Berita Nasional Terpercaya

Kuasa Hukum Bryan Pertanyakan Kejelasan Perkara Pengeroyokan Holywings di Polda DIY

0

SLEMAN, BERNAS.ID – Tim kuasa hukum Bryan Yoga Kusuma, anak Komisaris Utama Bank Jatim Suprajarto mendatangi Polda DIY untuk meminta keterangan terkait kasus pengeroyokan di Holywings Yogya, Sabtu, 4 Juni 2022 lalu. Kasus pengeroyokan tersebut dianggap jalan di tempat selama ini.

Tim kuasa hukum Bryan yang dipimpin oleh Johnson Pandjaitan ditemui Wakapolda DIY, Brigjen Slamet Santoso di Polda DIY, Senin (12/9). “Kami datang ke sini dalam rangka menindak lanjuti proses yang kami anggap penuh rekayasa dan prasangka supaya semua on the track,” kata Johnson kepada awak media.

Baca Juga Para Pengeroyok Aditya Eka Putranda Sudah Siapkan Senjata Tajam Dan Pemukul

Johnson dengan tim juga ingin memastikan kasus pengeroyokan ini ditangani secara pro justicia, baik itu untuk pelanggaran kode etik ataupun terkait pidana pengeroyokan yaitu Pasal 170 KUHP.

“Akan tetapi ada perkembangan-perkembangan yang sangat mengkhawatirkan. Menurut saya bisa mengganggu kewibawaan dan kehormatan dari institusi, bagaimana menyelesaikan berkas-berkas ini supaya bener, supaya adil transparan sehingga bisa terus dibawa ke pengadilan,” tuturnya.

Menurut Johnson, dalam kasus ini, terduga pelaku tidak hanya dua orang LV dan AR, anggota polisi yang bertugas di Polres Sleman, tapi masih ada juga terduga pelaku lainnya. “Lebih dari 2, yang bisa kita identifikasi ada 5-6 yang secara jelas bisa kita identifikasi,” katanya.

Untuk kasus ini, Johnson meminta keadilan ditegakkan dan oknum polisi yang terlibat diberi hukuman setimpal, misal dipecat. Untuk kasus pengeroyokan ditangani Ditreskrimum Polda DIY dan kode etik ditangani Propam Polda DIY.

Baca Juga Presiden Taiwan Tegaskan Rakyatnya Tak Takut China

Wakapolda DIY, Brigjen Slamet Santoso mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk menangani kasus tersebut sesuai prosedur. Ia menyebut dua oknum polisi yang diduga terlibat penganiayaan itu telah ditangani secara prosedur baik secara kode etik dan pidana.

“Itu sudah kita tangani sesuai dengan prosedur dari mulai titik awal berangkat dari TKP sampai dengan hari ini. Terkait dengan ada beberapa hambatan-hambatan itu karena ada beberapa korban, saksi, yang sampai bulan Agustus itu masih dalam kondisi sakit belum bisa diperiksa. Setiap awal pemeriksaan pasti kita tanya apakah dalam keadaan sehat dan sebagainya,” terang Brigjen Slamet.

Brigjen Slamet mengatakan dalam kasus pengeroyokan tidak ada obstruction of justice seperti yang dikhawatirkan kuasa hukum. Ia memastikan perkara sudah berjalan baik itu dari pidananya maupun dari kode etiknya sampai saat ini.

“Saya pastikan kita laksanakan sesuai dengan prosedur dan tidak ada rekayasa-rekayasa ataupun obstruction of justice. Tidak ada yang seperti itu,” tukasnya. (jat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.