Berita Nasional Terpercaya

Masjid Kampus Bisa Jadi Episentrum Intelektualisme

0

YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Selain sebagai tempat beribadah, masjid bisa dijadikan sebagai episentrum intelektualisme, khususnya masjid kampus. Untuk menjadikan masjid kampus sebagai pusat atau episentrum intelektualisme ada beberapa hal yang perlu dilakukan.

Wacana tersebut menjadi benang merah dalam acara Silaturahmi dan Seminar Nasional “Merekonstruksi Peran Masjid Kampus Sebagai Episentrum Intelektualisme Yang Dinamis Berhikmah untuk Mewujudkan Peradaban Bermartabat”. Seminar diselenggarakan oleh Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Ruang Sidang Gedung AR Fakhruddin B lantai 5 UMY, Selasa (17/1/2023).

Baca Juga Pesan Butet Kertaradjasa Untuk Kaesang-Erina, Ojo Pegatan!

Miftahul Haq, S.H.I., M.Si., Ketua umum AMKI Wilayah DIY mengatakan, masjid sebagai pusat atau episentrum diharapkan bisa menjadi penggerak terciptanya peradaban kehidupan masyarakat dan bangsa berbasis intelektual.

“Jadi masjid itu bisa menjadi tempat yang memiliki basis pemikiran. Bagaimana masjid dapat menjadi episentrum intelektualisme untuk membangun masyarakat Islam yang lebih baik,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Prof. Ir. Agus Setyo Mutohar, S.T.,M.Eng.Sc,Ph.D, anggota Dewan Eksekutif BAN-PT, sekaligus takmir masjid kampus UMY mengatakan, bahwa jika ingin menjadikan masjid sebagai episentrum, harus ada inovasi dan inovasi harus terus di kembangkan.

“Inovasi yang dilakukan dalam kajian-kajian ini menjadi penting, kajiannya mungkin bisa sederhana, tapi bisa mengguncangkan dan bisa menjadi episentrum,” tutur Agus.

Baca Juga Gunungkidul Punya Potensi Besar Di Sektor Kerajinan

Dalam kesempatan yang sama Ust. Drh. H Agung Budiyanto M.P., Ph.D, Sekretaris Jenderal Masjid Kampus UGM mengatakan, masjid kampus mempunyai potensi strategis untuk mendorong peradaban umat secara islami di Indonesia.

Menurutnya, masjid kampus tidak hanya menjadi pusat ibadah saja, tetapi juga dapat menjadi sentra utama seluruh aktivitas keumatan, baik sebagai tempat pembinaan dan pembentukan karakter, maupun aspek-aspek lainnya seperti politik, hukum, sosial dan budaya.

“Ada masalah umat, maskam (masjid kampus) menjadi rujukan kalau ada orang miskin tidak diperhatikan, hubungi maskam, kalau ada anak tidak sekolah, hubungi maskam,’’ harap Agung.

Selain seminar, kegiatan silaturahim dan seminar nasional juga diisi dengan diskusi bersama, dan kolaborasi kegiatan-kegiatan kemasjidan kampus di Wilayah DIY, sekaligus juga launching AMKI Muda. AMKI muda diharapkan dapat menjadi penggerak kegiatan-kegiatan AMKI yang lebih besar. (jat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.