Berita Nasional Terpercaya

Festival Hari Raya di Bali Menjadi Daya Tarik Wisata dalam Cultural Tourism

0

BERNAS.ID – Pariwisata Bali yang berkonsep budaya, seni, tradisi dan alam semakin diminati wisatawan mancanegara. Capaian terakhir di awal tahun 2024 ini dari survey wisatawan internasional yang diselenggarakan oleh Tripadvisor melalui Travelers Choice Awards setiap tahunnya menempatkan Bali sebagai peringkat ke-2 dunia sebagai “World Holiday Destination” pada penyelenggaraan tahun 2024 ini.

Sementara peringkat pertama adalah Dubai dan 8 destinasi lainnya di bawah Bali yang masuk 10 besar lainnya adalah London, Hanoi, Roma, Paris, Cancun, Marrakech, Crete dan Hoi An.

Konsep pariwisata budaya (cultural tourism) yang terlihat dari mayoritas penduduk Bali yang beragama Hindu dalam tatanan kehidupan sehari-hari dan kegiatan tradisional akan semakin terlihat sangat kental di bulan Februari-Maret 2024 ini.

Baca Juga : Perayaan Hari Raya Galungan di Pura Agung Jagat Natha Banjarmasin Berlangsung Khidmat

Yakni adanya hari raya terbesar bagi umat Hindu yang jatuh setiap 6 bulan sekali (Hari Raya Galungan dan Kuningan) pada periode 28 Februari – 9 Maret 2024 dan beriringan itu juga ada perayaan pergantian tahun Caka bagi umat Hindu yang dirayakan setiap tahunnya yakni pada 11 Maret 2024. Tahun ini umat Hindu memasuki tahun baru Caka 1946.

Bagi wisatawan, penggiat kepariwisataan dan pemerhati budaya momentum perayaan hari raya Hindu di atas adalah hal yang ditunggu-tunggu. Penjor (hiasan dari batang bambu utuh dengan ujung lengkungan yang dihiasi dengan kreatifitas seni) akan menghiasi sepanjang ruas jalan di seluruh wilayah Bali.

Persembahyangan umat Hindu dilaksanakan di semua pura (pura keluarga dan pura umum) pada hari raya Galungan dan Kuningan tersebut.

Untuk perayaan pergantian tahun Caka bagi umat Hindu yang disebut Hari Raya Nyepi, diawali dengan pawai Ogoh-Ogoh pada sore hari menjelang Nyepi dan dilanjutkan esok harinya dengan larangan ke luar dari tempat tinggal selama 24 jam.

Ogoh-Ogoh adalah seni kriya berbahan alami yang dibuat oleh warga khususnya generasi muda Hindu dengan ukuran cukup besar dan umumnya berbentuk sifat-sifat raksasa dan diarak keliling wilayah sekitar pukul 17:30-21:00 WITA.

Kegiatan bernama Pengerupukan ini bermakna mengembalikan sifat-sifat negatif di bumi ini pada tempat semestinya, sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia dan dapat terjadi keseimbangan dan suasana harmonis di tahun baru berikutnya.

Esoknya disebut Nyepi (berasal dari Bahasa Bali yang artinya : menyepi, menenangkan, suasana sepi) dimana umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian (4 jalan pengendalian diri) yang meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), Amati Lelungaan (tidak menghibur diri).

Bagi wisatawan tentunya momentum Nyepi dapat menjadi pengalaman sangat luar biasa. Suasana sepi dalam 24 jam yang hanya ada satu-satunya di dunia dimana seluruh jalan raya sepi tanpa kendaraan (tidak ada polusi) dan tidak menyalakan lampu dalam 1 hari (menghemat energi listrik).

Bahkan satu-satunya airport di dunia yang tidak beroperasi selama 24 jam. Namun pemerintah daerah tetap mengeluarkan ijin khusus untuk hal-hal darurat seperti operasional Rumah Sakit, kendaraan dengan pengawalan khusus bagi pasien atau masyarakat yang jatuh sakit dan butuh pengobatan segera.

Pada saat Nyepi hotel-hotel memberikan informasi dan himbauan yang ketat bagi tamu yang menginap namun tanpa mengurangi kenyamanan para tamu tersebut.

Baca Juga : Libur Nyepi, Petugas Kepolisian Jogja Awasi Protokol Kesehatan di Kawasan Objek Wisata?

Jam operasional dan pelayanan dibatasi termasuk tidak diperkenankan check in dan check out pada hari raya Nyepi 11 Maret 2024 karena semua ruas jalan ditutup mulai pukul 06:00 WITA selama 24 jam hingga esok harinya.

Aktifitas tradisional masyarakat Bali dalam kegiatan keagamaan mampu menguatkan upaya pelestarian budaya yang menjadi keunggulan pariwisata Bali.

Dengan competitive advantage yang dimiliki oleh Bali tersebut membuat turis mancanegara semakin rindu untuk mengunjunginya. Kondisi tersebut tentunya dapat menggerakkan roda perekonomian secara berkelanjutan untuk kesejahteraan bangsa dan kelancaran pembangunan nasional.

Mari dukung terus eksistensi destinasi-destinasi pariwisata Nusantara dengan #banggaberwisatadiindonesia dan berwisata #diindonesiaaja.

(Penulis: Ketut Swabawa | Praktisi Pariwisata)

Leave A Reply

Your email address will not be published.