Ini 6 Hal Unik Tentang Jogja Yang Membuat Selalu Ingin Kembali (Bagian Kedua-Habis)

Bernas.id - Bagian pertama klik di sini 

https://www.bernas.id/61024-ini-6-hal-unik-tentang-jogja-yang-membuat-selalu-ingin-kembali-bagian-pertama.html

 

3.  Jogja adalah Kota yang Nyaman.

Di Jogja, bukan penampilan yang membuat orang menghormatimu. Bukan baju mahal, dandanan “heboh”, tas bermerek, gemerlap perhiasan apalagi mobil mewah dan rumah besar. Perilakumu yang santun akan jauh lebih berkarisma dibandingkan benda-benda yang kamu punya. Karena menikmati Jogja bisa diperoleh dengan “sederhana” dan tidak bisa dibeli dengan uang. Mungkin inilah yang membuat kota Jogja begitu nyaman pagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara, yang membuat semua orang merasa diterima ‘apa adanya” tanpa melihat “uang” yang kamu punya.

Hal tersebut terlihat dari cara orang Jogja memperlakukan orang lain, bertegur sapa dan senyum selalu melekat kuat dalam kesehariannya. Sampai tempat jual makanan seperti angkringan misalnya yang desainnya memang lesehan, sehingga semua orang merasa “sama” duduk di tikar yang sama, “ngobrol” dan bertukar cerita sampai berlama-lama sambil menikmati hidangan yang sederhana.

4. Orang Jogja Menjaga Budaya

Yogyakarta merupakan satu daerah di Jawa Tengah yang memiliki kesenian yang unik dan menarik. Hal ini dikarenakan daerah ini masih dipimpin oleh seorang Sultan yang masih memegang teguh adat istiadat khususnya kesenian. Masyarakat Yogyakarta juga masih rutin mengadakan acara-acara kesenian, dengan tujuan mengingat leluhur nenek moyang mereka. Salah satu faktor mengapa kesenian begitu kental di sini karena Yogyakarta merupakan tempat peradaban kerajaan masa Hindu-Budha.

Budaya dan peradaban tersebut terlihat dari cara berpakaian, dan pembawaannya. Masyarakat Jogja menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa sehari-hari. Dalam berpakaian menggunakan busana tradisional seperti blangkon, surjan, kebaya dan kain batik atau lurik.

Bukan hanya dalam berpakaian dalam bertutur kata pun diatur menurut budaya Jawa kuno. Bahasa sehari-hari yang digunakan di Jogja adalah bahasa Jawa. Dan bahasa Jawa ini ada beberapa tingkatan, seperti bahasa Jawa ngoko, krama madya, dan krama inggil (halus).

Selain bahasa Jawa halus, Jogja memiliki keunikan juga dalam hal bahasanya, yaitu “boso walikan”. Boso walikan merupakan sejenis bahasa prokem atau slang bagi orang Jogja yang ada sejak 1960-an bahkan mungkin sebelumnya sudah ada. Jadi terkenal dan mulai diterapkan di Jogja dan sekitarnya pada akhir tahun 1990-an.

Ada juga akulturasi budaya Jogja yang dijumpai pada acara “Sekatenan”. Ditilik dari segi sejarah, Sekaten sebenarnya merupakan salah satu bentuk syiar Agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Di antara sembilan sunan yang ada, Sunan Kalijaga dikenal dengan dakwahnya yang bermuatan seni budaya (Jawa). “Sekaten” berasal dari kata Arab, Syahadatain, artinya ‘dua kalimat syahadat’.

Dengan demikian, Sekaten menjadi simbol dari relasi bahasa Indonesia dengan bahasa asing, khususnya Arab, selain Bahasa Arab,ada pula relasi Bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dalam Sekaten. Diharapkan melalui upacara “Sekaten”, orang dari luar Jogya dapat mengenali pernak-pernik budaya khas Yogyakarta. Mulai dari tari-tarian, karakter, masakan, makanan dan minuman, batik, hingga teater tradisional.


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul

Rumah Cantik 300 Jutaan - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Mewah di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Cantik di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Pertumbuhan Ekonomi Baru dan Jalur Bandara NYIA

Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up