Berita Nasional Terpercaya

Para Ilmuwan Negara G20 Mencari Terobosan Pengurangan Food Loss and Waste

1

SLEMAN, BERNAS.ID – Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, Republik Indonesia menyelenggarakan workshop teknis regional Food Loss and Waste (FLW) di Yogyakarta, Rabu (5-6/10). Workshop ini merupakan pertemuan para ilmuwan di negara G20 untuk bertukar pikiran terkait FLW, khususnya di negara ASEAN.

Kendala FLW saat ini, penanganan pascapanen yang tidak tepat dan kebiasaan konsumsi masyarakat dalam Food Loss and Waste. Diperkirakan, kebutuhan pangan dunia pada tahun 2050 akan meningkat 50-100% sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 9,7 miliar.

Baca Juga Konsil Kedokteran Indonesia Antisipasi Masuknya Dokter Asing Saat MEA 2025

Ada tujuh pembicara, para ilmuwan Food Loss and Waste berasal dari Jerman, Roma-Italia, Jepang, Thailand, Perancis, dan Indonesia dihadirkan, baik luring maupun daring. 400 peserta workshop meliputi para petani champion, asosiasi petani, akademisi riset nasional dan internasional, praktisi, industri, pembuat kebijakan, regulator, mahasiswa, komunitas, NGO, supermarket, dan pemangku kepentingan lainnya.

Prof Fadjry Djufry, Kepala Balitbang Kementan RI mengatakan Indonesia menduduki posisi nomor dua dari food lost and waste setelah Arab Saudi. Indonesia memiliki tingkat food loss and waste sebesar 13 persen. “Kenapa penting karena efisiensi dan produktivitas bisa naik. Kita bisa menghemat, artinya pendapatan petani bisa naik dengan pengurangan kehilangan pangan,” tuturnya.

“Dampak pengurangan food loss and waste, dari hulu ke hilir, akan terjadi peningkatan produktivitas yang semakin baik,” imbuhnya.

Ia menyebut dari Data Food Waste Indonesia, ada sekitar 344 kg per kapita per tahun, sedangkan Arab Saudi sebanyak 300 kilogram per kapita per tahun. “Dengan menteri pertanian, kita menggerakkan alat-alat mesin panen, menekan food loss dari 13 persen ke 5 persen,” katanya.

“Kita pernah hitung dari 1 butir padi di meja makan, berapa juta saja jika dikalikan 270 juta penduduk Indonesia,” imbuhnya.

Baca Juga Pemda DIY Dukung Satu Data Nasional, Minimalisir Duplikasi Ganda

Lanjut tambahnya, di pesta pernikahan, ada berapa banyak makanan yang terbuang. Terkadang kita ambil makanan berlebihan sehingga sampahnya banyak. Ia menyebut Jerman dan Jepang menjadi contoh negara yang disiplin terkait makanan. “Di Jerman, kalau mengambil berlebihan kita dapat pinalti. Kalau kita bisa menghemat banyak yang bisa kita sumbangkan dengan itu,” ujarnya.

Untuk itu, workshop food loss and waste akan menjadi wadah antar ilmuwan dari negara G20 untuk membicarakan tentang terobosan-terobosan yang dilakukan di negara mereka terkait pengurangan food loss and waste. “Kita mengadopsi dengan menyesuaikan dengan kultur kita,” kata Prof Fadjry.

Workshop bertema “What Reduction on Food Loss and Waste can and must contributed to Sustainable Intensification” ini bekerja sama dengan Thünen Institute, Simon Fraser University, Food Agricultural Organization, Center for Indonesian Policy Studies, United Nations Environmental Programme, Stockholm Environment Institute Asia.

Workshop ini merupakan rangkaian MACS-G20 pada 5-7 Juli 2022 di Bali dan Workshop Teknis Perubahan Iklim pada 3-5 Agustus 2022 di Bogor. (jat)

1 Comment
  1. […] Baca Juga : Para Ilmuwan Negara G20 Mencari Terobosan Pengurangan Food Loss and Waste […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.