Berita Nasional Terpercaya

GEMPAR Usulkan TWC Gandeng Kelompok Agama Kelola Candi Borobudur dan Prambanan

Bupati Sleman – 17 Agustus 2022
0

JAKARTA, BERNAS.ID – Pengelolaan Candi Borobudur mestinya juga menggandeng kelompok Agama Hindu dan Buddha, karena Candi Borobudur bukanlah tempat pariwisata tapi juga tempat berlangsungnya ritual keagamaan.

Seperti yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia pada Februari (11/2/2022) lalu, Candi Borobudur menjadi salah satu Candi yang resmi dimanfaatkan sebagai tempat ibadah massal bagi umat Hindu dan Buddha Indonesia dan dunia.

Namun, wacana kenaikan Harga Tiket Naik ke Candi Borobudur yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi pada Juni lalu, sebagai salah satu upaya untuk menjaga kelestarian Candi Borobudur membuat banyak argumen di masyarakat bermunculan.

Baca Juga : Begini Kata Sandiaga Terkait Wacana Kenaikan Tiket Borobudur

Generasi Muda Pembaharuan Indonesia (GEMPAR) merasa keputusan ini bukanlah solusi yang tepat, karena fokusnya hanya membatasi aspek kelas ekonomi. Sebaiknya, PT Taman Wisata Candi (TWC) mengutamakan kerjasama dengan berbagai pihak, seperti
Kelompok Agama Hindu dan Buddha.

“Dalam hal menjaga dan melestarikan Candi Borobudur seharusnya tidak mencoba membatasi dari aspek kelas ekonomi. Namun, pemerintah seharusnya bisa menjalin kerjasama dengan banyak stakeholder misalnya Kelompok Agama Hindu dan Buddha. Karena candi ini juga bukan hanya sebagai tempat wisata tetapi juga sebagai tempat ritual keagamaan,” ujar Ketua Bidang Parekraf GEMPAR, Juanda Rovelim dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/6/2022).

Juanda menambahkan, organisasi kemasyarakatan yang aktif menggandeng para pemuda Kristen Protestan dan Kristen Katolik di Indonesia ini, melihat upaya menjaga kelestarian di daerah Candi
Borobudur belum maksimal. Misalnya dalam hal membuang sampah, hingga mengingatkan pengunjung untuk tidak menaiki stupa.

Baca Juga : Kenaikan Harga Tiket Naik Candi Borobudur Ditunda

“Kita masih bisa banyak melihat pengunjung yang bisa menaiki stupa, padahal jika dinilai dari sisi keagamaannya apa yang dilakukan tersebut menjadi hal yang kurang
sopan,” terang Juanda.

Lebih lanjut, Juanda juga menjelaskan bahwa Kelompok Agama Hindu dan Budha dirasa tepat untuk membantu menjaga kelestarian, karena diperlukan kesadaran kepada para pengunjung bahwa Candi Borobudur bukan hanya sebagai tempat wisata tetapi juga tempat beribadah.

“Misalnya di Bali, ketika kita melihat bahwa tempat itu digunakan sebagai tempat sembahyang, maka orang akan merasa segan dan tidak akan melakukan tindakan yang dirasa kurang menghormati,” tuturnya.

“Kita berharap, dengan adanya kolaborasi dengan berbagai pihak kedepannya bisa membantu menjaga kelestarian tempat wisata bersejarah khususnya Candi Borobudur. Tanpa harus menaikkan tarif sebagai salah satu kebijakan dalam menjaga Taman Wisata Candi khususnya Candi Borobudur,” pungkasnya. (cdr)

Leave A Reply

Your email address will not be published.