Berita Nasional Terpercaya

Gelaran Edukasi Batik di Sumbu Filosofi Malioboro

0

YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Puluhan anak-anak jenjang SD hingga wisatawan diajak membatik dengan berbagai teknik dalam gelaran Wisata Berbudaya Sabtu Kliwon Hamzah Batik. Selain itu, mereka mendapatkan edukasi tentang batik seperti membatik menggunakan canting, teknik membatik jumputan, batik cap maupun eco print.

Baca Juga Pemda DIY Siapkan Payung Hukum Soal Tarif Ojol

Siswi SDN Ngupasan, Faiza mengatakan membatik di Malioboro menjadi pengalaman yang pertama dan ternyata menyenangkan, terutama ketika hasilnya sudah diberi warna menjadi indah.

Ia mengakui meski tidak terlalu susah, membatik menggunakan canting dan malam merupakan pertama yang cukup berkesan bagi siswi kelas 6 itu. “Agak susah tapi senang karena baru pertama membuat. Ya semoga bagus, tasnya bisa dipakai dan cantik,” kata Fazia, Sabtu (21/10/2023).

Wisata Berbudaya Sabtu Kliwon Hamzah Batik, yang kali ini mengusung tema ‘Taruntuming Mbatik, Nyawiji Ing Hamzah Batik’. Membatik tas untuk sekitar 30 anak SD yang berada disekitar Hamzah Batik diharapkan dapat lebih mendekatkan batik dengan anak-anak.

Salah satu wisatawan, Nella asal Surabaya mengaku senang bisa ikut membatik cap di kawasan Malioboro tepatnya di pelataran Hamzah Batik.

“Ya saya lagi jalan-jalan di Malioboro, tahunya disini ada even membatik, iya saya baru pertama kali membatik. Tadi saya ikut yang membatik cap,” jelas Nela.

Direktur Hamzah Batik, Bagus Dwi Setiawan mengatakan, wisata berbudaya yang rutin digelar setiap bulan pada hari Sabtu Kliwon menjadi ruang bagi para wisatawan maupun generasi muda untuk lebih mengenal dengan budaya Yogyakarta, khususnya batik.

“Kita tahu Malioboro merupakan ikon Yogyakarta sekaligus salah satu dari sumbu filosofi, makanya kita dari Hamzah Batik rutin menggelar acara budaya di tengah-tengah wisatawan,” kata Bagus.

“Melukis di tas supaya mereka belajar membatik dan tas yang di batik bisa digunakan untuk anak,” kata Dwi.

Menurut Bagus, keterlibatan anak-anak sangat penting karena merekalah yang akan menjaga dan melestarikan. Ia berharap melalui event rutin yang digelar itu akan meningkatkan daya tarik wisata di kawasan Malioboro sekaligus meningkatkan perekonomian di kawasan tersebut.

“Dengan ditetapkannya sumbu filosofi yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO, harapannya masyarakat bisa lebih mengenal dan mencintai budayanya sendiri,” ucap Bagus.

Baca Juga Sri Sultan Bentuk Sekretariat Penanganan Sumbu Filosofi

“Ya kita nyengkuyung atau turut serta melestarikan budaya lokal batik yang juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia. Terlebih kawasan Jalan Malioboro menjadi bagian sumbu filosofi Yogyakarfa yang harus kita jaga bersama, salah satunya memberikan wisata edukasi berbasis budaya,” ujar Bagus.

Dengan adanya Penetapan Sumbu Filosofi Yogyakarta diharapkan bagi generasi muda lebih mencintai budaya lokal bangsa sendiri, agar bisa mengenalkan kepada dunia bahwa budaya lokal masih tetap dilestarikan dan terjaga. (jat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.