Berita Nasional Terpercaya

Pameran Tunggal “Ngunda Rasa” Dewa Made Mustika, Dapat Inspirasi Dari Anaknya

0

BANTUL, BERNAS.ID – Pameran Tunggal “Ngunda Rasa” dari perupa asal Bali Dewa Made Mustika digelar di Sangkring Art Space Yogyakarta. Dalam pembukaan pameranpameran tersebut, Sabtu, 8 Juni 2024, disajikan pertunjukan kolaborasi Dewa Mustika, Dewa Galah anaknya, dan seniman dari komunitas gamelan Bali yang tinggal di Jogja.

Pameran Ngunda Rasa bermula dari dorongan rasa yang kuat di antara Dewa Made Mustika, selaku seorang ayah, dan Dewa Galah (11 tahun), putranya yang sangat berbakat seni, terutama seni pertunjukan. Dorongan ini kemudian dielaborasi dalam kolaborasi di antara keduanya.

“Ngunda rasa maknanya mengelola rasa, memang sesuatu yang sepertinya sangat mudah diucapkan, tetapi tidak demikian dengan penerapannya, proses yang tanpa ujung, tanpa akhir, berkesinambungan, entah sampai kapan kita harus bisa menikmati itu,” kata Dewa Mustika dalam pembukaan acara.

Kris Budiman selalu penulis pameran menyampaikan ketika menyaksikan Galah menari atau bermain karawitan, Dewa Mustika seperti mendapatkan energi untuk melukis.

Ketika Dewa Mustika melukis, Galah merespons dan menemaninya dengan megamel (memainkan alat musik tradisional Bali). Sebagai partner kreatif, keduanya saling berinteraksi dan memberi inspirasi, sehingga muncul gagasan untuk merealisasikan ke dalam sebuah pameran yang mewakili konsep “gerak, nada, dan rupa”.

“Pameran ini, di satu sisi, dilatar-belakangi ketertarikan seni yang sama di antara Dewa Mustika dan Galah. Kesamaan frekuensi menjadikan sang ayah dan putranya dapat saling merespons dan menginspirasi. Bisa dikatakan bahwa Galah adalah partner kerja ayahnya dalam berkesenian, baik melukis, menari, maupun bermain karawitan,” kata Kris.

Di sisi lain, Galah berkeinginan kuat untuk meraih cita-cita sebagai dalang, yakni dengan melanjutkan pendidikan sekolah pedalangan di Bali. Dewa Mustika sangat menyadari bahwa Bali adalah habitat yang paling tepat bagi Galah. Walau dengan berat hati, dia harus merelakan dan mendukung Galah berangkat ke Bali.

“Untuk menandai momen penting dalam fase awal berkesenian Galah, sekaligus pula untuk membekalinya secara mental, pameran Ngunda Rasa akhirnya direalisasikan. Diharapkan ini menjadi bekal moral, agar Galah dapat berkesenian dalam semangat pengabdian; agar bisa menghidupi seni, bukan semata hidup dari seni,” imbuh Kris.

Baca juga: Melukiskan Misteri Peradaban Manusia

Konsep dasar yang terungkap dalam ngunda rasa itu sendiri adalah mengelola rasa. Ngunda rasa, khususnya pada musik tradisional (karawitan) Bali, mengajarkan untuk tidak bersikap egois, demi mencapai keharmonisan bersama.

Dalam hal ini gamelan mengajarkan kita tentang toleransi dan harmoni. Sebagai lelaku kebudayaan, kesenian merangkul perbedaan, melintasi sekat-sekat dan batas-batas, untuk mencapai harmoni.

Karya-karya yang dipamerkan berupa sejumlah lukisan, sketsa, dan patung, yang dilengkapi dengan sebuah film dokumenter.

Persiapan pameran ini telah dilakukan sejak 3 tahun belakangan, dan dalam setahun terakhir semakin intensif dengan lingkup tematik di seputar aktivitas Galah berkesenian ― memainkan gender, kendang, dan suling; menari, mewayang (mendalang), dan ngelawang (pertunjukan Barong berkeliling desa); serta obsesi, mimpi, dan cita-citanya untuk menjadi seorang dalang.

Pada lapis lebih dalam, satu pesan moral terungkap dalam lukisan pertarungan antara Arjuna dan Karna, yakni perihal pengabdian anak dan kasih-sayang orangtua. Sementara patung “Leader of Harmony” mengungkap pesan etos kepemimpinan.

Di sini digambarkan sosok pemain kendang sebagai pemimpin yang harus memahami, siap berkorban, dan bertanggung- jawab.

Dia harus disiplin dan tidak egois karena dirinya yang menentukan harmoni. Terlebih lagi, berkesenian bukanlah pencapaian materi semata, melainkan terutama tentang nilai, yakni seni sebagai pengabdian.

Singkatnya, melalui karya-karya ini tersirat harapan Dewa Mustika sebagai seorang ayah agar Galah dapat menjadi sosok pribadi yang kukuh, tidak mudah goyah, dan memiliki fondasi yang kuat dalam berkesenian.

Baca juga: Pameran Karya 55 Perupa Ternama Iringi Rilis Album Baru Dewa Budjana

Bersamaan dengan pameran sebagai program utama, terdapat pula rangkaian program pendamping. Selama pameran berlangsung (9-15 Juni 2024), akan diadakan pertunjukan musik gamelan oleh Galah dan workshop gamelan yang bisa diikuti oleh audiens, serta workshop tarian Bali oleh Jero Kadek Rai dan Dedek Tanaya. Selain itu, tersedia pula booth (artshop) yang menyediakan beraneka merchandise. (den)

Leave A Reply

Your email address will not be published.