Tujuh Catatan Sejarah Penting Perjalanan Kasunanan Surakarta

Bernas.id – Memiliki sejarah yang panjang, sebelum Indonesia merdeka, kisah Kerajaan Mataram memiliki kisah perjalanannya sendiri hingga terpecah menjadi beberapa kerajaan. Empat kerajaan yang masih bertahan hingga sekarang, yaitu Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kerajaan Mangkunegaran dan Kerajaan Pakualaman.

Khusus untuk Kasunanan Surakarta memiliki jejak awal mula sendiri tentang berdirinya Solo sebagai kota yang berasal dari rawa-rawa dan hutan. Kini kota Solo terus tumbuh berkembang hingga sekarang.

Semua cerita berawal dari para soroh bahu yang membangun tembok Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan terus menjaganya hingga kini. Berikut ini, tujuh catatan sejarah tentang Kasunanan Surakarta dari berbagai sumber.

Catatan Pertama– Kesunanan Surakarta dimulai dari Solo di era Paku Buwono II (1726-1749). Raja muda yang berusia 16 tahun harus mengalami masa pahit saat dilanda “Geger Pecinan” di Kartosuro. Kraton Kartosuro diserang para pemberontak Cina sebagai imbas dari Tragedi Angke hingga merusakkan hampir sebagian besar bangunannya  rata dengan tanah.

Catatan Kedua – Melihat kehancuran bangunan Kraton Kartosuro tersebut, akhirnya Paku Buwono II memutuskan mencari tanah baru untuk memindahkan Kraton yang tidak hanya rusak secara fisik, tapi juga telah memberikan luka batin untuk Raja dan para pengikutnya. Dipilihlah tiga daerah alas atau hutan rawa di desa Sala, Kadipolo, dan Sana Sewu. Dengan berbagai pertimbangan baik fisik dan non fisik, akhirnya desa Sala dipilih sebagai lokasi yang akan dibangun istana baru tersebut.

Catatan ketiga – Kirab perpindahan Kraton Kartosuro menuju istana baru yang diberi nama Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dilaksanakan pada hari Rabu Pahing 17 Suro atau tanggal 17 Februari tahun 1745. Kirab perpindahan Kraton tersebut konon diikuti sekitar 50.000 orang dengan menempuh rute sepanjang kurang lebih 12 Km dengan berjalan kaki dalam waktu 7 jam.

Catatan Keempat – Kraton Kasunanan Surakarta melawan penjajahan. Pada masa Raja Pakubuwono IV (1788-1820), karena kebenciannya dengan penjajah, pada tahun 1790 terjadi peristiwa pengepungan istana yang dikenal dengan nama peristiwa pakepung. Sakit hati atas perlakuan sang Raja, sekelompok para pejabat istana tersebut meminta pihak VOC atau pihak penjajah untuk menghadapi Paku Buwono IV, dan terjadilah peristiwa pengepungan tersebut. Akhirnya pada tanggal 26 November 1790 Paku Buwono kalah dan diasingkan oleh pihak VOC.

Catatan Kelima – Pada masa Paku Buwono IX (1861-1893) dikelilingi para penjilat yang mencari keuntungan untuk diri sendiri makanya muncul istilah “Jaman Edan Yen Ra Ngedan Ra Keduman”. Setelah era modernisasi (memasuki abad ke-20), bertahtalah Paku Buwono X (1893-1939), yang pada masa tersebut perdagangan semakin berkembang di wilayah Kraton.

Catatan Keenam – Pada tanggal 12 Juni 1945 bertahta Raja Kraton Kasunanan Surakarta yang ke-XII. Tanggal tersebut dijadikan wewaton atau patokan sebagai hari Tingalan Dalem Jumenengan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (hari ulang tahun penobatan Raja). Pada tanggal 16 Juli 1988 diterbitkan surat keputusan Presiden RI nomer 23 yang berisi pernyataan bahwa Kraton Kasunanan Surakarta menjadi sumber kebudayaan Nasional Indonesia yang harus dilestarikan.

Catatan Ketujuh – Setelah mangkatnya Raja Kraton Kasunanan Surakarta Paku Buwono XII terjadi perseteruan antara Pangeran Hangabehi dan Pangeran Tedjowulan untuk menduduki tahta Raja ke-13. Tanggal 10 September 2004, akhirnya Pangeran Hangabehi dinobatkan menjadi SISKS (Sampeyan Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan) Paku Buwono XIII.


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul

Rumah Cantik 300 Jutaan - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Mewah di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Cantik di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Pertumbuhan Ekonomi Baru dan Jalur Bandara NYIA

Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up