Berita Nasional Terpercaya

Para Peneliti Lintas Dunia Saling Berbagi Riset di ICoSI 2022

0

YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Peningkatan kapasitas dan percepatan adopsi teknologi menjadi penting untuk menyikapi isu pembangunan berkelanjutan pada kehidupan manusia secara global berkaitan dengan pemanfaatan pengaruh global dan adanya revolusi industri 4.0. Untuk itu, International Conference of Sustainable Innovation (ICoSI) ke-6 2022 mengangkat tema “Optimizing Global Benefit for Future Wellbeing”.

Banyak aspek yang dibahas dalam ICoSI ke-6 seperti ilmu kesehatan dan keperawatan, agribisnis, ilmu sosial, hukum, bahasa, dan lainnya. Antusias yang tinggi peserta ICoSI 2022 dapat dilihat dari jumlah peserta yang mencapai 1.106 peserta dari berbagai kalangan dan negara.

Baca Juga Pemda DIY Diminta Bertanggung Jawab Kelola Sampah Secara Profesional

Zuhud Rozaki, PhD, Ketua Pelaksana ICoSI 2022 mengatakan peserta ICoSI 2022 berasal dari 29 negara dari 5 benua seperti Australia, Prancis, Hongkong, India, Iran, Irak, Japan, Afrika Selatan, Swedia, dan lainnya.

“Teknologi berkembang dengan pesat sehingga melalui konferensi internasional ini, kita sebagai dosen, peneliti, pelajar, dan praktisi dapat berkontribusi pada masa depan dan pada kehidupan manusia,” ujarnya, Rabu (20/7).

Rektor UMY, Prof Dr Gunawan Budiyanto, MP, IPM, saat membuka ICoSI 2022 mengatakan konferensi internasional ini sangat penting karena tantangan kesejahteraan masa depan dapat teratasi jika dilakukan bersama-sama.

“Para peneliti dari bidang sosial maupun eksakta harus dapat bekerja sama. Dalam ICoSI keenam ini terdapat beragam bidang keilmuan yang mencakup hampir semua aspek kehidupan, ICoSI 2022 menekankan pada kebersamaan,” tuturnya.

Baca Juga Mendagri Ajak Seluruh Daerah Kelola Sampah Dengan Baik

Dalam kesempatan yang sama, Prof Teuku Faishal Fathani, Pelaksana Tugas Direktur Riset, Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendikbudristek memaparkan transformasi instansi pendidikan tinggi dalam pemeliharaan sumber daya manusia yang kreatif dan kompetitif untuk inovasi berkelanjutan.

Ia menjelaskan pada tahun 2022 posisi Indonesia masih berjuang sebagai negara ekonomi dengan pendapatan upper middle, sedangkan Indonesia memiliki visi untuk menjadi negara dengan pendapatan tinggi pada tahun 2045 mendatang.

“Untuk itu kita perlu improvisasi banyak hal, inovasi, bisnis, dan riset. Dalam hal ini kita memiliki empat pilar transformasi di antaranya adalah lolos dari jebakan ekonomi berpenghasilan menengah dengan melakukan berbagai inovasi ekonomi, memperbaiki indeks daya saing dengan meningkatkan inovasi, memenuhi ekspektasi masyarakat dengan menghadirkan agen perkembangkan ekonomi, serta memperbaiki daya saing universitas dengan meningkatkan publikasi internasional,” bebernya.

Pada akhirnya, Prof Teuku menyebut bangsa ini juga harus melakukan perbaikan daya saing dan kesejahteraan masyarakat. Ia pun berharap melalui konferensi internasional seperti ICoSI dapat menjadi salah satu cara untuk memperbaiki daya saing universitas melalui diskusi intens dengan para pemangku kepentingan. (jat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.