Berita Nasional Terpercaya

Haedar Nashir Ingatkan Urgensi Rekonstruksi Tauhid dalam Beragama

0

YOGYAKARTA, BERNAS.ID- Tauhid dianggap sebagai asas dasar bagi umat Islam dalam beragama, bahkan menjadi pondasi penting yang mendasari kehidupan. Namun, dalam perkembangannya, tauhid mengalami penyempitan makna, yaitu umat Islam seringkali membatasi tauhid hanya dalam lingkup ketuhanan atau hubungan manusia dengan Allah.

Baca Juga Kejari Sleman Dan BPKP DIY Sepakat Ada Pidana Di Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata

Untuk itu, perlunya rekonstruksi tauhid dipandang penting Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Ia mengatakan konsep ketuhanan dalam agama Islam tidak selalu terkait dengan teosentrik dan dogmatik, tapi juga menggabungkan tiga paradigma yaitu iman, ilmu dan amal.

Prof Haedar mengungkapkan masyarakat saat ini hanya menempatkan tauhid untuk menjalin hubungan dengan Allah, belum mengamalkan tauhid secara utuh.

“Dalam pandangan Islam berkemajuan, Muhammadiyah berupaya untuk memperkaya kembali pemaknaan bahwa tauhid tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Allah. Namun juga hubungan antar sesama manusia. Ada banyak ayat Al-Qur’an dan riwayat hadits yang menjelaskan mengenai hubungan manusia dengan sesamanya. Hal ini dikarenakan manusia memiliki kecenderungan kepada egoisme dan individualisme,” tuturnya kepada seluruh dosen dan seluruh pejabat struktural Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam agenda Pengajian Ramadan 1445 H, Senin sore (25/3).

Haedar juga berpesan salah satu ujian bagi manusia dalam bertauhid bukan sekadar ia sadar untuk bertuhan. Namun juga sadar untuk menjalin hubungan yang baik dengan manusia lain. Menurut Haedar, Islam adalah agama yang seimbang dalam semua aspek kehidupan dan umat Islam tidak dianjurkan untuk merasa paling benar dalam beragama dan melupakan dunia. Karena sejatinya tauhid mengajarkan umat Islam untuk bersikap peduli terhadap kemanusiaan dan lingkungan.

“Jika ingin menjadikan tauhid sebagai konsep yang direkonstruksi, jadikanlah tauhid sebagai bagian dari proses perubahan diri menjadi lebih baik, terutama dalam momen bulan Ramadan tahun ini. Akan ada tiga pengaruh terhadap orang yang bertauhid tinggi, di antaranya merasa dirinya diawasi Allah, senantiasa mengintrospeksi diri, dan bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup,” tuturnya.

Baca Juga Telusuri Kekayaan Historis Dan Budaya Kepulauan Selayar, Muhibah Budaya Jalur Rempah Digelar

Guru besar UMY di bidang ilmu sosiologi menambahkan proses perubahan diri harus menjadi tujuan dalam bertauhid dan tidak mengarah kepada perasaan paling benar sendiri dalam beragama. Menurut Haedar, tauhid akan menjadikan seseorang tidak sewenang-wenang dalam menjalani hidup sebagai bentuk pembebasan dari segala belenggu. Hal tersebut jugalah yang mendasari bahwa Islam sebagai agama yang emansipatoris atau yang membebaskan.

“Dengan kembali pada makna tauhid yang sesungguhnya maka umat Islam di masa sekarang dapat membangun kehidupan yang lebih berkeadaban, termasuk dalam hal kecerdasan, kemajuan dan lebih bermartabat. Maka, momentum bulan puasa harus dimanfaatkan untuk memperhalus hati melalui pengendalian emosi, sekaligus mempertajam pikiran melalui pemilahan informasi agar tetap kritis,” pungkas Haedar. (Jat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.