Bernas.id – Saat era millenial abad 20, ada berbagai macam intelegensi atau kecerdasan yang dipakai untuk menentukan apakah seseorang bisa bertahan di tengah kompetisi dan meraih kesuksesan. Dari tes IQ (Intelligence Quotient) yang mengukur tingkat kecerdasan logik dengan tes terukur, lalu ada EQ (Emotional Quotient) yang mengukur kecerdasan emosi, AQ (Adversity Quotient) yang mengukur kecerdasan kita saat menghadapi hal-hal sulit dalam hidup. Lalu ada konsep 8 Multiple Intelligence dari Howard Gardner yang menunjukkan manusia punya kecerdasan masing-masing di luar IQ.
Memasuki era digital abad 21, dunia banyak mengalami perubahan besar akibat perubahan iklim, pemanasan global, maupun peperangan.
Perubahan tersebut sifatnya global, berlangsung lama, susah dikembalikan ke kondisi semula dan menjadi tidak bisa diprediksi.
Tambahan lagi, manusia tidak hanya berkompetisi dengan sesama manusia, tetapi juga dengan mesin (automation) and robot (artificial intelligenge dan virtual reality).
Sehingga, cukupkah hanya dengan bekal IQ, EQ dan AQ saja?
Sejak tahun 1980an, Robert Sternberg mengembangkan sebuah model inteligensi yang disebut 'Triarchic Theory of Intelligence' dipaparkan dalam berbagai bukunya.
Dalam salah satu buku terbaru Sternberg yaitu 'The Triarchic Mind', Sternberg menjelaskan 3 macam intelegensi yang harus dimiliki bila manusia ingin bertahan di abad 21.
Intelegensi pertama yang harus dimiliki adalah Creative Intelligence atau Intelegensi Kreatif. Kecerdasan kreatif merupakan kemampuan manusia menggunakan pengalaman dan pengetahuannya dalam berbagai cara yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Kecerdasan kreatif bukan tentang banyaknya jumlah ide kreatif yang tercipta, tapi seberapa hebat dampak ide orisinil manusia dalam membuat perubahan yang tentu saja secara teknis dapat dilaksanakan.
Hal ini karena di masa depan, kita bersaing dengan robot dan mesin yang sudah diprogram dengan algoritma.
Sehingga, manusia masih unggul bila manusia menggunakan akal kreatifnya dan memunculkan hal-hal tak terduga yang tidak bisa dilakukan mesin dan robot.
Keunggulan akal manusia adalah manusia memiliki potensi Analytical Intelligence atau Intelegensi Analitikal. Kecerdasan analitikal ini melibatkan kemampuan manusia untuk mengambil langkah dan komponen yang efektif untuk memecahkan problema yang ada.
Manusia sebenarnya memiliki kemampuan menganalisis data lebih maju daripada mesin, karena kita memiliki insting.
Secanggih apapun, mesin terlihat memiliki insting karena banyaknya data dan pemrograman algoritma yang diinput. Sementara, insting yang dimiliki manusia ada diberikan sejak lahir.
Mengambil keputusan dengan cepat, presisi analisa, dan terencana menjadi satu kemampuan yang harus dimiliki di abad 21.
Terakhir, manusia harus memiliki Practical Intelligence atau intelegensi praktikal. Menghadapi abad 21, di mana mesin makin mendominasi kehidupan, maka manusia perlu mengasah intelegensi praktikalnya. Kecerdasan praktikal menuntut kemampuan manusia cepat membaca situasi dan beradaptasi dengan segala perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
Saat ini, perubahan menjadi satu kepastian, bila manusia tidak berubah, manusia bisa terhapus oleh zaman.
Sepintar apapun manusia, bila cuma bisa menghafal dan mengingat fakta, tanpa bisa menggunakan fakta tersebut untuk membuat sesuatu yang berdampak besar bagi hidup manusia, maka sudah pasti akan tergantikan oleh mesin.
Nah, sudah cukupkah upaya kita membekali diri dengan ketiga kecerdasan ini?

