Berita Nasional Terpercaya

Perawat vs Pasien, Jagoan siapa?

2

BERNAS.ID – Latar belakang penulisan ini, karena penulis prihatin dengan berbagai informasi yang beredar baik di socmed maupun di ruang tunggu yang diproduksi oleh pasien/pendamping yang baru memahami sedikit mengenai proses cuci darah (atau HD = hemodialisis), dan para seller produk (yang menjanjikan kesembuhan pasien cuci darah).

Yang mana info ini lebih dipercaya pasien dan keluarga dibandingkan bertanya kepada perawat.
Mungkin banyak yang tidak peduli, tapi dari pengamatan penulis, info2 yang diberikan kadang cukup berbahaya dan fatal.

Misinformasi/kesalahkaprahan ini begitu banyak, sehingga penulis bisa memasukkan dalam 1 bab tersendiri di buku Penyakit Ginjal Kronis dan Hemodialisis terbitan Elex Media Komputindo.

Penulis merasa tenaga kesehatan (baik medis maupun para medis) bisa mengambil peran yang lebih dalam mengedukasi pasien2 HD.

Namun kenapa sebagian pasien masih lebih banyak terpapar dan lebih mempercayai informasi yang kurang benar dibandingkan bertanya ke pihak yang lebih kompeten yang bisa ditemui setiap HD.

Penulis menemukan jawabannya saat melempar pertanyaan ini ke kelompok pasien, seperti:

1. Perawat hanya pandai ambil tindakan dan membantu dalam kegawatan tapi soal obat dan tindakan medis lainnya perawat harus menunggu persetujuan dokter. Dalam kasus ini, pasien cuci darah sangat terbantu dengan pasien senior.

Contohnya mengenai durasi cuci darah selama 5 jam. Itu sangat bagus, tapi perawat diam saja kalau pasien HD melakukannya cuma 4 jam. Tidak ada edukasi soal itu, hanya pasien senior yang bisa menjelaskan dampak baik buruknya.

2. Soal Berat Badan Kering, binder fosfat, pantangan makanan, dan lainnya, lebih sering diinformasikan oleh sesama pasien.

3. Bener banget Dokter, tergantung perawatnya juga. Soalnya kan kondisi pasien beda2.

Begitu sekilas rangkuman pendapat para pasien cuci darah.

 

Perawat HD telah memperoleh pelatihan yang memadai

Ijinkanlah dalam kesempatan ini, penulis ingin menjelaskan bahwasanya, ilmu perawat dialisis yang bersertifikat bisa lebih mumpuni daripada pasien-pasien baru/seller.

Untuk menjadi perawat HD bersertifikat, perlu menempuh pendidikan selama 4 (empat) bulan dengan biaya yang tidak sedikit.

Apa yang dipelajari selama 4 bulan pelatihan? Pasti bukan hanya suntik menyuntik atau cara memberi makan via sonde/slang, misalnya. Perawat yang adalah lulusan sarjana, sudah diajarkan ketrampilan dasar seperti menyuntik, dan lain lain di sekolah perawat.

Nggak perlu kursus HD agar bisa menyuntik.

Ketrampilan menyetel mesin HD? Ini pasti dipelajari, tapi waktu 4 bln terlalu lama jika hanya mempelajari hal tersebut.

Jadi ilmu tentang penyakit ginjal, mestinya juga dipelajari, termasuk menangani pada kondisi darurat. Bahwa memang perawat punya keterbatasan iya, makanya ada dokter.

Lalu ada yang bertanya, emang perawat memiliki mandat untuk menjelaskan mengenai penyakit?

Jawabannya, salah satu tugas (semua) perawat adalah menjalankan Asuhan Keperawatan.

Standar Asuhan yang tercantum dalam Standar Praktik Klinis Keperawatan terdiri dari lima fase, yaitu:
1) Pengkajian;
2) Diagnosa;
3) Perencanaan;
4) Implementasi; dan
5) Evaluasi.

Untuk melakukan hal-hal di atas tentu perawat harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang suatu penyakit.
Tentu ada batas-batas, yang mana dapat dilanjutkan oleh seorang dokter yang kompeten.

Tapi kalau untuk edukasi ke pasien, pastilah ilmunya cukup. Manfaatkanlah perawat Anda. Sering-sering bertanyalah kepada mereka.

 

Kesimpulan
Meskipun masih sangat sederhana dengan jumlah sampel yang sedikit, bisa disimpulkan:

– Banyak pasien masih meng-underestimate pengetahuan penyakit ginjal seorang perawat bersertifikat.

(hal ini berbeda dengan di luar negeri, Many studies in the USA and abroad have found that nurses are consistently the most trusted professionals out of all, usually doctors are second. Part of it is continuity of care – nurses shifts are much longer that the time any physician has contact with the patient during the day.)

– Dengan kemajuan teknologi informasi saat ini, pasien dibanjiri oleh info yang benar maupun misinformasi mengenai terapi cuci darah.

– Sudah saatnya tenaga kesehatan dan kedokteran lebih aktif memproduksi informasi yang benar di berbagai platform socmed termasuk di ruang-ruang cuci darah.

Semoga hal ini bisa menjadi perhatian segenap pihak sehingga masyarakat bisa memperoleh informasi yang baik dan benar dari sumber yang kompeten.

 

Catatan:
Penulis menyadari bahwa kerjasama Pasien, Perawat dan Dokter sangat dibutuhkan guna merawat pasien seoptimal mungkin.

Judul artikel ini mestinya, “Meningkatkan Peran Perawat dalam rangka edukasi pasien cuci darah menghadapi informasi yang kurang benar”. Tapi bisa dipastikan judul tersebut akan membuat artikel ini lebih kurang dibaca orang.

Salam edukasi,
(Dr. Erik Tapan, MHA |Dokter Internet)

2 Comments
  1. Pasien HD says

    Ya setuju. Terlalu banyak yg memanfaatkan ujian penyakit pasien cuci darah dan menawarkan produk2 yang ga perlu2 bahkan tidak berguna tp dimarkup harga tinggi dengan iming2 macam2

    Sedangkan nakes di poli HD hanya fokus pelayanan saja, tapi masih banyak yg tidak memberikan KIE yang baik ke pasien dan pendamping pasien.

    Fungsinya grup pasien salah satunya ya untuk meluruskan hal2 seperti itu dan tetap berusaha saling memberikan edukasi dan informasi. Kalau ada yg salah bisa ditunjuk ramai2

  2. dr. Erik Tapan, MHA says

    Betul, saya prihatin dengan banjir informasi yang tidak jarang kebenarannya diragukan. Bagi yang mau tahu bagaimana “racun” itu disebar, silakan join di Tiktok.
    Selain di poli, sebenarnya perjumpaan pasien dengan perawat ada di ruang HD. Waktu lebih longgar jika tidak ada pasien yang gawat.
    BTW, komunitas pasien juga sangat membantu. Thanks bagi mereka yang berusaha membantu sesama pasien.

Leave A Reply

Your email address will not be published.