Berita Nasional Terpercaya

Usulan kepada Kemenkes dari Praktisi Informatika Kedokteran

4

BERNAS.ID – Hari-hari ini, khususnya di daerah DKI (sepengetahuan penulis), para dokter dan pemilik Klinik disibukkan dengan digalakkannya program Akreditasi dan Rekam Medis Elektronik (RME).

Adalah kebijaksanaan dari Kemenkes yang didukung Dinkes DKI agar para Dokter baik yang Praktek Mandiri maupun Praktek Bersama di Klinik agar segera mendaftarkan tempat prakteknya, dan menggunakan Rekam Medis Elektronik yang kesemuanya terhubung dengan aplikasi Satu Sehat. Tentu ini adalah hal yang sangat baik dan ideal.

Mendukung target tersebut, ijinkanlah penulis memberi sedikit saran, semoga bisa diterima dan dikoreksi jika ada kekeliruan sehubungan dengan keterbatasan pengetahuan penulis.

Baca Juga : Rapat Kerja Dewan Jamu Indonesia DIY Dorong Rumah Sakit Buka Poliklinik Herbal

1. Ada Berbagai Macam Aplikasi

Meskipun semua (dokter, klinik, pasien, dan lainnya) akan terhubung dengan Satu Sehat milik KEMENKES RI, namun sebagai merchant (katakanlah begitu), para dokter/klinik diharuskan mengisi beberapa aplikasi seperti:

– Aplikasi Registrasi Fasyankes (Data Fasyankes Online / DFO),
– Aplikasi Mutu Fasyankes (Pelaporan Indikator Nasional Mutu / INM dan Healthcare Associated Infection / HaIs)
– Aplikasi ASPAK (Aplikasi Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan)
– Aplikasi Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan / SISDMK
– dan lainnya.

Nah, masalahnya begitu banyak aplikasi yang harus diisi memiliki sistem login sendiri-sendiri.

Bagaimana jika menggunakan SSO saja atau Single Sign-On. Jadi sekali mendaftar, data yang ada (termasuk user name dan password) bisa digunakan untuk semua aplikasi yang berhubungan. Bukankah pemilik semua aplikasi adalah Kemenkes.

Jadi dalam pemikiran kami, mudah untuk mengintegrasikannya.
Sehingga sebagai merchant para dokter tidak perlu mendaftar dan mengisi data berulang kali.

Pengisian data yang berulang kali dan memiliki beberapa username dan password pada setiap aplikasi meningkatkan faktor kesalahan dan kelupaan.

2. Menerapkan Apa yang Dilakukan Google Map

Pernahkah Bpk/Ibu memiliki unit usaha / tempat praktek yang tiba2 sudah ada di Google Map? Saat berkunjung ke Google Map, kita akan ditanya, apakah Anda pemilik bisnis ini?

Hal ini sangat baik sekali diterapkan dalam mendata merchant dari Satu Sehat. Data Dokter/ Klinik Praktek pasti sudah ada di Dinas Kesehatan. Karena setiap kali mengajukan ijin, harus menyertakan data yang lengkap.

Baca Juga : Startup Ideal Menurut CEO Halodoc Jonathan Sudharta

Pihak Dinkes pun pasti telah melakukan survei terhadap tempat praktek tersebut. Nah data2 ini cukup dinaikkan saja ke aplikasi lalu setiap ada yang mendaftar cukup mencari tempat yang memang miliknya.

Tentu ada beberapa identitas yang bisa dikunci (tidak bisa diedit) seperti nama dan alamat klinik (berdasarkan info yang diperoleh saat mengajukan ijin).

Jadi ke depan Kemenkes bersama Dinkes bisa mengeluarkan daftar merchant-nya, tanpa harus menunggu submit dari merchant tersebut, sama seperti di Google Map, nama dan alamat suatu usaha bisa saja sudah terpampang meskipun yang punya usaha tersebut tidak pernah mengisinya.

Kalau perlu, suatu waktu ada petugas yang mescreening nama2 dokter/klinik yang belum melengkapi / update data terkininya kemudian menghimbau Dokter/Klinik untuk melengkapinya.

3. Aplikasi Rekam Medis Elektronik (RME)

Tiba pada bagian RME. Penulis sangat antusias saat tahu bahwa Kemenkes telah menyediakan aplikasi RME secara GRATIS bagi Dokter/Klinik, Aplikasi Sistem RME Indonesia / ASRI.

Penasaran dong. Penulis pun mencari tahu, bagaimana jika ingin menerapkan aplikasi tersebut. Ternyata oh ternyata, syaratnya cukup berat. Dokter/Klinik harus memiliki server dan tenaga IT.

Bayangkan jika pemilik praktek tersebut bukanlah berada dalam group / kelompok usaha yang besar. Harus membeli server (tentu termasuk pernak-perniknya, anti virus, dan lainnya).

Yang tidak kalah beratnya adalah mempekerjakan seorang IT People (yang pasti kerjanya rangkap semua: hardware, software, networking) Menurut penulis, jaman sudah berubah.

Sekarang kalau ada aplikasi biasanya diletakkan di awan (cloud) dan digunakan bersama-sama.

Dengan demikian perawatan dan maintenance aplikasi bisa hanya dilakukan di server (pusat), misalnya dalam hal ini bisa diletakkan di Kemenkes atau Dinas Kesehatan setempat.

Dokter/Klinik cukup menyediakan perangkat yang tidak terlalu mahal untuk entry data saja.
Mirip-mirip dengan aplikasi Facebook, Google, dan lain-lain.

 

Dampaknya bagi masyarakat luas
Sampai saat ini, penulis baru melihat dampak langsung penerapan Akreditasi dan Rekam Medis Elektronik baru sebatas lingkungan kesehatan.

Dengan diterbitkannya daftar praktek dokter dan klinik yang sudah terdaftar dalam aplikasi Satu Sehat, masyarakat bisa lebih mengetahui lokasi praktek mana yang sudah legal dan bisa ikut menyumbang saran (review/ulasan) pada daftar tersebut.

Ini tentu akan lebih memacu merchant/provider untuk lebih memperbaiki diri dan melengkapi data pada daftar di Satu Sehat tersebut.

Demikian beberapa pemikiran dari kami yang sangat mendukung apa yang telah direncanakan oleh Kemenkes bersama Dinkes.

Hanya saja kalau bisa saat meluncurkan suatu program harap juga bisa memperhatikan kemudahan user2nya dan dampaknya bagi masyarakat luas.

Semoga demikian. Salam sehat selalu.

(Penulis: Dr. Erik Tapan, MHA |Dokter Internet sejak 1996)

 

4 Comments
  1. Monika says

    Iya betul… jadi makin stress dokter praktek mandiri Udah stress sama kasus yang dikerjakan…. stress sama pengelolaan bahan gigi… tempat praktek dengan dana yang ada.. ini ditambah lagi dengan kerjaan banyak link n aplikasi yang memusingkan. Pulang kerja bukannya jadi lega.. tapi nambah stress… mikirin masukin data aplikasi..linknya begitu banyak…. mana kadang susah mesti meraba2 sendiri caranya. Mau pekerjakan IT… dana terbatas…. karena gak semua praktek mandiri pinya pasien banyak. Kalau dulu kita bisa fokus sama kerjaan dan upgrade ilmu kita. Sekarang pikiran jadi terbagi dengan hal2 semacam ini. Belum lagi pasien gak semua mau isi survey buat scan barcode penilaian mutu. Kita saja disuruh scan barcode penilaian buat di resto saja suka malas. Ini pasien juga sama. Bagi pasien yang penting dia sakit… giginya diobati dan sembuh. Gak mikir mau scan2 barcode segala.

    1. dr. Erik Tapan, MHA says

      Sebenarnya tujuannya baik, hanya saja saat men-develop, programmernya kurang ditantang kreatifitasnya karena bagus jeleknya aplikasi ini untuk user, tidak dipedulikan. Beda jika perusahaan start up membuat program. Pasti dibuat semenarik mungkin sehingga bisa berkompetisi / menarik minat user2nya. Bagi pihak programmer, yang penting buat. Mau nggak mau user harus mengikutinya.

  2. Janny Budiwati says

    memang betul apa yg ditulis dr Erik Tapan, sy juga sebagai drg di TPMDG merasa sangat kesulitan dgn aturan baru itu yg datangnya ber tubi2. Belum beres 1 sdh datang lagi yg baru

    1. dr. Erik Tapan, MHA says

      Terima kasih, tolong di share artikel ini agar pihak yang berkepentingan bisa menaruh perhatian. Sehat selalu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.