Berita Nasional Terpercaya

Wajib! Yuk Kenali Vaksin HPV untuk Cegah Kanker Serviks

1

BERNAS.ID – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan rencana penambahan vaksin wajib dari 11 menjadi 14, yang salah satunya adalah vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks.

Menurutnya, vaksin HPV itu jauh lebih murah dan lebih nyaman ketimbang pengobatan di rumah sakit. Kanker serviks memiliki jumlah terbesar kedua setelah kanker payudara yang menyerang perempuan di Indonesia.

“Kematian kanker paling banyak pada wanita Indonesia itu kanker serviks dan kanker payudara,” ujarnya dalam acara Pertemuan Diaspora Kesehatan Indonesia Kawasan Amerika dan Eropa pada Senin (18/4/2022).

“Kanker serviks ada vaksinnya. Daripada kita mengurusnya di rumah sakit yang mahal dan (bikin) menderita, kita urusnya di preventif saja,” imbuhnya.

Baca Juga: Kemenkes Target 190 Juta Penduduk RI Rampung Vaksin Untuk Syarat Endemi

Kanker serviks menjadi satu-satunya kanker yang bisa dicegah dengan imunisasi Human Papillomavirus (HPV). Pemerintah akan menggelar program wajib vaksin HPV ini serentak di 34 provinsi pada 2023-2034.

Sementara pada 2021 sudah ada dua provinsi dan 5 kabupaten/kota yang menerapkan vaksin wajib tersebut. Pada 2022,  bertambah tiga provinsi dan 5 kabupaten/kota.

“Ini jauh lebih murah daripada operasi di rumah sakit atau kemoterapi di rumah sakit, dan jauh lebih nyaman juga buat perempuan daripada dia harus masuk (pengobatan) rumah sakit,” ujar Budi.

Karena menjadi wajib, yuk kenali vaksin HPV lebih jauh.

Risiko Kanker Serviks

Mengutip situs Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, kanker leher rahim atau kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada jaringan leher rahim, yang merupakan bagian terendah dari leher rahim dan menonjol ke puncak liang senggama.

Data dari Observasi Kanker Dunia (Globocan) di Indonesia terdapat 36.633 kasus baru kanker serviks pada 2020. Sementara jumlah kematiannya mencapai 21.003.

Dengan begitu, sekitar 50 kasus terdeteksi setiap hari dengan lebih dari dua kematian setiap jam. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan vaksinasi HPV untuk mengeliminasi kanker serviks.

Menurut American Cancer Society, beberapa faktor risiko dapat meningkatkan peluang terkena kanker serviks. Namun, faktor risiko yang utama adalah infeksi human papillomavirus (HPV).

HPV adalah kelompok lebih dari 150 virus yang terkait. Virus ini menginfeksi sel-sel pada permukaan kulit, sel-sel yang melapisi alat kelamin, anus, mulut, dan tenggorokan.

HPV dapat menular melalui kontak kulit, termasuk aktivitas seksual. Sebenarnya infeksi ini merupakan hal yang umum dan kebanyakan tubuh manusia bisa membersihkan infeksi dengan sendirinya.

Namun, terkadang infeksi tidak bisa hilang dan menjadi kronis. Infeksi kronis akibat jenis HPV risiko tinggi tertentu dapat menyebabkan kanker, seperti kanker serviks.

Baca Juga: Penanganan Kanker Di Indonesia Masih Menghadapi Banyak Kendala

Sebagai informasi, ada lebih dari 100 jenis HPV, dan tidak semuanya terkait dengan kanker. Jenis HPV16 dan HPV18 biasanya berhubungan dengan kanker serviks.

Seks pada usia lebih dini atau memiliki banyak pasangan seksual membuat perempuan berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi jenis HPV tersebut. Selain itu, kebiasaan merokok juga dapat memicu kanker serviks.

Menurut WHO, butuh 15-20 tahun bagi kanker serviks untuk berkembang pada tubuh perempuan dengan sistem imun normal.

Vaksin HPV

WHO merekomendasikan langkah komprehensif untuk mencegah dan mengendalikan kanker serviks, yang mencakup berbagai usia.

Sejauh ini, ada 4 jenis vaksin, seluruhnya dapat melindungi perempuan dari HPV16 dan HPV18. Kedua jenis HPV tersebut menyebabkan setidaknya 70% kanker serviks.

Kemudian, ada satu vaksin yang dapat menghalau 5 jenis HPV onkogenik tambahan, yang menyebabkan 20% kanker serviks. Dua vaksin lainnya melindungi perempuan terhadap HPV tipe 6 dan 11 yang menyebabkan kutil kelamin.

Uji klinis dan pengawasan pasca-peredaran menunjukkan vaksin HPV aman dan efektif dalam mencegah infeksi HPV, luka prakanker tingkat tinggi, dan kanker invasif. Vaksin ini bekerja paling baik jika diberikan sebelum terpapar HPV. 

Meski demikian, vaksinasi HPV tidak menggantikan skrining kanker serviks. Biasanya program skrining berbasis populasi tetap perlu untuk mengidentifikasi dan mengobati pra-kanker, serta mengurangi insiden dan kematian akibat kanker serviks.

Siapa yang Wajib Vaksin HPV?

Guna mencegah kanker serviks, WHO merekomendasikan vaksin HPV  untuk anak perempuan usia 9-14 tahun. Bahkan sejumlah negara juga mulai mengadakan vaksinasi ini kepada anak laki-laki karena HPV bisa menyerang pria.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat memiliki sejumlah rekomendasi penerima vaksin HPV, antara lain:

  • Anak hingga dewasa, mulai usia 9-26 tahun. Vaksin HPV direkomendasikan secara rutin pada usia 11 tahun atau 12 tahun. Meski demikian, pemberian vaksin bisa dimulai pada usia 9 tahun. Bagi dewasa usia 26 tahun yang belum pernah memperoleh vaksin HPV sebelumnya juga sangat direkomendasikan.
  • Dewasa usia 27-45 tahun. Meski bisa diberikan kepada seseorang hingga usia 45 tahun, namun vaksinasi HPV tidak dianjurkan untuk semua orang dewasa. Perlu pertimbangan dokter agar kelompok usia tersebut dapat memperoleh vaksin ini.
  • Ibu hamil. Perlu penundaan vaksinasi HPV sampai setelah kehamilan. Namun, untuk memperoleh vaksin ini tidak memerlukan tes kehamilan. ampai saat ini, belum ada bukti vaksinasi akan mempengaruhi kehamilan atau membahayakan janin.

Sementara itu, kebutuhan dosis vaksin tergantung usia. Anak-anak  sebelum usia 15 tahun hanya membutuhkan dua dosis, sedangkan di atas usia 15 tahun atau orang dengan sistem imun lemah perlu tiga dosis.

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? Kementerian Kesehatan merencanakan program vaksinasi pencegahan kanker serviks kepada siswi kelas 5 SD untuk dosis pertama. Selanjutnya, dosis kedua ketika mereka duduk di kelas 6 SD.

Baca Juga: World Cancer Day 2022, Pentingnya Dukungan Mental Dan Emosional Bagi Pejuang Kanker

Program tersebut gratis. Namun, bagi kelompok dewasa harus membayar karena tidak masuk dalam program imunisasi nasional. Selain HPV, dua jenis vaksin lain yang akan digencarkan pemerintah adalah pneumococcal conjugate vaccine (PCV) dan Rotavirus.

Vaksin PCV adalah imunisasi untuk mencegah infeksi bakteri yang menyebabkan penyakit pneumokokus, seperti radang paru atau pneumonia, meningitis, dan infeksi darah. Sementara vaksin Rotavirus dapat melindungi anak dari diare akibat infeksi rotavirus.

“PCV dan Rotavirus untuk mencegah infeksi, stunting yang menjadi masalah penting bagi kita. Infeksi terbesar terjadi gara-gara diare dan pneumonia,” ujar Menkes Budi.

“Kita ingin kasih vaksin agar tidak terjadi infeksi sehingga asupan gizi yang masuk benar-benar bisa untuk pertumbuhan,” imbuhnya.

1 Comment
  1. […] Baca juga: Wajib! Yuk Kenali Vaksin HPV Untuk Cegah Kanker Serviks […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.