Oedipus Rex, Siap Tandai Kebangkitan Teater Alam

YOGYA, BERNAS.ID - Teater Alam Yogyakarta, tengah memasuki era kebangkitan. Di saat banyak teater seusia rontok dan tidak lagi berproduksi, kelompok teater yang didirikan Azwar AN, 4 Januari 1972 itu, siap beraksi lagi pada Sabtu, 18 Januari 2020, dengan mementaskan “Oedipus Rex” karya Sophocles, di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta pukul 19:30-22:00. Pementasan ini bakal menandai 48 tahun Teater Alam.

Patron Teater Alam, Azwar AN, “turun gunung” menyutradarai naskah drama yang dianggap tragedi Yunani terbaik sepanjang masa itu. Pementasan kali ini didukung para aktor kawakan Teater Alam seperti Tertib Soeratmo, Meritz Hindra, Gege Hang Andhika, Daning Hudoyo, Annastasia SH, dan lain-lain. Dr Memet Chairul Slamet kembali didapuk meracik penataan musik pementasan monumental tersebut.

Lakon “Oedipus Rex" atau "Oedipus Sang Raja” adalah lakon tragedi romantik yang mengisahkan perjalanan hidup Oedipus dulam mengalami kejayaan dan keruntuhannya. Terakhir Teater Alam mementaskan naskah ini di awal era reformasi.

Dikisahkan, Oedipus sesungguhnya adalah anak laki-laki yang dibuang dan ditemukan oleh gembala. Sang bayi lalu diberikan pada gembala lain yang menjadi abdi Raja Laius, yang kemudian diakui sebagai anak sendiri oleh Sang Raja. Dia diramalkan akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya sendiri. Hal ini yang di kemudian hari membawa bencana di kerajaannya.

"Pemain utama delapan orang, yang utama melatih adalah Meritz Hindra, karena dia sudah saya percaya penuh menggarap naskah drama," ujar sang sutradara, Azwar AN, Selasa (14/1/2020) di Yogyakarta.

Sebagai tokoh senior dunia teater, ia berharap teater-teater di Jogja bisa bertahan sampai berusia tua. Kesenian teater di Yogyakarta menurutnya jangan sampai hilang ditelan jaman.

"Karena menghidupkan teater di Yogyakarta sangat sulit sekali, tanpa keikhlasan untuk berlatih setiap saat," katanya.

Asisten Sutradara pementasan Meritz Hindra menjelaskan naskah Oedipus Rex kembali dipentaskan Teater Alam, karena ini adalah naskah yang sangat hebat dan penting.

"Karena menyangkut nasib manusia yang sangat tragis, puncak dari derita badan dan derita jiwa ada di kisah ini," ujarnya.

Kendala utama dalam persiapan pentas menurutnya adalah kendala menghafal dialog dan blocking. Sebab hampir semua pemain inti berusia di atas 50 tahun.

"Perbedaan yang sangat menonjol [dengan pementasan Oedipus sebelumnya] adalah soal usia," ujarnya.

Aktor pemeran Oedipus Gege Hang Andhika menjelaskan, terakhir kali ia pentas trilogi Oedipus bersama Teater Alam di tahun 1999. Beberapa kali menjadi Oedipus menurutnya adalah ujian keaktoran yang sangat menantang, karena proses penghafalan naskahnya sulit sekali, yang hampir setebal 100 halaman. Ia mengaku kadang dikira orang gila, karena sering berbicara sendiri menghafalkan naskah, bahkan di tempat umum.

"Ya kalau ada salah-salah sedikit wajar lah," ujarnya.

Panitia membuka stan tiket on the spot sore ini (14/1) di TBY hingga hari H pementasan. Total ada 889 tiket yang dijual panitia dengan kategori Gold (Rp.200 ribu), Silver (Rp.100 ribu), Bronze (Rp.50 ribu) dan Festival (Rp.25 ribu). (den)


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul

Rumah Cantik 300 Jutaan - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Mewah di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Cantik di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Pertumbuhan Ekonomi Baru dan Jalur Bandara NYIA

Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up