Berita Nasional Terpercaya

DIY dan Trenggalek Memiliki Keterikatan Kesejarahan Mataram

0

TRENGGALEK, BERNAS.ID – Ribuan masyarakat memadati sepanjang jalan Alun-alun Trenggalek untuk menyaksikan kedatangan rombongan kirab Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X ke Kabupaten Trenggalek, Kamis (01/09). Kunjungan Sri Sultan menghadiri Malam Puncak Muhibah Budaya Trenggalek 2022 di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Trenggalek.

“Suatu kehormatan bagi delegasi Pemda DIY dapat hadir dalam Muhibah Budaya ini yang bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi bermakna merajut persahabatan untuk merangkai kembali kesejarahan Mataram,” tutur Sri Sultan, Kamis malam (1/9).

Baca Juga Sri Sultan Ikut Beri Masukan Jogja Planning Gallery

Sri Sultan menyampaikan, khazanah sejarah dan budaya Mataram menjadi benang merah yang telah terajut antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Trenggalek, sehingga sudah seyogyanya senantiasa dilestarikan.

Muhibah Budaya Trenggalek 2022 juga menjadi momentum bagi Pemda DIY untuk merajut ulang komitmen memajukan budaya Mataram dengan Kabupaten Trenggalek guna menumbuhkan lagi spirit ke-Indonesiaan.

“Bersama-sama kita nguri-uri kabudayan dalam semangat gendhon rukun, rumangsa melu andarbeni, wajib melu angrukubi,” ujar Sri Sultan.

Dikatakan Sri Sultan, sudah selayaknya warga Trenggalek berbangga karena hidup di sebuah wilayah yang penuh dengan histori dan budaya adiluhung. Trenggalek adalah sebuah daerah yang istimewa, terutama apabila ditilik dari sejarahnya.

Sri Sultan menceritakan keterikatan sejarah DIY dan Kabupaten Trenggalek bermula dari Perjanjian Giyanti tahun 1755, saat itu Kerajaan Mataram terpecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Wilayah Kabupaten Trenggalek terbagi ke dalam dua bagian, Panggul dan Munjungan masuk wilayah kekuasaan Bupati Pacitan, yang mengabdi kepada Kasultanan Yogyakarta, sedangkan bagian lainnya masuk ke dalam wilayah Bupati Ponorogo yang berada di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta.

Baca Juga Muhibah Budaya, Wujud Kerjasama DIY Dan Trenggalek

Selain keterikatan sejarah Sri Sultan mengungkapkan Kabupaten Trenggalek juga memiliki potensi dan cagar budaya yang beragam, sejak periode prasejarah dan berlanjut terus sampai periode sesudahnya.

“Kondisi ini juga sama dengan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang juga memiliki keragaman warisan dan cagar budaya dari periode prasejarah. Jelas sudah, Jogja dan Trenggalek menjadi istimewa juga karena esensi budaya,” ucap Sri Sultan.

Sri Sultan pun menyambut baik inisiatif dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek untuk turut nguri-uri Budaya Mataram yang sejatinya merupakan persembahan untuk anak cucu di masa depan.

Keagungan dan nilai-nilai edi peni dan adi luhung yang terkandung di dalamnya diharapkan Sri Sultan dapat menjadi living tradition di kehidupan masyarakat, diterapkan sebagai tuntunan hidup, demi tercapainya tataran masyarakat yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Tata Tentrem Karta Raharja, mewujudkan Indonesia yang Panjang Dawa Pocapane, Punjung Luhur Kawibawane.

“Saya juga mendukung penuh terjalinnya kerjasama antar kedua daerah. Harapannya, upaya baik ini akan membawa dampak positif dan signifikan bagi kemajuan Kabupaten Trenggalek,” ungkap Sri Sultan.

Adapun dalam kesempatan tersebut, dilakukan penandatangan naskah kesepakatan bersama dan kerja sama antara Pemda DIY dengan Pemerintah Kabupaten Trenggalek oleh Gubernur DIY dan Bupati Trenggalek.

Kerja sama kedua belah pihak tersebut diharapkan dapat menitikberatkan pada sejumlah hal antara lain, yakni pengoptimalan pengelolaan potensi sumber daya secara berkelanjutan, percepatan pemenuhan pelayanan publik, serta pemberian pelayanan dasar masyarakat secara efektif dan efisien guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, ruang lingkup kerja sama ini meliputi kebudayaan dan pariwisata, pendidikan, industri dan perdagangan, infrastruktur, kehutanan dan lingkungan hidup serta kelautan dan perikanan.

Selain itu, tidak kalah penting, dilakukan pula penyerahan pusaka songsong dan waos yang diberi nama Wignyamurti. Penyerahan pusaka tersebut dilakukan langsung oleh Gubernur DIY kepada Bupati Trenggalek.

Wignya memiliki arti pandai sedangkan Murti memiiki arti badan atau penuh. Wignyamurti adalah sebuah harapan agar pemegang pusaka tersebut dipenuhi dengan kepandaian dalam konteks tata praja.

Secara simbolis, Gubernur DIY juga menyerahkan gunungan kepada dalang Ki Edi Suwondo. Gubernur DIY pun dalam kesempatan ini menerima cendera mata berupa lukisan yang diserahkan oleh Bupati Trenggalek.

Lukisan tersebut adalah lukisan yang menggambarkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama Presiden Soekarno. (jat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.