Berita Nasional Terpercaya

“Waskita Seni”, Pameran Penghormatan Bagi 17 Senior Seni Rupa Dari ISI Jogja

0

BANTUL, BERNAS.ID – Sejak 17 Agustus 2022, di Indieart House Yogyakarta dihadirkan pameran seni “Waskita Seni: Sang Guru Seniman”. Ini adalah bentuk penghormatan pemilik galeri Indieart House yakni I Nyoman Darya (pelukis dan alumni FSR ISI Yogyakarta angkatan 1994) terhadap jejak bakti seni, prinsip berkesenian, dan transmisi pengetahuan para guru/dosen seni yang memiliki ketajaman mata hati, kecerdasan estetik dan kebijaksanaan melalui karya seninya.

Pameran ini bisa dikatakan sebagai tribute bagi tujuhbelas dosen-seniman purnatugas yang sejak awal berdirinya ASRI hingga menjadi ISI Yogyakarta, malang melintang mewarnai dan memperkaya seni rupa Indonesia, hingga melahirkan generasi seniman modern kontemporer. Mereka adalah H. Widayat, Fadjar Sidik, Nyoman Gunarsa, Aming Prayitno, Suwaji, Soewardi, Sudarisman, Subroto Sm., Wardoyo, Wardoyo Sugianto, Edi Sunaryo, Agus Kamal, Effendi, Y. Eka Suprihadi, Nunung Nurdjanti, Titoes Libert, dan Asnar Zacky, yang masing-masing memiliki gaya estetika, eksplanasi, dan formula seninya tersendiri.

I Gede Arya Sucitra, pelukis & dosen Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta selalu penulis pameran dalam artist talk pameran tersebut yang digelar Kamis (1/9/2022) sore menyampaikan, pameran ini cukup berisiko, karena ada sekitar 30 dosen-seniman dari ISI yang sudah purnatugas. Namun hanya 17 yang dipilih berpameran, sehingga seleksi ketat dilakukan.

“Beberapa memang tidak kita libatkan untuk pameran ini,” kata dia.

Ia menerangkan, yang menarik adalah bahwa para peserta pameran tidak memiliki pretensi untuk mendapatkan followers. Kekaryaan mereka sangat unik, dan memiliki gaya khas masing-masing, yang dibuat tidak untuk kesenangan rekreatif maupun tujuan profit semata.

“Mereka tidak mempertimbangkan pada kesenangan-kesenangan,” katanya.

Baca juga: “Well Done”, Pameran Karya 3 Perempuan, Digelar Di Indieart House

Seniman senior Edi Sunaryo yang merupakan salah satu peserta pameran menjelaskan pengalamannya kala menjadi mahasiswa ASRI Jogja. Ia merasa heran karena tidak bisa menikmati karya-kara seni rupa dosen-dosennya yang merupakan Seniman senior. Baru di semester 4, sesudah banyak bergaul dengan Seniman senior, ia bisa menikmati karya-karya mereka.

“Intinya adalah sesuatu itu berharga kalau tahu fungsinya apa, sejarahnya bagaimana,” katanya.

Artist talk pameran "Waskita Seni: Sang Guru Seniman" Di Indieart House, Kamis (1/9/2022) - (foto: Deny Hermawan)
Artist talk pameran “Waskita Seni: Sang Guru Seniman” Di Indieart House, Kamis (1/9/2022) – (foto: Deny Hermawan)

 

Sementara seniman Titoes Libert menjelaskan, sewaktu menjadi dosen, ia selalu menekankan kepada mahasiswanya untuk menganut agama seni. Jadi ia meminta para mahasiswanya di kelas untuk mengedepankan seni budaya, bukan mengedepankan ideologi, iman, atau kepercayaan yang lain.

“Kalau tidak bisa lebih baik keluar [kelas],” katanya.

Baca juga: “Setelah Yang Baur Enggan Usai” Bisa Dinikmati Di IndieArt House

I Nyoman Darya selalu pemilik Indieart House menyampaikan, pameran ini merupakan bagian dari program reguler tahunan IndieBold#2 Indieart House. IndieBold merupakan salah satu event penguat ruang reflektif Indieart House, memuat dialektika intelektualitas dan kreativitas dalam berbagai relasi objek-objek seni, eksistensi seniman
dan peristiwa keseharian dalam medan seni rupa.

“Terwujudnya pameran ini berkat respons hangat dan antusias dari 17 guru-seniman peserta pameran,” kata dia. (den)

Leave A Reply

Your email address will not be published.