Berita Nasional Terpercaya

Peduli Pelestarian Jamu dan Herbal Indonesia, SLI Selenggarakan International Herbal Scientific Forum 2022

0

BERNAS.ID – School of Life Institute (SLI) telah melaksanakan Seminar Online dengan tema kegiatan International Herbal Scientific Forum (IHSF) 2022. Forum ini membahas tentang obat tradisional yang merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Baca juga: 5 Obat Herbal Paling Populer Dan Banyak Digunakan Di Dunia

Obat herbal ini disebut juga di Indonesia dengan nama jamu sehingga dengan adanya webinar ini, dapat membuka wawasan mengenai bagaimana peran dan manfaat jamu dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam penanganan Covid-19.

Webinar kali ini dilaksanakan pada pukul 08.30-12.30 WIB dengan partisipan sebanyak 129 orang. Peserta dari berbagai kalangan, mulai dari profesor, dosen, dokter, praktisi herbal, hingga masyarakat umum.

Baca juga: 10 Obat Herbal Untuk Menurunkan Berat Badan Di Program Diet Sehat Anda

Pada kesempatan ini, SLI dapat menghadirkan beberapa narasumber yang sangat luar biasa. Diawali dengan sambutan dari perwakilan SLI yaitu Nur Rahmah Awaliah, beliau juga merupakan ketua panitia pelaksana acara webinar tersebut.

“Saya banyak berterima kasih kepada teman-teman SLI yang turut andil dan menyukseskan acara ini. Dan juga kepada Keynote Speaker dan narasumber yang menyempatkan waktunya untuk berbagi ilmu pada partisipan semuanya, dimana saya berharap dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan banyak manfaat kepada Masyarakat Indonesia terutama dalam bidang obat tradisional yang sering kita sebut dengan nama Jamu” ujar Rahmah.

Dr. Jakir Hossain Bhuiyan Masud, MD
Beliau merupakan Expert Member di WHO Digital Health Technical Advisory Group’s (DHTAG), Roster of Experts at World Health Organization dengan Topik: “Artificial Intelligence, herbs, and traditional medicine”.

Beliau menjelaskan mengenai Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) merupakan Kecerdasan buatan memanfaatkan komputer dan mesin untuk meniru kemampuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dari pikiran manusia. Sedangkan herbal adalah kelompok tanaman yang tersebar luas dan bukan termasuk sayuran dan tanaman lain yang dikonsumsi sebagai zat gizi makro, dengan rasa gurih namun obat-obatan herbal merupakan Obat-obatan dari bahan herbal, sediaan hatau produk herbal, yang mengandung bahan aktif bagian dari tanaman, atau bahan tanaman lainnya, atau kombinasi. (WHO).

Lalu apa hubungan Artificial Intelligence dengan obat obatan herbal?
Dalam pengobatan tradisional, teknik AI baru-baru ini digunakan untuk mengembangkan sistem pendukung keputusan resep menggunakan konteks tradisional atau mengeksplorasi khasiat ekstrak dan resep herbal. Kecerdasan buatan/AI ini dapat membantu dokter dalam menemukan perawatan yang tepat di antara banyak pilihan untuk kanker, AI juga membantu dokter mengidentifikasi & memilih obat yang tepat untuk pasien yang tepat,dan  AI mendukung proses pengambilan keputusan untuk obat yang ada & dan dijual dipasaran.

Prof. Dr. Drs. Achmad Syahrani, MS
Beliau merupakan Guru Besar Fakultas Farmasi Inuiversitas Airlangga, yang mengangkat topik Jamu 5.0. Dari materinya beliau menjelaskan bahwa nama jamu diistilahkan sebagai obat tradisional, Covid-19 ini menyadarkan kita bahwa dijaman nenek moyang kita mereka bisa hidup sehat dengan adanya jamu-jamuan ini, jadi jamu adalah warisan budaya dan digunakan secara luas saat ini di Indonesia.

Ternyata menjaga kesehatan bukan persoalan tersedia atau idaknya obat. Harmoni dengan alam dan harmoni secara sosial adalah “OBAT” paling mujarab, untuk menjaga kesehatan kita, karena keduanya adalah sumber kebahagiaan. Jadi, kesehatan, kebahagiaan dan status lingkungan hidup semakin kuat tali temalinya. Obat-obatan adalah rezim masa lalu.

Kini orang berlomba-lomba untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi, untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mengingat daya tahan tubuh adalah OBAT penangkal efektif Covid-19.

Masyarakat tanpa disuruh mulai rajin berolahraga dan berjemur serta mulai mengkonsumsi jamu setiap hari. Dengan adanya budaya minum jamu, maka bangsa indonesia bisa tumbuh dan berkembang, sehingga sampai saat ini masih ada dan eksis di kepulauan nusantara yang merupakan negara kepulauan terbesar sedunia, yang ditumbuhi banyak tanaman tropis, sebagai penghasil “rempah-rempah” yang merupakan bahan baku jamu.
Saat ini dengan kemajuan zaman, dengan teknik hidroponik, tanaman obat/rempah-rempah, bisa tumbuh dan berkembang dengan ditanam sendiri dirumah, sehingga ketersediaan bahan baku jamu terjamin.

Dengan budaya/tradisi minum jamu setiap hari, imunitas atau daya tahan tubuh akan meningkat, sehingga diharapkan terhindar dan terlindungi dari Wabah Pandemi Covid-19 dan juga penyakit-penyakit lainnya.

Ternyata Pandemi Covid-19 mempercepat kita beradaptasi dengan RI 4.0. Pandemi Covid-19 secara tidak disadari menggiring kita pada kehidupan baru yang merupakan cerminan RI 4.0. RI 4.0 hanyalah cara hidup, namun kalau kita ingin survive maka cara hidup juga harus berkembang menyesuaikan zaman, yang survive bukanlah yang paling kuat dan paling pinter, tapi yang responsif terhadap Perubahan.

Kita harus memanfaatkan situasi dan kondisi pada zaman now – era digital – dengan kemajuan dan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan  membuat aplikasi jamu 5.0, yang akan memfasilitasi kita untuk bisa secara digital memanfaatkan jamu sebagai warisan nenek moyang yang tumbuh dan berkembang diseluruh wilayah kepulauan nusantara wilayah negara indonesia yang merupakan negara dengan kekayaan biodiversitas tertinggi di dunia, untuk mewujudkan kemandirian.

Selain usulan program aplikasi jamu 5.0, perlu didesain penelitian untuk pengembangan produk jamu 5.0 dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, berupa adanya  nanotekno logi, yang bisa membuat ukuran partikel senyawa obat yang diperoleh dari tanaman obat menjadi ukuran nano, sehingga diharapkan akan membuat senyawa obat memiliki khasiat yang lebih potensial, sehingga jamu sebagai warisan nenek moyang, bisa dibuat menjadi produk zaman new normal – now : jamu nanotek.

Semoga secara ilmiah, segera bisa dibuktikan bisa lebih melindungi manusia dari wabah pandemi covid-19 serta penyakit2 lainnyasebagai jawaban atas tantangan adanya perubah an zaman, dengan adanya produk jamu nanotek, dengan pro mosi yang berisi informasi ilmiah hasil penelitian, mau pun hasil formulasi berupa produk yang memenuhi syarat dan pemasaran.

Dr. (Cand) dr. Inggrid Tania, M.Si
Beliau merupakan Ketua Umum PDPOTJI atau Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia dengan topik Strategi Pemanfaatan Jamu di Era Digitalisasi dan Kebijakan di Indonesia. Selain Indonesia merupakan negara Megabiodiversitas, dengan begitu banyaknya suku bangsa akhirnya pengetahuan tentang pengobatan juga sangat kaya.

Istilah jamu sudah melekat dan menyebar hampir diseluruh Indonesia, yang merupakan obat tradisional yang berbasis biologi dengan bahan pangan fungsional. Sama dengan narasumber sebelumnya, beliau juga mengemukakan bahwa jamu merupakan warisan budaya yang turun temurun yang dikenal secara luas untuk pemeliharaan kesehatan, kebugaran, pencegahan dan pengobatan penyakit, pemulihan kesehatan dan juga kecantikan.

Obat tradisional sendiri memiliki klasifikasi yang tentunya tidak asing lagi bagi masyarakat, yaitu Jamu (obat herbal yang keamanan dan khasiatnya telah dibuktikan secara empiris), Obat Herbal Terstandar (OHT) (keamanan dan khasiatnya dibuktikan secara ilmiah melalui uji praklinik dan uji klinik serta bahan baku produknya telah distandarisasi) dan Fitofarmaka (keamanan dan khasiatnya telah dibuktikan secara ilmiah melalui uji praklinik dan klinik serta bahan baku dan produknya telah distandarisasi dengan gold standar).

OHT dan fitofarmaka termasuk kedalam OMAI (Obat Modern Asli Indonesia). Adapun pada tanaman, baik kering (ekstrak) maupun basah, jus, oil dll masih merupakan cakupan dari Obat tradisional.

Dari 50 % obat obatan konvensional dan kimia yang beredar saat ini, 50% lagi berasal dari alam dan terdapat 27 obat obatan anti-kanker merupakan berasal dari alam baik dari tanaman, hewan maupun hasil laut. Diakhir materinya beliau berpesan: Dibutuhkan kolaborasi multiheliks yang mendukung percepatan penelitian dan pengembangan jamu, OHT dan Fitofarmaka serta pemanfaatannya pada masyarakat, dengan tetap mengedepankan standar keamanan dan manfaat agar bisa diintegrasikan secara best practice dan legal pada pelayanankesehatan.

Dengan adanya pandemi COVID-19 maka semakin besar kebutuhan akan percepatan penelitian dan pengembangan herbal Indonesia, di mana herbal Indonesia telah menunjukkan perannya dalam memodulasi daya tahan tubuh dan berpotensi digunakan sebagai upaya promotif, preventif, atau kuratif (sebagai terapi komplementer, dan berpotensi sebagai terapi definitif), perlunya pengkajian terhadap Peraturan-peraturan lama yang tak lagi selaras dengan upaya percepatan penelitian dan pengembangan serta pemanfaatan jamu/herbal Indonesia dan integrasinya ke dalam pelayanan Kesehatan dan Dokter sebagai healthcare practitioner yang paling sentral perlu memiliki pengetahuan tentang pengobatan tradisional/herbal dan kompetensi dalam mengintegrasikan 2 paradigma pengobatan (tradisional & konvensional) yang berbeda, ke dalam pelayanan kesehatan.

Misalnya dengan cara: insersi kurikulum pengobatantradisional komplementer/herbal ke dalam kurikulum inti pendidikan kedokteran dan penguatan kompetensi dokter.

dr. Dito Anurogo, M.Sc
Beliau merupakan seorang PhD Student at Taipei Medical University,Taiwan) topik: Nanoimmunoherbalmedicine 5.0. Diawal beliau menjelaskan bahwa Nanoimmunoherbalmedicine merupakan gabungan ilmu Nano technology atau medicine dengan Imunologi (Sistem Imun) dan Herbal Medicine. Beliau juga menyampaikan sejarah pengobatan tradisonal di Indonesia dimana jamu ini merupakan minuman bersejarah.

Herbalnanomedicine (HNMs) sudah digunakan sebagai nano formulasi dan merupakan suatu obat yang berukuran nano yang mengandung obat herbal berupa ekstrak. Nanopartikel ini memiliki banyak kandungan dan bentuk serta tipe. Nanopartikel ini memiliki klasifikasi berupa organik, inorganik dan didalam aplikasinya dapat digunakan sebagai rekayasa jaringan dan lain-lain.

Nanopartikel ini juga dapat diaplikasikan melalui drug delivery, makanan, pengobatan kanker, kecantikan/kosmetik dan lainnya.
Penggunaan obat-obatan herbal berupa Nigella Sativa L. (jinten hitam) yang memiliki manfaat anti-bakteri,anti-jamur, anti-oksidan dapat melindungi lambung, hati dan paru-paru (anti asma), dan masih banyak manfaat lainnya.

Menariknya, penulis lebih dari dua puluh buku tersebut juga mengemukakan beberapa penakluk alami Covid-19, salah satunya  Cannabis Sativa L. (Ganja) yang sudah diteliti diteliti dapat mengobati Covid-19 dan beberapa gejalanya. Tidak hanya itu, ganja juga dapat mengobati glaucoma, depresi, neuralgia, sclerosis, alzeimer dan meringankan gejala HIV/AIDS dan kanker.  Penakluk alami lainnya seperti jeruk manis, madu alami yang memiliki banyak manfaat lainnya.

Seluruh materi yang dibawakan disambut hangat dan mantap oleh partisipan, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang diberikan kepada semua narasumber. Selain itu, terlihat lebih dari seratus partisipan yang bertahan hingga akhir kegiatan. Di awal dan di akhir acara juga dilakukan pemberian kuis oleh panitia pelaksana.

(Liputan kegiatan ditulis oleh Nur Rahmah Awaliah selaku ketua panitia IHSF 2022, mahasiswa FKIK Unismuh Makassar yang sedang internship di School of Life Institute. Artikel ini telah disupervisi oleh dr Dito Anurogo MSc)

Leave A Reply

Your email address will not be published.