Berita Nasional Terpercaya

Sespri Kepala BPIP Latih Anak Muda Praktikkan Pancasila dan Moderasi Beragama di Medsos

0

TEMANGGUNG, BERNAS.ID – Kecenderungan anak muda saat ini mencari pengetahuan agama dari internet menimbulkan kekuatiran. Lebih dari setengah populasi (54,37 %) anak muda belajar atau mencoba menjawab permasalahan agamanya dari medsos dan website (blog).

Padahal data yang disuguhkan tidak selalu akurat dan tidak cukup kuat diandalkan sebagai rujukan. Kecenderungan mengandalkan internet ini bisa mengarah pada pemahaman keagamaan yang keliru.

Baca Juga Polisi Ungkap Sindikat Curanmor Di Sleman

Hal itu disampaikan Sespri Kepala BPIP RI, Achmad Uzair Fauzan, M.A., Ph.D dalam keynote speechnya pada acara Dialog Kebangsaan, “Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam kehidupan sosial untuk Temanggung Ayem, Temanggung Gandem” yang diselenggarakan oleh Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, Kamis (16/6).

Dalam penjelasannya, mengutip sebuah hasil riset, Uzair Fauzan menyatakan materi keagamaan yang paling dicari anak muda di internet, misal terkait fikih (58,2%). Menurutnya, jika tidak diimbangi dengan pemahaman isu yang komprehensif, pilihan pendekatan fiqih yang cenderung hitam putih dikuatirkan menimbulkan polarisasi yang tajam di masyarakat.

Uzair menyebut hanya 10 persen informasi internet yang andal dan sesuai dengan hukum yang menjadi tuntunan umum (jumhur ulama) dalam beribadah. Menyikapi hal tersebut, ia pun mengajak anak-anak muda untuk meneladani para tokoh bangsa yang berhasil menuntaskan persoalan dasar negara melalui cara-cara dialog.

Baca Juga Guru Bangsa Buya Syafii Tutup Usia, Ganjar Pranowo Berkisah

“Salah satu karakter utama agama adalah menjaga martabat manusia (setiap agama memiliki misi perdamaian dan kesejahteraan). Tengok sejarah BPUPKI, pada perjalanannya, Soekarno mengubah komposisi dari tim 8 menuju tim 9, hal ini untuk memberi ruang bagi representasi kelompok agama yang lebih luas, sehingga hadirnya Pancasila hari ini meyakinkan kita bahwa ideologi ini dilahirkan oleh orang-orang yg paham terhadap karakter agama,” beber Uzair.

Menurutnya, teladan dialog Bung Karno dan para pendiri bangsa merupakan implementasi dari apa yang sekarang disebut sebagai moderasi Beragama. Moderasi ini diartikan sebagai komitmen bersama untuk menghadirkan keseimbangan semua warga (apapun latar belakangnya), saling menghargai dan bertekad belajar untuk menengahi kemajemukan. Lebih lanjut Uzair menegaskan bahwa moderasi beragama diperlukan untuk menjaga eksistensi NKRI.

Lanjutnya, yang masih menjadi tantangan moderasi beragama hari ini adalah menguatnya politik identitas dan bermunculannya organisasi yang bertentangan dengan ideologi Pancasila. Seperti yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan di media sosial mengenai Khilafatul muslimin, yang menurut pihak kepolisian telah merambah ke 30 sekolah. “Perlu penguatan organisasi yang beraliran moderat untuk melakukan pendampingan terhadap siswa. Dibanding ormas lain, NU lebih punya koneksi dengan siswa dan mahasiswa dalam mengkonstruksi paham keagamaan,” tuturnya.

“Jika setiap guru di sekolah memberikan perhatian dan pendampingan terhadap pendalaman karakter beragama siswanya, kami meyakini tidak ada ruang bagi paham-paham anti Pancasila yang bisa mempengaruhi secara langsung pikiran anak muda kita,” pungkas uzair.

Di depan ratusan peserta yang mewakili beberapa sekolah, kampus dan organisasi kepemudaan, Uzair menyatakan kesediaanya untuk memberikan pelatihan dan pendampingan terhadap anak muda dalam melalukan mainstreaming gerakan positif di media sosial.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua DPRD Temanggung, Yunianto, Wakil Ketua DPRD Muh Amin, Staf Ahli Bupati Kab. Temanggung Tri Raharjo, Rektor INISNU, Dr KH Muh Baehaqi, jajaran Forkopimda Kab. Temanggung dan para Pengurus DEMA INISNU Temanggung. (jat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.