Berita Nasional Terpercaya

Sempat Bangkrut, UMKM Pengguna Sampah Alami Kejaya Handicraft Sukses Ekspansi ke Pasar Global

0

BANYUWANGI, BERNAS.ID – Masalah limbah sampah merupakan problematika umum di Indonesia hingga saat ini. Namun di tangan orang-orang kreatif, barang-barang yang sering dianggap tidak berguna bisa diolah menjadi sesuatu yang punya nilai jual.

Salah satunya adalah Khotibin atau yang biasa dipanggil Ibien, pemilik UMKM Kejaya Handicraft Banyuwangi yang berhasil memanfaatkan limbah alami di sekitarnya menjadi barang kerajinan menarik sejak memulai usaha di tahun 1998.

Ibien mengungkapkan bahwa kerajinan miliknya kini berasal dari limbah pelepah pisang, batok kelapa, daun kelapa, bambu, eceng gondok, daun pandan, kayu, dan bahan-bahan alam lain di Banyuwangi. Dirinya mampu melihat semua yang ada di sekitarnya itu sebagai sesuatu yang bisa diolah dan berpotensi menghasilkan profit.

“Kejaya Handicraft itu berdiri tahun 1998, karena waktu itu di Banyuwangi banyak pelepah pisang yang rusak, buahnya beracun, banyak pohon ditebangi, akhirnya berpikirlah untuk memanfaatkan [pelepah pisang] itu sebagai produk,” kata Ibien, Kamis (4/5/2023).

Awalnya Kejaya Handicraft hanyalah bisnis keluarga yang dibuat oleh segelintir orang. Baru kemudian Ibien mengajak tetangga sekitar untuk ikut bergabung menjadi pekerja. Beragam produk pun bisa hasilkan dari pelepah pisang, mulai dari tempat tisu, bingkai foto, produk tas, hingga tempat perhiasan.

Sesudah industri mulai berkembang, bahan yang dipakai pun diperluas. Kelapa pun dipakai untuk bahan baku, mulai dari batang, akar, daun dan lidi, serabut, hingga batoknya.

Tahun 2004, bisnis sudah cukup berkembang, di mana pegawai Kejaya Handicraft bertambah menjadi 100 orang, dan sudah dilirik oleh berbagai pembeli dari luar negeri.

Namun bukan berarti bisnis yang dirintis Ibien lancar-lancar saja. Di tahun 2008, Kejaya Handicraft sempat mengalami pailit karena terlalu banyak karyawan dan manajemen yang bermasalah. Ini mengakibatkan Ibien harus memiliki hutang dalam nominal yang cukup besar.

“Tetapi karena kita sudah punya ilmunya, kita lalu melangkah ke depan dengan lebih hati-hati,” ungkap dia.

Setelah bangkrut, ia menerapkan sistem baru bagi pekerja, yakni sistem borongan, di mana pekerjanya mengerjakan produk di rumah masing-masing. Hanya sedikit saja yang bekerja di kantor. Hasilnya, lebih sedikit aktivitas yang terlihat di kantor, namun sebenarnya semakin banyak orang yang dipekerjakan, dan lebih banyak produk bisa dihasilkan.

“Jadi benar-benar pemanfaatan pemberdayaan ke masyarakat,” ujar pengusaha binaan program BRILianpreneur tahun 2022 itu.

Baca juga: Limbah Kain, Hasilkan Karya yang Istimewa dan Bernilai Tinggi

Hingga saat ini, menurut dia Kejaya Handicraft telah memproduksi ratusan jenis produk kerajinan tangan, dengan mengandalkan tenaga dari sekitar 200 karyawan. Dan sampai sekarang, dirinya memiliki langganan pembeli asing dari Amerika Serikat, Malaysia, Jamaika, hingga Eropa.

“Yang [asing] terbanyak dari Amerika Serikat, dari Hawaii, ada juga dari Florida,” kata dia.

Berbagai produk Kejaya Handycraft (foto: istimewa)
Berbagai produk Kejaya Handycraft (foto: istimewa)

Saat terjadi pandemi COVID-19 pun ia mengaku tetap survive dan tidak meliburkan para karyawannya. Meski omzet sempat menurun banyak, namun saat ini sudah bangkit lagi, mencapai angka 80 persen dari sebelum pandemi.

“Untuk pendapatan per bulan ya lebih dari cukup,” ujarnya enggan menyebut nominal yang dimaksud.

Baca juga: Young Entrepreneurs Boot Camp 2019, Usaha Pelestarian Budaya Lewat Wirausaha Anak Muda

Produk utama yang diproduksi Kejaya Handicraft kini adalah produk seperti tas, dompet, ikat pinggang, kulit bangku atau sofa, hingga boneka harimau. Kerajinan lain yang juga banyak diminati adalah barang kebutuhan rumah tangga, seperti gelas, piring, sendok garpu, meja, bangku, anyaman dari lidi, tas batok, hingga produk untuk kebutuhan kaum wanita.

Harga yang sangat terjangkau membuat Kejaya Handicraft banyak diminati masyarakat sekitar hingga luar negeri. Dari sekitar 500 jenis produk yang dihasilkan, harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 1.000 per item hingga jutaan rupiah.

“Target ke depan adalah mencanangkan regenerasi ke anak saya yang baru menikah, biar anak totalitas di bidang IT, menangani yang online, dibantu menantu, biar fokus untuk lebih mengembangkan [Kejaya Handicraft], biar lebih besar lagi usaha yang ada,” tandasnya. (den)

Leave A Reply

Your email address will not be published.