Berita Nasional Terpercaya

Pihak Kepolisian Bersaksi Trafficlight Menyala 24 Jam

0

SLEMAN, BERNAS.ID – Sidang perkara kecelakaan lalu-lintas di Simpang Empat Condongcatur Sleman memasuki tahap persidangan pembuktian dan saksi di PN Sleman, Selasa (2/8). Saksi yang dihadirkan dari pihak kepolisian Polsek Depok Timur, Pemilik Kendaraan, dan Ayah Korban.

Sebelumnya, telah terjadi kecelakaan lalu-lintas antara sepeda motor dan mobil pick up terjadi di simpang empat Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu dinihari 9 Maret 2022. Pengendara motor dinyatakan meninggal dunia akibat kecelakaan itu.

Kepada awak media, Kapolsek Depok Timur, Kompol Maryadi Endar Isnianto saat itu menuturkan mobil pickup menerobos traffic light hingga membentur kendaraan sepeda motor dan berhenti setelah membentur tiang traffc light, kemudian terguling.

Baca Juga Polisi Ungkap Sindikat Curanmor Di Sleman

Sidang perkara bernomor 324/Pid.Sus/2022/PN SMN dipimpin oleh Hakim Ketua Kun Triharyanto, SH, MHum dan Jaksa Penuntut Umum, Rahajeng Dinar Hanggarjani. Terdakwa bernama AFH (22), warga Temanggung.

Di persidangan, Hakim Ketua Kun bertanya ke saksi dari kepolisian dari Polsek Depok Timur atas nama Kuskendar terkait lampu traffic light di Simpang Empat Condongcatur berfungsi selama 24 jam. Saksi Kuskendar menjawab selalu berfungsi karena persimpangan Condongcatur termasuk jalan raya utama. “24 jam, nyala terus. Merah, kuning, hijau,” jawabnya.

“Banyak yang bilang, ketika dievakuasi Condongcatur lalu-lintasnya ramai,” katanya.

Saksi dari kepolisian dari Polsek Depok Timur, Heri Susilo juga mengatakan saat kejadian, cuaca cerah. Ia juga menceritakan ketika mendatangi RS, korban mengalami cidera kepala, patah tangan kanan dan kaki kanan. “Untuk terdakwa (AFH) masih sadar, lecet ringan, dan bisa komunikasi,” ucapnya.

Untuk pemilik mobil pickup, Toni Hartono, warga Temanggung menjawab pertanyaan Hakim Ketua Kun bahwa terdakwa AFH ini sering menyewa kendaraannya setiap hari seharga 200 ribu sehari. Ia juga meyakinkan Hakim Ketua sudah mengecek kendaraannya dalam kondisi bagus saat itu. Sedangkan, untuk perilaku sopir, ia menjawab kurang tahu.

Baca Juga Suporter Solo Rusuh Di Jogja, Begini Kata Sultan

Kuasa Hukum keluarga korban, Andre Kristian, SH dan Denny Hartanto, SH menyayangkan adanya pasal Pasal 311 ayat (5) UU Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang hilang dalam dakwaan JPU. Padahal, menurutnya, pasal itu ada dalam BAP.

“Pasal 311 harusnya bisa masuk karena ada unsur kesengajaan, tapi tidak masuk dalam dakwaan,” tutur Denny.

Ia juga menyebut AFH menggunakan SIM A, padahal kendaraan barang dengan muatan 1 ton, menggunakan SIM B1. “Saya berharap Hakim menggunakan kewenangan absolut untuk memutuskan perkara ini dengan seadil-adilnya. Hakim bisa memasukkan pasal 311 ke keputusannya nanti,” tukasnya.

Diketahui, pasal 311 ayat 5 berbunyi “Terdakwa dengan sengaja mengemudikan kendaraan bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak 24 (dua puluh empat juta rupiah)”. (jat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.