Berita Nasional Terpercaya

Pernikahan Usia Dini di DIY Masih Saja Tinggi

0

YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (P3AP2) DIY memberikan pemaparan hasil kajian studi pernikahan usia anak di DIY, Jumat (16/9/2022). Hasilnya, menurut penelitian tahun 2021, diketahui bahwa angka pernikahan dini menurun, namun tidak signifikan.

Dr. Warih Andan Puspitosari selalu dosen dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY yang juga ketua tim peneliti menjelaskan, pihaknya melakukan penelitian terhadap 400 warga DIY usia 15-59 tahun. Pihaknya melakukan survei secara online menggunakan Google form.

“Jumlahnya 2021 turun dari 3 persen menjadi 2 persen [dari total penduduk DIY],” kata Warih.

Ia memaparkan, jumlah tertinggi pernikahan dini terjadi di Kabupaten Gunungkidul dengan 153 kasus. Ini disusul Kabupaten Sleman, Bantul, Kota Jogja, dan paling kecil Kulon Progo.

“Jumlah yang tertinggi karena kehamilan di luar nikah, bahkan ada yang sudah [anaknya] lahir sebelum mengajukan dispensasi nikah dini,” kata dia.

Baca juga: Fenomena Nikah Muda Harus Terus Diminimalisir

Ia menjelaskan, tingginya angka pernikahan dini adalah karena kurangnya pemahaman di bidang kesehatan, faktor pergaulan, faktor ekonomi, faktor agama, kurangnya pemahaman terhadap aturan, dan perkembangan teknologi.

Berdasar wawancara khusus dengan beberapa pelaku pernikahan dini, ia pun semakin memahami bahwa pelaku pernikahan dini mengalami kerugian kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental.

“Dari kesehatan fisik bisa terjadi gangguan pada organ reproduksi, dan anak terancam gangguan stunting. Sedangkan gangguan psikologis adalah mentalitas yang belum matang. Dari yang kami ketahui, ada yang lalu depresi dan terjadi KDRT,” jelas dia.

Baca juga: Kampanye Pernikahan Dini Harus Dihentikan, Mengingat Dampak-Dampak Negatifnya

Dr. Umi Listyaningsih selalu peneliti dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM yang hadir dalam acara ini selaku reviewer mengkritik metode penelitian, karena kurang jelas apakah itu kualitatif atau kuantitatif. Kurang jelas juga jawaban dari narasumber/responden, apakah itu pengalaman pribadi atau sekadar pengetahuan.

“Tidak ditanyakan juga bagaimana anak [pelaku pernikahan dini] itu memaknai apa itu pernikahan atau apa itu keluarga,” kata dia.

Zuli Marpuji Astuti selaku Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana P3AP2 DIY mengakui, selama beberapa tahun ini memang masih banyak terjadi pernikahan usia dini di DIY maupun daerah lain.

“Kami akan berusaha untuk terus mencegah terjadinya pernikahan dini di DIY,” kata dia. (den)

Leave A Reply

Your email address will not be published.