Berita Nasional Terpercaya

Nanoparemioherbalmedicine 6.0: Paradigma Jamu Berbasis Teknologi dan Kearifan Lokal di Era Digital

0

BERNAS.ID – Tradisi minum jamu di Indonesia telah ada sejak zaman kerajaan kuno. Bukti tertulis mengenai penggunaan jamu ditemukan dalam prasasti dan kitab kuno seperti “Serat Centhini” yang ditulis pada abad ke-18.

Jamu digunakan oleh masyarakat untuk menjaga kesehatan dan mengobati berbagai penyakit. Pada masa Kerajaan Majapahit, jamu menjadi bagian penting dalam kehidupan istana dan masyarakat umum, menunjukkan betapa mendalamnya tradisi ini dalam budaya Indonesia.

Filosofi dan Histori
Filosofi jamu banyak tercermin dalam peribahasa Jawa kuno. Misalnya, “Rupo lan Rasane Aja nganti lali” yang berarti bentuk dan rasa jangan sampai terlupakan, mengajarkan keseimbangan antara estetika dan manfaat kesehatan.

Baca Juga : Rapat Kerja Dewan Jamu Indonesia DIY Dorong Rumah Sakit Buka Poliklinik Herbal

Peribahasa ini mencerminkan pandangan holistik terhadap kesehatan yang menggabungkan elemen fisik dan spiritual.

Para filsuf Barat seperti Hippocrates dan filsuf Timur seperti Confucius juga mengakui pentingnya herbal dalam pengobatan.

Hippocrates, sering disebut Bapak Kedokteran (460-370 SM), percaya bahwa makanan adalah obat dan obat adalah makanan.

Sementara itu, Confucius (551-479 SM) menekankan harmoni dalam segala aspek kehidupan, termasuk kesehatan.
Di Indonesia, nama-nama seperti Ny. Meneer (Lauw Ping Nio, 1880-1978) dan Nyonya Karsinah dikenal sebagai perintis industri jamu.

Ny. Meneer mendirikan perusahaan
jamu pada tahun 1919 yang masih eksis hingga kini, sementara Nyonya Karsinah
dikenal melalui produk Jamu Iboe.

Baca Juga : Memperkenalkan Jamu, Dewan Jamu Indonesia DIY Ngunjuk Jamu Bareng BBPOM Yogyakarta

Di dunia internasional, tokoh seperti Li Shizhen (1518-1593), seorang dokter Tiongkok, terkenal dengan karya monumental “Bencao Gangmu” (Kompendium Materia Medica), yang mencatat ribuan ramuan herbal.

Setiap tanggal 27 Mei, Indonesia merayakan Hari Jamu Nasional. Peringatan ini dimaksudkan untuk menghargai warisan budaya dan kearifan lokal dalam penggunaan
jamu sebagai bagian dari pengobatan tradisional yang kini mulai mendunia.

Nanoparemioherbalmedicine 6.0
Nanoteknologi telah membawa revolusi besar dalam dunia jamu melalui
nanoherbalmedicine, di mana partikel-partikel herbal diolah menjadi ukuran nano untuk meningkatkan efektivitas penyerapannya.

Contohnya, Jamu Nanotech Kunyit (Curcuma longa), yang dikenal memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan, kini dapat diolah menjadi suplemen nano untuk hasil yang lebih optimal.

Inovasi ini memungkinkan manfaat kunyit terserap lebih efisien oleh tubuh, memberikan efek kesehatan yang lebih cepat dan lebih kuat.

Budaya minum jamu yang telah lama tercermin dalam kehidupan masyarakat Jawa, seperti dalam peribahasa “Jamu godhong telu,” menunjukkan pengetahuan mendalam tentang herbal dalam tradisi mereka.

Adat istiadat seperti upacara minum jamu setelah melahirkan juga menegaskan pentingnya jamu dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat ikatan budaya dalam komunitas.

Baca Juga : Dewan Jamu Indonesia DIY : Jamu Banyak Sekali Manfaatnya

Seiring perkembangan zaman, jamu semakin dikenal di kancah internasional, namun nilai-nilai kearifan lokal tetap dijaga. Jamu tidak hanya berfungsi sebagai obat, tetapi juga sebagai representasi budaya yang kaya akan filosofi dan sejarah, menjadi bagian
integral dari identitas Indonesia yang patut dibanggakan di panggung global.

Dengan perkembangan teknologi, pemasaran jamu kini dapat dilakukan di ruang metaverse menggunakan strategi digital marketing.

Melalui platform VR dan AR, konsumen dapat merasakan pengalaman interaktif dalam memilih produk jamu yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Teknologi ini memungkinkan konsumen untuk “mengunjungi” perkebunan herbal, melihat proses produksi, dan mempelajari manfaat setiap bahan
secara virtual, sehingga meningkatkan pengalaman dan pengetahuan mereka tentang jamu, menjadikan jamu lebih efisien dan inovatif di pasar global.

Potensi Herbal menjadi Produk Global
Indonesia, dengan kekayaan biodiversitasnya, memiliki sejumlah tanaman herbal yang berpotensi besar untuk diolah menjadi produk global. Sambiloto (Andrographis paniculata) adalah salah satu yang menonjol karena kemampuannya dalam meningkatkan imunitas. Produk berbasis Sambiloto, seperti kapsul dan tablet, dapat
menjadi solusi alami yang efektif di tengah dunia yang rentan terhadap penyakit infeksi.

Baca Juga : Jamu Indonesia, Bermanfaat Lagi Mendunia

Penelitian lebih lanjut dapat memperkuat bukti ilmiah mengenai khasiatnya, membuka jalan bagi Sambiloto untuk menjadi produk kesehatan premium di pasar global. Kencur (Kaempferia galanga), yang digunakan untuk meredakan batuk dan masuk angin, juga memiliki potensi ekspor besar.

Dengan teknologi pengolahan herbal, kencur dapat diolah menjadi produk modern seperti sirup atau jamu instan, menarik konsumen di negara-negara dengan iklim dingin yang sering menghadapi masalah pernapasan.

Meniran (Phyllanthus niruri), dengan khasiat anti-virusnya, sangat relevan di era pasca-pandemi.

Meniran dapat diolah menjadi ekstrak atau teh, menawarkan alternatif alami
untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Kesadaran akan kesehatan yang
meningkat membuka peluang besar bagi produk meniran di pasar internasional. Jamu Indonesia seperti Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan Jahe (Zingiber officinale) sudah diekspor ke berbagai negara, termasuk Jepang, Amerika Serikat, dan negara-
negara di Eropa.

Untuk mewujudkan potensi ekspor global, diperlukan pendekatan holistik yang memperhatikan regulasi dan sertifikasi internasional. Standar keamanan dan efikasi harus dipenuhi agar produk herbal Indonesia diterima di pasar global.

Teknologi digital seperti e-commerce dan platform metaverse dapat memperluas
jangkauan pasar, mempermudah akses konsumen internasional terhadap produk herbal Indonesia.

Dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi dengan lembaga riset,
Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam pasar herbal global, membawa kearifan lokal ke panggung dunia.

Menggiatkan Riset dan Publikasi Ilmiah tentang Jamu
Para akademisi didorong untuk terus melakukan riset dan publikasi ilmiah mengenai khasiat dan efektivitas jamu untuk mendukung klaim kesehatan dan meningkatkan kepercayaan pasar internasional.

Penelitian oleh Sartono (2023) menunjukkan bahwa penggunaan teknik kecerdasan buatan (AI) dalam pengembangan jamu dapat mengidentifikasi target protein dan jalur bioaktif yang relevan dengan penyakit tertentu, mempercepat proses pengembangan obat berbasis jamu.

Studi internasional oleh Qanitha et al. (2022) juga menyoroti manfaat campuran jamu yang kaya akan polifenol dalam menurunkan kadar kolesterol pada lansia dengan penyakit jantung koroner.

Selain itu, penelitian oleh Erlina et al. (2022) menegaskan pentingnya pendekatan farmakofor dan molecular docking dalam mengidentifikasi fitur molekul bioaktif dalam jamu, yang membantu mempercepat pengembangan senyawa bioaktif baru dengan
biaya lebih rendah dibandingkan metode konvensional.

Penelitian tentang efek vasoprotektif ekstrak jahe (Zingiber officinale) pada arteri koroner juga menunjukkan
potensi jahe sebagai agen kardioprotektif alami (Wu et al., 2018).

Melalui riset berkelanjutan dan publikasi ilmiah, para akademisi dapat meningkatkan visibilitas dan kredibilitas jamu di pasar internasional, membuka peluang baru untuk pengembangan
produk jamu yang lebih efektif dan aman, serta mempromosikan jamu sebagai solusi kesehatan alami yang diakui secara global.

Strategi Marketing Jamu 6.0
Produk jamu berbasis Nanoparemioherbalmedicine, atau Jamu 6.0, memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) untuk pemasaran di ruang metaverse.

Teknologi ini memungkinkan konsumen untuk merasakan manfaat jamu
secara virtual sebelum membeli.

Baca Juga : Trik Bijak dan Pintar Meramu Jamu dari Bahan Temu-temuan

Dengan headset VR, konsumen dapat “mengunjungi” perkebunan herbal, melihat proses produksi, dan mempelajari manfaat setiap bahan
secara interaktif, sehingga meningkatkan pengalaman konsumen dan memperkuat
kepercayaan terhadap jamu.

Integrasi AR dan VR juga membuka peluang personalisasi produk, di mana konsumen dapat memasukkan data kesehatan pribadi mereka untuk
mendapatkan rekomendasi jamu yang sesuai dengan kebutuhan spesifik mereka.

Pengembangan produk jamu kini juga melibatkan teknologi AI (Artificial Intelligence), machine learning, deep learning, dan big data untuk mengidentifikasi kombinasi herbal yang paling efektif dan aman.

Teknologi ini membantu memprediksi respon individu terhadap produk jamu berdasarkan data genetika dan kesehatan.

Dalam pemasaran jamu, aspek safety (keamanan) dan efficacy (efikasi) harus tetap diperhatikan, mengikuti panduan regulasi, ELSI (Ethical, Legal, and Social Implications), serta aspek digital bioetik untuk memastikan produk jamu yang dipasarkan aman dan efektif bagi konsumen.

Pemasaran digital melalui metaverse memungkinkan perusahaan jamu untuk menjangkau pasar global dengan lebih efisien dan inovatif, meningkatkan daya saing di pasar global yang semakin kompetitif.

Nanoparemioherbalmedicine 6.0 menawarkan paradigma baru dalam penggunaan jamu di era digital. Dengan memadukan teknologi modern dan kearifan lokal, produk jamu dapat terus berkembang dan diterima secara global.

Pemasaran yang inovatif melalui metaverse dan dukungan riset ilmiah memastikan jamu tetap relevan dan
bermanfaat bagi kesehatan masyarakat dunia.

[Penulis: Dokter Dito Anurogo MSc PhD (Cand.), Kandidat Doktor di IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taiwan, dosen tetap di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar, hobi minum jamu]

Leave A Reply

Your email address will not be published.