Berita Nasional Terpercaya

Suluh Sumurup Art Festival 2024 Jumangkah Bakal Digelar di TBY

0

YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Setelah sukses di tahun lalu menggelar Suluh Sumurup Art Festival, kini Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menggelar kegiatan yang sama, namun lebih berskala nasional.

Pameran Nasional Karya Seni Rupa Disabilitas Pelaku Seni Suluh Sumurup Art Festival 2024 “Jumangkah” tema pameran yang akan digelar pada 14-22 Mei 2024 bertempat di Taman Budaya Yogyakarta.

Suluh Sumurup Art Festival 2024 bertemakan Jumangkah merupakan pameran kedua. Event pertama diselenggarakan pada 2023, berskala lokal dengan tema Gegandengan. Sebuah tema yang dimaknai, dengan kebersamaan akan memunculkan kesadaran bersama berupa cita-cita.

Baca Juga : “Flaunting Flaws”, Pameran Tunggal Ameylia Kurniawan Memakai Media Sulam

Jumangkah sendiri adalah sebuah kata bahasa jawa. Dalam Bahasa Indonesia, jumangkah berarti mulai melangkah atau mulai mengerjakan. Berasal dari kata dasar jangkah yang mendapatkan sisipan um, menjadi jumangkah.

Jangkah (bahasa Jawa) artinya jarak antara kaki kanan dan kaki kiri saat melangkah, langkah/melangkah. Jumangkah di sini berarti sebuah proses memulai langkah dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan kemampuan diri.

Secara metafora, jangkah diartikan sebagai menuju cita-cita. Dalam Bahasa Jawa ada istilah jangka dan jangkah. Keduanya saling terkait. Jangka diartikan sebagai cita-cita/harapan. Sedangkan Jangkah, adalah melakukan sesuatu untuk mencapai cita-cita.

Karenanya, pada even pameran kedua kali ini, tema Jumangkah dimaknai dengan mulai melangkah untuk mencapai harapan/cita-cita.

Disabilitas pelaku seni, mesti terus bergerak bersama, menjadi bagian dari seni rupa Indonesia. Bagian dari kemajuan kebudayaan Indonesia. Optimisme pergerakan disabilitas pelaku seni, dimulai dari membangun kebersamaan, kolaborasi (jaringan), serta pameran seni inklusif.

“Taman Budaya Yogyakarta adalah Penyelenggara Suluh Sumurup Art Festival (SSAF), sebagai bentuk dukungan dan pemajuan potensi-potensi disabilitas,” ujar Kepala UPT TBY, Purwiati kepada awak media, Senin (13/5/2024).

Kurator Pameran, Nano Warsono menjelaskan pada pameran kali ini, SSAF akan memamerkan karya-karya dari para disabilitas perupa yang berasal dari berbagai kota.

“Tak hanya dari Yogyakarta, melainkan juga para disabilitas perupa yang berasal dari luar Kota Yogyakarta,” terangnya.

Memperluas keterlibatan dan jaringan para disabilitas perupa di Indonesia, menjadi salah satu tujuan.

Ditambahkan Kurator Budi Irawanto, pameran kedua kali ini merupakan respon, dari banyaknya animo disabilitas perupa dari luar Yogyakarta yang ingin mengikuti pameran.

“Mengingat minim kesempatan bagi mereka bisa terlibat dalam event pameran. Baik di tataran lokal, apalagi nasional. Sehingga, Suluh Sumurup Art Festival (SSAF) diproyeksikan menjadi event berskala Nasional,sejak tahun ini (2024),” jelasnya.

Sebagaimana tema atau konsep pameran “Jumangkah”, SSAF 2024 mulai melangkah lebih jauh. Agar dapat menjangkau lebih banyak disabilitas perupa (seniman), di Indonesia.

Pameran Nasional Suluh Sumurup Art Festival 2024, bakal menampilkan lebih kurang 100 karya seni rupa dari 60 peserta perorangan dan komunitas. Terdiri dari karya dua dan tiga dimensi (2D dan 3D).

“Karya-karya tersebut disajikan dengan mempertimbangkan beragam kebutuhan para pengunjung pameran. Inklusif dan aksesibel, diusung sebagai konsep pameran,” jelas Kurator Sukri Budi Dharma.

“Dengan demikian, karya-karya yang dipamerkan, dapat diakses dan dinikmati dengan mudah oleh
semua,” katanya.

Baca Juga : Yogyakarta Art Book Fair Hadirkan 40 Penerbit Buku Seni

Selain itu, selama penyelenggaraan pameran, akan disediakan juru bisik bagi pengunjung tuna netra dan juru bahasa isyarat bagi pengunjung tuli.

Seniman Comission

Seniman comission Fasad SSAF 2024 merupakan karya Edi Priyanto seorang mahasiswa disabilitas yang masih mengenyam pendidikan di ISI Yogyakarta

Dalam SSAF 2024 ada beberapa program acara dan melibatkan disabilitas pelaku seni, baik sebagai peserta pameran, pemateri dan kepanitiaan.

Pameran ini sendiri diikuti disabilitas pelaku seni dari 12 provinsi, yaitu Yogyakarta, Bengkulu, Lampung, Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, dan Maluku.

Yang terdiri lebih dari 60 orang disabilitas pelaku seni perorangan ataupun kelompok.

Selain pameran ada juga Workshop Galeri Sitter, Workshop Bahasa Isyarat, Workshop Batik Eco Print, Workshop Literasi sastra untuk disabilitas, UMKM Corner, Pertunjukan, Galeri Tour, dan Artis Talk. (cdr)

Leave A Reply

Your email address will not be published.