Berita Nasional Terpercaya

Sudahkah SDM Pariwisata Disiapkan secara Matang Sejak Kuliah?

0

BERNAS.ID – Sejak 2020 lalu saya tertarik untuk mengamati sistem pembelajaran yang diterapkan pada kampus-kampus pariwisata.

Walaupun terlibat sebagai tenaga pengajar sejak 2016 lalu, ketertarikan saya lebih dalam ini diawali kembali seorang pimpinan lembaga pendidikan vokasi kepariwisataan sempat berdiskusi dengan saya dan satu pertanyaannya adalah “mengapa mahasiswa saya gak lulus interview untuk mencari kerja?”.

Latar belakangnya adalah karena pihak kampus sebagai lembaga pendidikan menyampaikan telah “menikah” dengan pihak perusahaan pencari karyawan sebagai lembaga industri, dikenal dengan istilah “super linked by match”.

Baca Juga : Experiential Tourism: Konsep Pariwisata Berbasis Pengalaman Unik

“Curriculum review, guest lecture, tenaga penguji selalu kami libatkan, termasuk pemagangan selama 6 bulan 2 kali selama kuliah 3-4 tahun. Dimana kurang pasnya lagi sistem yang kami terapkan?”, demikian dasar yang dijadikan alasan pertanyaan ke saya di atas.

Tentu banyak faktor yang bisa dianalisa dari proses penyerapan tenaga kerja di industri, selain standar minimum kualifikasi bagi pemberi pekerjaan (employer) dan persaingan kandidasi dari beberapa pilihan yang melamar pekerjaan (applicant).

Pengamatan saya pribadi fokus pada aspek sikap perilaku (behavior) yang memang menjadi landasan utama dalam pekerjaan di bisnis pelayanan.

Sebagai mantan hotel general manager yang sewaktu bertugas selalu berkutat pada strategi-strategi pengelolaan bisnis perhotelan agar selalu mencapai target perusahaan, saya melihat ada modal dasar yang besar dimiliki oleh setiap perusahaan.

Yaitu sikap perilaku karyawan yang menjadi landasan kualitas pelayanan untuk menciptakan brand competitiveness dan sebagai eksekutor strategi untuk menciptakan revenue achievement.

Pengamatan saya sejak tahun 2020 tersebut tertuju pada pentingnya membentuk sikap mental SDM sejak di lembaga pendidikan dengan pemikiran-pemikiran sebagai berikut :

1. Membentuk mental yang agile and resilience

Bahwa setiap perusahaan memiliki konsep, strategi dan tata kelola yang dijadikan keunikan. Kemampuan beradaptasi akan hal itu juga menjadi penilaian dalam interview.

Selain technical skills yang telah dipadatkan selama perkuliahan, tenaga pendidik wajib memastikan juga kemampuan task management skills, contingency management skills, job role and environment skills dan transfer skills para peserta didiknya.

2. Konsep “role model”

Role model didifinisikan sebagai “person who serve as an example, whose behavior is emulated by others” (seseorang yang menjadi tauladan dan memberi contoh, berperilaku yang dapat diikuti oleh orang lain).

Baca Juga : Tidak Semua Orang yang Memiliki Entrepreneur Skill Menjadi Pebisnis

Selain tenaga pendidik telah mencapai kapasitas keahliannya dalam mendidik dan penguasaan ilmu, sikap perilaku termasuk penampilan diri tenaga pendidik yang menjadi standar di industri juga harus menjadi teladan bagi mahasiswa selama perkuliahan.

3. Kematangan jenjang karir

Persaingan pencari kerja terjadi setiap tahun seiring gelombang kelulusan yang bergulir secara berkelanjutan. Calon pencari kerja harus memahami strategi awal dalam memilih profesi dan posisi yang tepat dalam memasuki dunia kerja.

Pengenalan konsep ini sejak di perkuliahan akan mendorong mereka lebih cerdas dan kompetitif dalam merebut peluang kerja sehingga momentum awal karir bisa terarah dengan baik dan tidak terlewatkan.

Pengamatan pribadi saya melihat ada hal sederhana yang kurang diperhatikan lebih serius bagi beberapa tenaga pendidik. Yaitu self-appearance terkait kebersihan dan kerapian penampilan diri.

Bahkan terabaikan pada ruang publikasi dan promosi lembaga pendidikan. Ini dapat menjadi penilaian sepihak masyarakat termasuk industri sebagai user ketenagakerjaan.

Merujuk pada konsep “role model” di atas, tenaga pendidik pada lembaga vokasi kepariwisataan harus menjadi contoh penampilan diri tenaga kerja pelayanan secara fisik (kebersihan dan kerapian badan dan pakaian dari ujung rambut hingga kaki).

Role model harus dalam penerapan dan menjadi budaya, bukan pada teori saja. Semoga SDM Pariwisata Indonesia ke depannya di era society 5.0 ini bisa semakin maju, unggul, kompeten, berdayasing global dan humanis.

(Penulis : Ketut Swabawa | Praktisi Pariwisata)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.