Berita Nasional Terpercaya

Menguak 5 Mitos dan Fakta Terkait Obesitas, Jangan Keliru!

0

BERNAS.ID – Obesitas atau kelebihan berat badan telah memunculkan sejumlah mitos yang beredar di masyarakat, Sementara di sisi lain, banyak orang yang kesulitan untuk menurunkan berat badan.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sedikitnya 2,8 juta orang meninggal dunia akibat obesitas. Meski dulu kerap terkait dengan negara berpenghasilan tinggi, namun kini obesitas juga menimpa penduduk negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Seseorang bisa dengan kelebihan berat badan apabila Indeks Massa Tubuh atau IMT (IBM/Body Mass Index) sama atau lebih dari 25, sementara obesitas IBM-nya sama atau lebih dari 30.

Baca Juga: 10 Makanan Penurun Kolesterol, Wajib Saat Lebaran!

Cara menghitung IMT yakni dengan menghitung berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter atau berat badan (kg) : tinggi badan (m)².

Mitos dan kesalahpahaman tentang obesitas terus tersebar luas di masyarakat. Dalam pembahasan di New England Journal of Medicine, hal tersebut terjadi akibat kurangnya informasi, tidak akuratnya rekomendasi kesehatan, dan alokasi sumber daya penelitian yang terbatas.

Berikut lima mitos seputar obesitas dan fakta sesungguhnya seperti dikutip dari Medical News Today:

Mitos 1: Turunkan Berat Badan dengan Makan Sedikit dan Banyak Bergerak

Ada banyak kasus di mana konsumsi kalori lebih banyak dari kebutuhan tubuh untuk waktu yang lama adalah penyebab langsung obesitas. Memang sebagian besar cara untuk mengurangi obesitas bertujuan untuk menurunkan asupan kalori, meningkatkan aktivitas fisik, atau keduanya. 

Meskipun diet dan olahraga adalah faktor penting, beberapa faktor juga memainkan peran penting dalam mengatasi kelebihan. Faktor yang kerap terlupakan adalah kurang tidur, stres, nyeri kronis, pengganggu endokrin yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon, dan penggunaan obat-obatan tertentu.

Stres, kurang tidur, dan nyeri merupakan faktor yang saling terkait yang bisa menimbulkan kelebihan berat badan. Meski demikian, kasus setiap individu akan berbeda. Jadi, usahakan untuk memperhatikan asupan kalori dan berolahraga serta memperhatikan faktor lain, seperti yang disebutkan di atas.

Mitos 2: Obesitas Menyebabkan Kencing Manis

Faktanya, kegemukan tidak secara langsung menyebabkan kencing manis atau penyakit gula. Tapi ada sejumlah hal penting terkait hal tersebut, yakni:

  • obesitas berisiko terhadap diabetes tipe 2
  • tidak semua orang dengan obesitas berpotensi terkena diabetes tipe 2
  • tidak semua orang yang menderita penyakit gula tipe 2 mengalami obesitas

Baca Juga: Mengenal Seluk Beluk Vegetarian, Gaya Hidup RA Kartini 

Mengutip Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan, diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit akibat kenaikan gula darah karena penurunan sekresi insulin yang rendah oleh kelenjar pankreas.

Obesitas juga merupakan faktor risiko penyakit kecing manis yang terjadi selama kehamilan. Penyakit tipe ini atau gestasional biasanya berupa kenaikan gula darah selama masa kehamilan.

Gangguan ini biasanya terjadi pada minggu ke-24 kehamilan dan kadar gula darah akan kembali normal setelah persalinan.

Mitos 3: Orang dengan Obesitas adalah Pemalas

Memang kalau kurang bergerak itu adalah salah satu faktor yang menyebabkan orang memiliki berat badan berlebih. Sebaliknya, kalau banyak bergerak maka membantu mengurangi berat badan.

Tapi, bukan berarti orang yang kelebihan berat badan kurang banyak bergerak. Dalam sebuah penelitian pada 2011 terhadap 2.832 orang dewasa berusia 20-79 tahun selama 4 hari menghasilkan temuan sebagai berikut:

  • Mereka dengan berat badan ideal berjalan 8.819 langkah
  • Mereka yang kelebihan berat badan berjalan 8.509 langkah
  • Mereka yang mengalami obesitas berjalan 7.546 langkah

Meski mereka yang kelebihan berat badan dan mengalami obesitas jumlah langkahnya lebih sedikit daripada yang punya berat badan ideal, namun selisihnya tidaklah jauh.

Padahal, orang dengan kelebihan berat badan itu harus menghabiskan lebih banyak energi untuk berjalan setiap langkahnya. Namun, bukan berarti aktivitas fisik tidak penting bagi kesehatan.

Baca Juga: Manfaat Teh Hijau Untuk Kesehatan Jiwa dan Raga

Ada faktor lain yang penting juga, yaitu tidak semua orang mampu melakukan aktivitas fisik. Misalnya mereka yang disabilitas sehingga kesulitan bergerak.

Bahkan mereka yang memiliki masalah kesehatan mental tertentu dapat mempengaruhi motivasi untuk melakukan aktivitas fisik. Hal ini tampak memicu adanya hubungan antara depresi dan kegemukan sehingga memperdalam kompleksitas.

Selain itu, orang dengan berat badan berlebih kerap mendapat citra negatif yang membuat mereka mengalami ketakutan jika meninggalkan rumah.

Mitos 4: Obesitas Bisa Karena Keturunan

Sejumlah orang memang berpikir tentang obesitas yang bisa karena faktor keturunan. Sebenarnya, hubungan antara obesitas dan genetik masih kompleks. 

Memahami peran gen dan lingkungan itu sulit, namun orang-orang yang memiliki gen yang sama dan hidup bersama, kemungkinan memiliki pola makan dan kebiasaan gaya hidup yang serupa.

Dalam sebuah studi pada 1990 yang hasilnya telah terbit di The New England Journal of Medicine meneliti kembar yang hidupnya terpisah dan kembar yang hidup bersama.

Peneliti berupaya melihat efek genetik dan lingkungan terhadap berat badan seseorang. Hasilnya, pengaruh IMT sangat besar sedangkan lingkungan masa kanak-kanak memiliki sedikit atau tidak mempengaruhi sama sekali,

Meski demikian, genetik juga tampaknya memainkan peran penting dalam kegemukan. Selama beberapa tahun terakhir, peneliti berupaya mencari gen yang mempengaruhi kemungkinan seseorang memiliki berat badan berlebih.

Ada 50 gen yang terkait dengan kegemukan, namun sebagian besar dengan efek yang sangat kecil. Salah satu gen yang terkait obesitas adalah FTO. Varian tersebut menyebabkan kemungkinan 20%-30% peningkatan obesitas.

Baca Juga: Benarkah Madu Lebih Sehat Ketimbang Gula Pasir?

Meski faktor genetik penting, bukan berarti seseorang yang saudara atau anggota keluarganya memiliki obesitas tidak bisa menghindari kondisi tersebut.

Mitos 5: Obesitas Tidak Mempengaruhi Kesehatan

Pernahkah Anda mendengar seseorang mengatakan ‘Gemuk tidak apa-apa, asalkan sehat’? Padahal ada sejumlah kondisi kesehatan yang terkait dengan obesitas, seperti meningkatnya risiko penyakit kencing manis, tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, osteoarthritis, apnea tidur atau sleep apnea, dan beberapa kondisi kesehatan mental.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat menyatakan mengurangi 5%-10% dari berat badan dapat menghasilkan manfaat bagi tubuh seperti tekanan darah, kolesterol, dan gula darah.

Itulah lima mitos terkait obesitas. Setiap orang ingin selalu sehat, namun mereka dengan berat badan berlebih kerap mengalami stigma yang justru tidak membantu dan bisa merusak.

Leave A Reply

Your email address will not be published.