Berita Nasional Terpercaya

Experiential Tourism: Konsep Pariwisata Berbasis Pengalaman Unik

0

BERNAS.ID – Persaingan di industri pariwisata semakin dinamis dan tidak lagi berbatas pada strategi yang diunggulkan. Aspek gaya hidup menjadi hal yang diadaptasikan menjadi keunggulan berikutnya.

Selain gadget and technologi minded yang sudah banyak digarap, ada hal baru menjadi gaya hidup manusia saat ini; mencoba hal baru dan mengesankan (experience new and memorable things).

Hal ini dapat diterjemahkan ke dalam konsep membangun suatu produk dan layanan yang belum pernah dialami oleh wisatawan atau di luar aktifitasnya sehari-hari. Bahkan juga bisa sesuatu yang dirasakan sangat asing bagi wisatawan.

Di Indonesia, konsepnya bisa diwujudkan dalam produk dan aktifitas berbasis lokalitas/tradisional. Konsep ini dikenal juga dengan istilah Experiential Tourism atau pariwisata berbasis pengalaman mengesankan.

Baca Juga : Bangun Health Tourism, Seperti Apa Potensi dan Persiapan Indonesia?

Konsep ini didefinisikan sebagai bentuk pariwisata dimana manusia berfokus pada pengenalan dan pengalaman di suatu negara/wilayah/kota/tempat tertentu terkait sejarah, budaya, masyarakat, kuliner, lingkungan dan lainnya (sumber: wikipedia).

Berikut ini beberapa bentuk dari experiential tourism:

1. Cooking Lessons

Cooking lesson atau belajar memasak umumnya disediakan untuk mengenalkan menu unik atau khas di suatu daerah. Pengalaman yang ditawarkan meliputi mengenali bahan, metode dan praktek mengolah bahan dan memasaknya, cara penyajian hingga menikmati makanan tersebut.

Dalam prosesnya diselipi dengan story-telling tentang sejarah makanan tersebut terkait sumber daya yang dimiliki, kaitan dengan tradisi setempat, dan lainnya.

Biasanya ada keunikan dalam program ini seperti cara memasak dengan metode panas dari bakar batu di Papua, membuat sate lilit dengan cara melilit adonan daging pada stik bambu di Bali, mengolah ikan naniura yang tanpa dimasak melainkan diasamkan menjadi matang di pulau Samosir dan lainnya.

2. Camping

Camping atau berkemah biasanya dilakukan untuk periode tertentu berkaitan dengan edukasi dan kegiatan di alam. Dalam konteks Experiential Tourism, berkemah saat ini dikemas semakin modern dalam konsep glamping (glamour camping).

Baca Juga : Festival Hari Raya di Bali Menjadi Daya Tarik Wisata dalam Cultural Tourism

Artinya menginap di tenda (bangunan semi permanen) dengan fasilitas yang modern seperti lantai berbahan memadai (semen/keramik/batu alam), AC, TV, kamar mandi modern, tempat tidur yang memadai dan sebagainya.

Pengalaman yang ditawarkan adalah hidup di alam bebas dan jauh dari pemukiman dan aktifitas umum dengan pemandangan alam yang menawan.

Sebagaimana layaknya berkemah, selama menginap wisatawan dapat menikmati pengalaman api unggun dan menikmati taburan bintang-bintang indah di langit pada malam hari tanpa hambatan gedung-gedung tinggi seperti di perkotaan.

Kita dapat melihat lokasi glamping di Indonesia seperti; kawasan Puncak di Bogor, Pujon Kidul di Malang, Kintamani di Bali, Sembalun di Lombok, Bantul di Yogyakarta, Tawangmangu Karanganyar – Jateng, dan lainnya.

3. Traditional Activity

Aktifitas tradisional menjadi konsep experiential tourism yang sangat kuat karena biasanya terkait adat istiadat, sejarah, warisan budaya dan lainnya yang bersifat turun temurun.

Berbeda dengan kegiatan budaya yang hanya menjadi tontonan bagi wisatawan, aktifitas tradisional yang ditawarkan dalam konsep experiential tourism melibatkan wisatawan sebagai pelaku dan mengalami proses aktifitas tersebut.

Baca Juga : Dispar Sleman Ajak Pengelola Desa Wisata untuk Kuatkan Sinergitas

Paket wisatanya juga lebih komprehensif dengan edukasi sejarah, pengenalan budaya hingga mengerjakan/melakukan aktifitas tersebut.

Konsep ini meliputi tempat yang khusus untuk kegiatan, pakaian yang digunakan, cara melakukan aktifitas dan lainnya.

Kita dapat melihat contoh aktifitas ini misalnya di kawasan Danau Toba yakni aktifitas Matortor dimana wisatawan diedukasi dengan sejarah tariannya, dikenalkan jenis bahan kain dan pakaian yang digunakan termasuk cara penenunan kainnya, sejarah bangunan adat lokasi pementasan tari dan menarikan tari Matortor tersebut beramai-ramai sambil bernyanyi.

Pengalaman ini sangat menyenangkan dan mengesankan. Hal lainnya bisa dalam bentuk pertanian tradisional (sistem Subak di Bali), membatik di Jawa Tengah dan Yogyakarta, cara menangkap ikan secara tradisional di Wakatobi, menangkap nyale di Mandalika dan lainnya.

Demikian ulasan dan beberapa contoh experiential tourism yang dapat ditawarkan untuk menarik minat wisatawan untuk datang ke suatu destinasi karena adanya nilai kearifan lokal yang khas dan tidak dapat ditemukan di daerah lain.

(Penulis : Ketut Swabawa | Praktisi Pariwisata)

Leave A Reply

Your email address will not be published.