwujud menurut Akuntansi pajak yang tercantum dalam Pasal 11A UU PPh yang mengatakan bahwa aktiva ini dilakukan pada saat pengeluaran untuk mendapatkan harta tidak berwujud serta pengeluaran lainnya yang meliputi biaya perpanjangan Hak Guna Bangunan (HCB), Hak Guna Usaha (HGU), Hak Pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun serta digunakan supaya memperoleh dan memelihara penghasilan.

Demikianlah pembahasan terkait pentingnya aktiva tidak berwujud dalam perusahaan. Semoga penjelasan yang disampaikan bisa bermanfaat bagi Anda yang selalu ingin tahu lebih dalam mengenai aktiva ini di dalam akuntansi.

Baca juga: Investasi Kavling Menguntungkan – Siap Terima SHM Cuma 60 Jutaan – 3 Km ke Pusat Bogor Timur

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.