Berita Nasional Terpercaya

Sejarah Selad Solo, Kuliner Unik Khas Surakarta

1

Bernas.id – Selat Solo adalah salah satu jenis makanan populer di wilayah Surakarta, Jawa Tengah. Jenis makanan tersebut akan mudah Anda temukan di berbagai sudut kota Surakarta.

Makanan dengan cita rasa asam dan segar ini juga banyak diburu oleh pecinta kuliner.  Bahkan, tak sedikit orang yang sengaja mampir ke Surakarta hanya untuk mencicipi sajian lezat ini.

Namun, tahukah Anda di balik kelezatan Selat Solo ternyata ada sejarah panjang yang tak terlupakan? Begini kisah lengkap sejarah Selat Solo:

Percampuran Dua Budaya

Selat Solo merupakan makanan yang tercipta dari asimilasi dua budaya, yakni Eropa dan Jawa. Makanan ini memang banyak mendapat pengaruh dari kuliner khas Eropa. Nama “Selat” sendiri merupakan gubahan dari kata “Salad”.

Yah, sesuai dengan namanya, kuliner khas Jawa Tengah ini terdiri atas sayur mayur yang dilengkapi dengan potongan daging atau galantin. Beberapa orang juga menyebut makanan ini sebagai steak khas Jawa.

Satu porsi makanan ini berisi sayuran rebus seperti wortel, kentang, selada, tomat, mentimun, dan brokoli, yang dicampur dengan irisan daging dan siraman kuah dengan citarasa asam segar. Kuahnya sendiri terbuat dari bawang putih, bawang merah, kecap manis, irisan bawang bombay, kecap manis, garam penyedap rasa, lada dan bubuk pala.

Kuliner ini sangat cocok disantap di tengah cuaca yang panas karena cita rasanya yang menyegarkan. Biasanya, selat solo disajikan sebagai hidangan pembuka, bukan main course atau hidangan utama.

Baca juga: Diperingati Setiap 21 April, Begini Sejarah Hari Kartini

Sejarah Selat Solo

Kuliner unik ini merupakan buah penjajahan dari kolonialisme Belanda. Munculnya selat Solo dimulai ketika Benteng Vastenburg, yang merupakan tempat perundingan Kasunanan Surakarta dan Pihak Belanda berembuk, dibangun.

Setiap kali terdapat pertemuan atau perundingan, selalu tersedia jamuan makan di meja. Kebetulan pada saat pertemuan, terdapat perbedaan selera antara kedua delegasi.

Jenderal Hindia Belanda saat ini ingin memakan steak atau daging. Namun, Raja Surakarta yang berkuasa saat itu ingin mengkonsumsi sayuran. Beliau menganggap steak sebagai makanan tak baik untuk kesehatan karena kadar lemaknya yang tinggi.

Melihat perbedaan tersebut, koki istana berinisiatif menggabungkan resep dari steak dan salad. Di Belanda, daging steak biasanya berupa potongan daging sapi besar yang diasap dan diberi tambahan beberapa potongan besar kentang goreng. Namun, raja Surakarta saat itu tidak terbiasa makan dengan porsi daging yang besar.

Oleh karena itu, porsi daging pun dikurangi. Daging juga sengaja tidak disuguhi dengan saus karena dianggap tidak sehat. Oleh karena itu, koki istana menyuguhkannya dengan kuah asam yang hampir mirip dengan kuah empek-empek.

Karena daging dan kentang dianggap belum memenuhi kandungan gizi yang seimbang, koki istana juga menambah beberapa sayuran seperti timun, selada, tomat, brokoli, dan buncis.

Baca juga: Thailand Menjadi Destinasi Terfavorit Usai Perbatasan Dibuka

Modifikasi Selat Solo

Seiring waktu, pencampuran kuliner antara Jawa dan Belanda ini terus diperjualbelikan. Agar tidak mudah basi, timun yang awalnya disajikan dalam keadaan segar pun diasinkan terlebih dahulu. Ternyata, hal itu justru menambah kenikmatan rasa makanan.

Setelah itu, Selad Solo juga dimodifikasi dengan ditambahkan dengan campuran telur rebus karena komposisi daging pada makanan tersebut semakin dikurangi. Koki istana menyebut makanan tersebut “salad dengan daging sapi”. Sering waktu, makanan tersebut terkenal dengan nama Selad Solo.

Itulah sejarah Selad Solo yang sangat unik. Surakarta memang dikenal dengan surganya kuliner lezat. Selad Solo menambah daftar kekayaan kuliner di kota tersebut.

1 Comment
  1. […] Baca juga: Sejarah Selad Solo, Kuliner Unik Khas Surakarta […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.