Berita Nasional Terpercaya

Marak Pelecehan Seksual, Mahasiswa Hubungan Masyarakat Gelar Webinar Bertajuk “We Talk, We Together: Tingkatkan Prestasi, Hentikan Pelecehan Seksual”

2

YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Mahasiswa Hubungan Masyarakat UPN Veteran Yogyakarta berkesempatan menyelenggarakan acara webinar yang mengangkat isu tentang pelecehan seksual yang saat ini kerap terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Dengan mengangkat Tema “We Talk, We Together: Tingkatkan Prestasi, Hentikan Pelecehan Seksual” diharapkan korban dari pelecehan seksual dapat bersuara dan mendapatkan penanganan yang baik.

Menghadirkan pembicara yang berkecimpung langsung dalam pencegahan dan penanganan pelecehan seksual. Pembicara pertama merupakan seorang Ketua Organisasi Perempuan Mahardika, Mutiara Ika Pratiwi dan pembicara kedua seorang Lulusan Magister Psikologi UGM, Hayinah Ipmawati M.Psi, Psikolog selaku Psikolog Pendidikan.

Acara Webinar ini merupakan goals dari tugas akhir mata kuliah Kampanye Humas. Kampanye ini dilatarbelakangi karena maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang telah terjadi di beberapa Perguruan Tinggi, sehingga diwujudkannya sebuah webinar yang diharapkan dapat mengedukasi khalayak luas dengan sasaran mahasiswa.

Serangkaian kampanye ini yang salah satunya berupa webinar menjadi bentuk kepedulian mereka terkait pencegahan, penanganan, dan pendampingan pelecehan maupun kekerasan seksual yang dimulai dari kampus sendiri.

“Saya berharap ini tidak hanya menjadi tugas UAS saja dan berhenti disini, namun dapat ditindaklanjuti kedepannya sebagai wadah bagi mahasiswa,” ujar Dewi Novianti selaku Ketua Program Studi Hubungan Masyarakat.

Baca juga: Kasus Pelecehan Pria Di KPI, Korban Dan Terduga Pelaku Dibebastugaskan

Pemaparan materi yang dibawakan oleh Mutiara Ika Pratiwi dalam webinar ini membahas seputar kasus yang terjadi di Perguruan Tinggi diikuti dengan pemahaman tentang UU TPKS dan memahami pasal tentang pelecehan seksual fisik dan non fisik yang terdapat dalam UU 12 Tahun 2022.

Permen PPKS adalah langkah nyata untuk memutus rantai kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus dimana dosen dapat melaporkan balik korban dan juga pembentukan segera satuan tugas (satgas) pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual.

“UU TPKS penting untuk dipelajari dikarenakan adanya terobosan keterangan korban tidak harus di depan polisi dan dengan mudahnya kita menyampaikan kepada publik hanya perlu satu kali cerita kepada pendamping, korban dapat melaporkannya. Urusan kronologis dan segala macamnya akan dikoordinasikan pendamping dengan pihak polisi. Alat bukti sudah banyak jenisnya, sehingga jika kita tidak ada orang yang melihatnya dapat dilaporkan. Kita harus mendapatkan kepercayaan korban agar korban berani untuk lebih speak up kepada publik, asal mereka bercerita kepada pendamping,” ungkap Ika.

Baca juga: Ridwan Kamil Kutuk Keras Aksi Pelecehan Seksual Belasan Santriwati Anak Di Pesantren

Kemudian, dilanjutkan dengan pemaparan materi yang dibawakan Hayinah Ipmawati, membicarakan dampak yang terjadi pada korban pelecehan seksual dari segi psikologis serta alasan mengapa banyak korban dari pelecehan seksual tidak berani speak up.

Hayin menyatakan bahwa hasil survei dari ruang koalisi publik tahun 2019 kepada 60 ribuan orang, menunjukkan orang yang mengalami kekerasan seksual 18% memakai rok dan celana panjang, 17% memakai jilbab, 16% memakai baju panjang, 14% memakai baju longgar, 14%  lainnya memakai seragam sekolah. Yang salah tetap pelakunya, karena pelaku memiliki dua pilihan untuk memilih melakukannya atau tidak melakukannya.

“Dalam catatan tidak boleh di upload di media untuk menjaga privasi apakah korban mau melaporkan atau tidak harus dengan persetujuan korban. Contoh kasusnya ketika terjadi di tempat umum seperti tangga, angkutan umum, dan sebagainya. Akan tetapi, harus mengetahui juga karakter pelaku karena kita juga perlu menjaga diri sendiri.” ujar Hayin.

Di akhir acara webinar seksual harassment, dapat ditarik benang merah bahwa setiap kasus baik itu pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi terkadang kita sendiri tidak menyadari bahwa itu merupakan bentuk kekerasan seksual. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang berharga harus melakukan pencegahan dan self awareness dalam diri sendiri.

Pengadaan webinar ini oleh Mahasiswa Hubungan Masyarakat UPN V Yogyakarta diharapkan masyarakat lebih peduli dan bisa menjadi edukasi yang baik agar dapat mengurangi adanya pelecehan seksual yang terutama terjadi di Perguruan Tinggi.

Selain itu, dapat memberikan pandangan dan wadah bagi mahasiswa agar menciptakan kampus yang sehat, aman, dan nyaman dalam proses akademik guna meningkatkan prestasi mahasiswa. (den)

2 Comments
  1. Via says

    keren bgtt, semoga pelecehan seksual semakin berkurang

  2. […] Baca juga: Marak Pelecehan Seksual, Mahasiswa Hubungan Masyarakat Gelar Webinar […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.