close

Penggiat Medsos Diajak Jadi Pemandu Wisata Lewat Dunia Maya

Penggiat Medsos Diajak Jadi Pemandu Wisata Lewat Dunia Maya

YOGYA, BERNAS.ID - Peran penggiat media sosial dalam promosi pariwisata di Yogyakarta selama ini sangatlah besar. Karena itu penggiat medsos diharapkan mampu juga menjadi pemandu wisata yang baik untuk kemajuan wisata Jogja.

"Peran teknologi informasi dan komunikasi sangat besar dan tidak bisa kita hindari. Siapa yang bisa menarasikan tempat wisata adalah guide. Apakah harus bersertifikat? Tidak!," tegas Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto dalam acara Sharing Session Raperda Pramuwisata, Senin (10/2/2020) malam di Yogyakarta.

Ia berharap, raperda pramuwisata (guide) yang kini tengah digodok akan akan memberikan definisi yang lebih luas tentang siapa itu pemandu wisata. Yang pertama adalah mereka yang menempuh kursus pramuwisata dan memiliki bersertifikat. Yang kedua adalah masyarakat sekitar objek wisata yang memiliki pengetahuan cukup baik tentang objek wisata tersebut.

"Yang ketiga, pemandu wisata yang berbasis digital. Ini yang ke depan harus kita diskusikan dan kita beri payung hukum," ujarnya.

Ia mengaku menyetujui raperda pramuwisata yang diusulkan pihak eksekutif, dengan beberapa catatan perbaikkan. Salah satunya adalah aturan bahwa pemandu wisata harus bersertifikat.

"Pemandu wisata tak hanya mereka yang bersertifikat. Poin di raperda itu harus di-drop," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo yang menjelaskan, raperda baru disusun untuk menggantikan lerda lama, No 2 tahun 1997. Saat ini, menurutnya jenis-jenis pramuwisata sudah beda, dan jamannya sudah beda, sehingga perlu ada aturan baru.

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR

SEMARANG BARAT, KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH

Rp.7,500,000,000

"Sekarang ada pramuwisata atau pemandu wisata yang antar kota antar provinsi. Kondisi dan situasi sekarang sudah berubah, karena itu perlu perda baru," katanya.

Ia menjelaskan, menurut Raperda, ada tiga jenis pramuwisata. Yang pertama adalah pramuwisata konvensional, yang bersertifikat. Yang kedua adalah pemandu lokal, yang berada di destinasi wisata tertentu. Sementara yang ketiga adalah pemandu minat khusus, mereka yang memiliki kemampuan memandu khusus, misalnya untuk memandu menelusuri suatu gua.

"Tiga itu yang kami akomodir," katanya.

Dalam Raperda ini, yang baru adalah masalah keistimewaan Yogyakarta. Singgih mengakui, pengetahuan tentang keistimewaan Jogja belum banyak diketahui oleh para pemandu wisata.

"Inilah yang akan diujikan untuk pemandu konvensional," kata Singgih.

Terkait review destinasi pariwisata oleh para penggiat medsos, menurut Singgih mereka tidak serta-merta disebut sebagai pemandu wisata. Namun mereka atau siapapun juga tidak bisa dengan seenaknya dianggap melanggar hukum, apabila melakukan aksi pemanduan wisata.

"Masih terbuka ruang cukup lebar untuk diskusi melengkapi raperda ini," katanya. (den)


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR


Lebih Lengkap

Trending

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan

Upgrade Diri dengan Sertifikasi Praktisi Manajemen Risiko Madya - Diskon Jutaan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR

JUAL MURAH BANGUNAN UNTUK GUDANG ATAU KANTOR


Kavling 100 M2 hanya Rp 60 Juta sudah SHM dan GRATIS Pondasi

Kavling 100 M2 hanya Rp 60 Juta sudah SHM dan GRATIS Pondasi


Rumah Jogja Murah Angsuran 1 Jutaan

Rumah Jogja Murah Angsuran 1 Jutaan


Investasi yang Menguntungkan di Bogor Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM

Investasi yang Menguntungkan di Bogor - Kavling Jonggol 60 Juta 100 m2 BONUS Pondasi dan SHM


Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up

Buka Link Pada Tab Baru