Berita Nasional Terpercaya

Ciu Bekonang, Produk Kearifan Lokal di Surakarta yang Jadi Ritual di Keraton

0

SURAKARTA, BERNAS.ID – Ciu adalah minuman beralkohol khas kawasan Desa Bekonang, Sukoharjo, yang masih eksis dan populer hingga sekarang. Meski tergolong minuman yang diharamkan, keberadaannya masih eksis, karena terkait dengan penggunaannya untuk kepentingan adat dan tradisi, serta menjadi aset pemasukan daerah.

Hal itu diungkapkan Dr. Yusana Sasanti Dadtun, dosen sejarah dalam seminar online yang digelar Universitas Sebelas Maret yang berjudul “Identitas Peminum Ciu di Surakarta”, Jumat, 15 Maret 2024. Dirinya telah melakukan penelitian terhadap ciu sejak 2011.

“Tahun 1925 ciu sudah menjadi aset cukai untuk pemerintah kolonial,” ujar dia.

Baca juga: 5 Minuman Keras Legal Khas Nusantara Yang Populer

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Biro Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah dalam beberapa Indikator Makro Sosial Ekonomi Provinsi Jawa Tengah Edisi Maret Tahun 2022, disebutkan bahwa minuman keras merupakan salah satu dari 21 kelompok komoditas dalam indikator makro ekonomi Jawa Tengah.

Minuman keras masuk dalam data nilai ekspor dan distribusi ekspor menurut komoditas pada kelompok komoditas bahan makanan olahan, minuman, minuman keras dan cuka.

Ciu pun kini sudah tersedia di marketplace, bisa dibeli secara online. Namun hanya bisa ditemukan dengan kata kunci khusus.

“Aneka rasanya juga ada, semakin lama semakin naik harganya,” katanya.

Ciu menurutnya hingga kini mudah ditemukan di Desa Bekonang. Kurang lebih ada 168 KK yang memproduksi ciu.

“Hampir satu desa itu memproduksi alkohol,” ujarnya.

Baca juga: Mabuk Yang Beradab, Kearifan Lokal Nusantara

Secara tradisi, ciu menurutnya masih dilestarikan, baik untuk sesajian, maupun untuk diminum. Tradisi ini masih dilestarikan di lingkungan yang terkait Keraton Kasunanan Surakarta.

“Ciu diperlukan sebagai salah satu syarat untuk sesaji benda-benda yang dikeramatkan di Kasunanan Surakarta,” jelas dia.

Tradisi minum ciu pun menurutnya sempat ada di dalam ruang lingkup Keraton Surakarta, dalam komunitas Pangunci, atau Pakempalan Ngunjuk Ciu (Perkumpulan Minum Ciu).

Selain itu ada juga komunitas Pangunci lain (Paguyuban Ngunjuk Ciu) komunitas serupa, namun di luar benteng keraton. Dan ada juga peminum ciu di luar kedua kelompok, namun dipersepsikan oleh masyarakat sebagai Pangunci.

“Yang [kelompok] ketiga inilah yang sering disebut sebagai pemabuk,” katanya. (den)

Leave A Reply

Your email address will not be published.