Berita Nasional Terpercaya

Terobosan UTY Bersama HC Dig Me Club Persempit Kesenjangan Industri dan Perguruan Tinggi

0

JAKARTA, BERNAS.ID – Upaya-upaya inovasi dan pembenahan di dunia pendidikan tinggi merupakan agenda penting yang selalu mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Telah banyak dilakukan upaya terobosan oleh kampus-kampus untuk menjawab tantangan dan harapan pemerintah serta masyarakat.

Salah satunya dilakukan oleh Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) dengan menggandeng Human Capital Digital Media Club (HC Dig Me Club) yang merupakan wadah para manajer HRD grup-grup media nasional di Jakarta. Kerjasama keduanya ditandai dengan penyelenggaraan acara silaturahmi dan diskusi bertajuk “Sinergi Sektor Industri dan Perguruan Tinggi” di Hotel Menara Bidakara, Jakarta, Rabu (6/7).

Dalam sesi pembuka diskusi, hadir Rektor UTY, Dr. Bambang Moertono Setiawan, MM., Ak., CA. dan Direktur TV One, DR. Dudi Hendrakusuma. Dalam sesi diskusi ini, Bambang banyak memaparkan inovasi perguruan tinggi menjawab kebutuhan dunia industri. Sementara itu, Dudi menguraikan tantangan-tantangan yang dihadapi industri media dalam memenuhi kebutuhan SDMnya.

Baca Juga Guru Bangsa Buya Syafii Tutup Usia, Ganjar Pranowo Berkisah

Acara diskusi ini ditandai pula dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara HC Dig Me Club yang diwakili oleh Ketua Steering Committte HC Dig Me Club, DR. Hery Kustanto, MM dengan Rektor UTY. Hery Kustanto merupakan VP Human Capital & Corporate Service PT. Net Mediatama Televisi (NET).

Salah satu poin yang dituangkan dalam nota kesepahaman ini adalah kesempatan pemagangan mahasiswa UTY di media-media nasional. Kegiatan magang di industri media ini mendapat perhatian khusus dari UTY.

“Kami melihat masih adanya kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dengan dunia kerja. Untuk mempersempit gap inilah, kami berinisiatif menggandeng dunia industri, termasuk bersama HC Digme Club,” ujar Bambang.

Lewat kerja sama ini kedua belah pihak mendapat keuntungan. UTY mendapatkan mitra-mitra untuk mahasiswa-mahasiswanya magang di perusahaan media nasional. Sementara dari media, berkesempatan untuk memantau talenta-talenta potensial lebih awal yang memungkinkan untuk direkrut.

Bambang menjelaskan bahwa program magang dua semester ini sebenarnya telah mereka rancang dalam kurikulum baru UTY sejak tahun 2017, sebelum digulirkannya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Seperti diketahui, MBKM merupakan terobosan Mendikbud Nadiem Makariem yang bertujuan mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan sebagai bekal memasuki dunia kerja. Hal ini kemudian diwujudkan melalui Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang telah ditetapkan sejak 24 Januari 2020 melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 tahun 2020.

“Kami terapkan kurikulum baru yang selaras dengan standar baru tersebut sejak 11 Juli 2020,” kata Bambang.

Dengan standar baru ini, mahasiswa akan belajar satu semester di luar program studinya di kampus yang sama. Lalu dua semester belajar di luar kampus, seperti magang di perusahaan.

“Tak hanya magang, kerjasama dengan industri media ini memungkinkan mahasiswa kami untuk melakukan penelitian di tempatnya magang, dan melaksanakan proyek independen misalnya bikin kreasi acara,” papar Bambang.

Menariknya, Bambang juga mengungkapkan bahwa pihaknya tak hanya memagangkan mahasiswa, tapi juga dosen. Tujuan dari magang dosen ini agar para pengajar ini juga mendapatkan gambaran yang utuh antara teori dan praktek di lapangan.

Baca Juga Mendagri Ajak Seluruh Daerah Kelola Sampah Dengan Baik

Sistem pemagangan merupakan bagian dari sinergi antara industri dan pendidikan tinggi. Di luar manfaat praktis dalam hal pengembangan SDM, Bambang mengingatkan bahwa setiap pengeluaran perusahaan yang dikarenakan oleh adanya kegiatan magang ini, nilainya bisa dikonversi menjadi pengurangan pajak.

Hal ini sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur pengurangan pajak sampai 200% dari total biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan untuk mengelola pemagangan. Lebih besar lagi, perusahaan bisa mendapat pengurangan pajak yang nilainya 300% dari total biaya yang telah perusahaan keluarkan untuk riset bersama kampus.

“Pemerintah sebenarnya telah mendorong tumbuh kembangnya kultur riset dan inovasi antara kampus dan industri melalui peraturan tersebut. Nah kami ingin mewujudkannya bersama rekan-rekan industri media,” pungkas Bambang.

Pada acara ini, hadir eksekutif HRD hampir semua grup media nasional. Mulai dari NET, MNC Group (RCTI, Global TV, MNC TV, INews), Viva Group (ANTV, TV One, Vivanews), Trans Media (Trans TV, Trans7, CNN Indonesia, Detik), Emtek Group (SCTV, Indosiar), Metro TV, RTV, dan beberapa digital media lainnya.

Pada sesi ramah-tamah bersama para eksekutif HRD ini, Bambang mengatakan,”Dengan adanya kurikulum baru ini kami berharap mahasiswa dan lulusan UTY bisa lebih kreatif, inovatif dan jadi generasi unggul. Seperti tagline UTY, cepat lulus, cepat berkarir, dan cepat sukses”.

UTY merupakan perguruan tinggi swasta yang berdiri pada 23 Oktober 2002. Kampus ini merupakan penggabungan dari tiga perguruan tinggi, yaitu STIE Yogyakarta (STIE YO), Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO), dan Sekolah Tinggi Manajemen dan Informatika Komputer Dharma Bangsa (STMIK DB).

Saat ini UTY mengelola 14 ribu mahasiswa yang tersebar di 27 program studi. Beberapa program studi baru juga mereka rintis, dua diantaranya adalah program studi sains data dan program studi informatika medis di Fakultas Sains dan Teknologi. “Ini bagian dari visi kami menjawab tantangan revolusi industri 4.0 yang akan memunculkan profesi baru dengan keahlian baru,” ujar Bambang.

Di akhir acara, Bambang menyampaikan harapannya agar kerjasama dengan Human Capital Digital Media Club (HC Dig Me Club) ini berjalan lancar dan semakin mendekatkan dunia perguruan tinggi dengan industri. Mengingat sinergi kedua sektor ini sangat strategis untuk kemajuan dan daya saing SDM Indonesia. (*/jat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.