Berita Nasional Terpercaya

Diperingati Setiap 21 April, Begini Sejarah Hari Kartini

2

 Bernas.id – Setiap tanggal 21 April di Indonesia diperingati sebagai Hari Kartini. Hari Kartini pertama kali dirayakan secara resmi di Indonesia pada tahun 1964. Perayaan hari Kartini pertama kali ditetapkan oleh presiden pertama Indonesia Soekarno.

Kartini adalah simbol emansipasi wanita. Setiap hari kelahirannya menjadi perayaan tersendiri bagi seluruh wanita di Indonesia.

Pada abad 18 hingga 20, banyak orang mulai memperjuangkan hak-hak wanita dan kesetaraan gender. Di Amerika Serikat dan Eropa, nama-nama seperti Sojourner Truth, Mary Wollstonecraft, dan Elizabeth Cady Stanton adalah nama yang sering muncul ketika membahas topik ini. Namun di Indonesia, nama yang paling dipuji dalam hal ini adalah R.A. Kartini.

Hari kelahiran Kartini selalu diperingati sebagai wujud lahirnya emansipasi dan kesetaraan gender di wanita. Sebab, Kartini adalah sosok yang gigih dalam memperjuangkan hak-hak wanita, terutama dalam hal pendidikan. Sebelum Kartini muncul, tidak semua wanita Indonesia mendapatkan pendidikan yang baik.

Pendidikan untuk wanita saat itu sangat terbatas. Tidak semua wanita bisa sekolah. Meski berasal dari keluarga bangsawan, Wanita saat itu hanya boleh mengenyam pendidikan sampai sekolah dasar. Setelah itu, mereka akan dipingit hingga tiba hari pernikahan.

Peranan mereka dibatasi hanya sebatas mengurus dapur dan keluarga saja. Selain itu, gadis-gadis dari keluarga terkemuka diminta untuk menjalani masa isolasi atau pingitan setelah menginjak usia dua belas tahun. Selama masa pingitan, para wanita dilarang meninggalkan rumah sampai mereka menikah. Poligami adalah hal yang normal di masa itu dan sebagian besar pernikahan sudah diatur sebelumnya.

Baca juga: Dikenal Sebagai Hari Kasih Sayang, Berikut Sejarah Kelam Hari Valentine

Siapakah Kartini?

R.A. Kartini lahir pada tahun 1879 dari keluarga kaya dan berkuasa di Jawa. Karena status keluarganya dan darah akademis yang mengalir di nadi mereka, ia beruntung bisa mengenyam pendidikan dasar. Dari silsilah keluarganya, ayahnya Rama Sosroningrat,  adalah seorang bangsawan Jawa yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda. Sedangkan ibunya, Ma Ngasirah,  adalah putri seorang ulama dan juga putri dari keluarga bangsawan.

Karena itu, ia mendapat kesempatan bersekolah di sekolah dasar berbahasa Belanda saat berusia 6 tahun. Namun ketika usianya mencapai usia dua belas tahun, ia harus melalui masa pingitan sampai ia menikah. Selama masa pingitan, dia menggunakan waktunya untuk belajar membaca berbagai materi dan menulis surat kepada teman-temannya yang berasal dari Belanda.

Percakapan lewat suratnya tersebut memperkenalkannya pada konsep feminisme, pemberdayaan perempuan, dan kesetaraan gender, yang  ia tanamkan di hati dan diimplementasikan ke dalam kehidupan selanjutnya. Pada tahun 1903, Kartini menikah dengan seorang Bupati bernama Joyodiningrat, yang sudah memiliki tiga istri.

Sang ayahlah yang menjodohkan Kartini dengan pria tersebut. Dengan berat hati dan keinginan melepas diri dari keterasingan akibat tradisi, Kartini memutuskan untuk menerika perjodohan tersebut. Setelah menikah, sang suami mengizinkan dia untuk membuka sekolah untuk anak perempuan. 

Mendirikan Sekolah Wanita

Karena semangat dan dukungan suaminya, wanita asli Jawa tersebut akhirnya berhasil mendirikan sekolah khusus putri Jawa, yang ia namai sesuai namanya yaitu Sekolah Kartini. Saat itu, perempuan tidak mendapatkan pendidikan yang layak karena status sosialnya.

Ia pertama kali membuka sekolah khusus wanita di Batavia, yang saat ini bernama Jakarta, pada tahun 1907. Gubernur Jenderal Abendanon dan Ratu Wilhelmina dari Belanda mendukung penuh adanya sekolah tersebut. Lambat laun, Sekolah Kartini semakin berkembang dan membuka cabang di berbagai daerah seperti Malang, Cirebon, Semarang, Bogor, dan Surabaya.

Kartini menyadari bahwa cara paling efektif untuk menginisiasi emansipasi perempuan Indonesia adalah melalui pendidikan. Sekolah tersebut dia kelola sendiri sampai kematiannya pada tahun 1904. Ia meninggal di usia 25 tahun setelah kelahiran anak pertamanya. Meski hidupnya singkat, ia berhasil meningkatkan status sosial perempuan Indonesia dan menyoroti isu-isu kunci mengenai ketidaksetaraan gender.

Saat ini banyak perempuan Indonesia yang menjadi pemimpin, atlet, ilmuwan, chef, dan masih banyak lagi. Hal ini membuktikan bahwa wanita juga mampu melakukan banyak hal seperti pria.

Ia meninggal pada tanggal 17 September 1904 di Kabupaten Rembang, Jawa Tenga. Ia dimakamkan di Desa Bulu. Seorang Belanda bernama Jacques H. Abendanon berinisiatif menerbitkan surat-surat Kartini dalam sebuah buku berjudul  “Habis Gelap Terbitlah Terang”, tepat tujuh tahun setelah dia meninggal.

Wanite tersebut telah memberikan dampak yang besar bagi emansipasi wanita di Indonesia karena bukunya, “Habis Gelap Terbitlah Terang”, menginspirasi banyak wanita di Indonesia. Karena dedikasinya, Presiden Soekarno menyatakan 21 April (yang merupakan tanggal lahir Kartini) sebagai “hari Kartini.”

2 Comments
  1. […] Baca Juga : Diperingati Setiap 21 April, Begini Sejarah Hari Kartini […]

  2. […] Baca juga: Diperingati Setiap 21 April, Begini Sejarah Hari Kartini […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.