Berita Nasional Terpercaya

Generasi Milenial Menjadi Pemesan SBN Ritel Terbesar di Yogyakarta

0

YOGYAKARTA, BERNAS.ID-Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) menyebut DIY menjadi salah satu provinsi dengan pemesan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel tertinggi secara nasional. Salah satu faktor yang menjadi daya tariknya, yaitu batas minimal untuk investasi di SBN Ritel di angka 1 juta rupiah.

Baca Juga Telusuri Kekayaan Historis Dan Budaya Kepulauan Selayar, Muhibah Budaya Jalur Rempah Digelar

Dalam perkembangannya, setiap kali SBN Ritel diterbitkan jumlah investor yang membeli dengan nominal 1 juta rupiah semakin meningkat. Saat ini, tercatat ada sekitar 3000-5000 investor. Bahkan, ada investor Gen Z tingkat SMA atau awal kuliah.

Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan, Deni Ridwan berharap saat sudah dewasa, kalangan Gen Z akan lebih banyak menginvestasikan uangnya di SBN Ritel atau instrumen investasi lainnya. “Tenornya juga semakin banyak opsi. Sehingga bisa pilih sesuai dengan tujuan investasinya. Kalau tidak salah DIY peringkat 6 atau 7 provinsi terbesar pemesan SBN Ritel nasional,” ucapnya dalam acara Edukasi dan Sosialisasi Pembiayaan APBN dan SBN Ritel, di Gedung Treasury Learning Center (TLC), Rabu (22/5).

Lanjut tambahnya, sekitar 40 persen pemesan SBN Ritel adalah kalangan milenial DIY sebagai kota pelajar yang banyak memiliki penduduk usia muda. Pemesan SBN Ritel di DIY terbesar dari generasi milenial rata-rata berprofesi sebagai pegawai swasta dan wiraswasta. Ia mengatakan tahun 2024 akan diterbitkan 7 seri SBN Ritel terdiri dari 3 SBN konvensional dan 4 SBN syariah. Ditargetkan bisa terkumpul dana Rp140-160 triliun.

Menurutnya rata-rata pertumbuhan SBN Ritel adalah 30 persen. Ia mencontohkan pada 2022 terkumpul dana Rp107 triliun, 2023 meningkat jadi Rp147 triliun. Ada pertumbuhan sekitar 38 persen, dan diharapkan ke depan akan semakin tumbuh.

Deni menjelaskan Pemerintah menerbitkan SBN Ritel sebagai alternatif investasi masyarakat. Instrumen ini dijamin APBN sehingga tidak akan ada gagal bayar. Imbal hasil yang diberikan juga lebih tinggi dibandingkan investasi di deposito. Selain itu, pemerintah juga menawarkan insentif perpajakan yang menarik, yaitu lebih rendah dengan level investasinya lebih tinggi.

Menurut Deni, berinvestasi di SBN Ritel berarti ikut berpartisipasi dalam pembiayaan pembangunan. “Pemerintah mencoba membuat investasi di SBN ritel semakin mudah, sejak 2018 sudah menerbitkan SBN Ritel melalui platform online,” ucapnya.

Kasubdit Analisis Keuangan dan Pasar Surat Utang Negara, Novi Puspita Wardani mengatakan pada penerbitan ORI025 Februari 2024 lalu, tercatat 1.419 investor DIY turut berinvestasi pada instrumen ORI025-T3 dan ORI025-T6 dengan total investasi Rp314,9 miliar.

Novi menyebut investornya didominasi generasi milenial meskipun secara nominal masih didominasi oleh tradisionalis. Berdasarkan profesi, jumlah investor didominasi oleh pegawai swasta, sementara secara nominal didominasi oleh wiraswasta.

“Dalam waktu dekat pemerintah akan menawarkan SBR013-T2 dan SBR013-T4 pada 10 Juni – 4 Juli 2024,” tuturnya.

Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) DIY, Agung Yulianta menjelaskan kegiatan hari ini digelar dalam rangka edukasi dan menjaring minat. Masyarakat perlu paham apa itu SBN Ritel dan seperti apa posisinya di APBN.

Diharapkan bisa menambah wawasan tentang peran pembiayaan APBN serta menambah pemahaman berbagai alternatif instrumen investasi di pasar keuangan termasuk SBN Ritel. “Ini salah satu cara menjajaki minat masyarakat di DIY,” tukasnya. (jat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.