Waspadai Sifilis, Silent Disease Si Perusak Organ

JAKARTA,BERNAS.ID - Sifilis merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan bakteri Treponema Pallidum, yang ternyata dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ pada otak, sistem saraf serta jantung bahkan dapat mengancam jiwa. Sifilis bersifat silent, bekerja dengan diam dengan faktor-faktor risiko yang harus diwaspadai, yaitu melakukan hubungan seks tanpa pengaman, lebih dari satu pasangan serta hubungan seks pria dengan pria.

"Penting untuk dicatat, bahwa orang dengan HIV lebih rentan terhadap penularan sekaligus dapat menjadi penyebar sifilis. Sifilis juga dapat ditularkan dari ibu hamil ke janinnya," ungkap

dr Anthony Handoko, SpKK, FINDSV, CEO Klinik Pramudia, dalam seminar bertema sifilis  silent disease, si perusak organ, Jakarta, Rabu (12/2/2020)

Jika memang merasakan gejala-gejala khas Sifilis, seperti luka pada genital yang tidak sakit dan terdapat ruam di bagian tubuh, maka dianjurkan untuk segera berkonsultasi kepada dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sepanjang bulan Juli-September 2019, tercatat sekitar 1.586 pasien Sifilis yang diobati di Indonesia, dari beragam kelompok risiko seperti wanita pekerja seks (WPS), pria pekerja seks (PPS), lelaki seks dengan lelaki (LSL), injection drug user (IDU), waria, pasangan risti, dan pelanggan pekerja seks . Berdasarkan data distribusi kasus Sifilis baru di RS Dr. Cipto Mangunkusumo, terjadi peningkatan jumlah pasien yang berobat akibat Sifilis. Pada 2016 tercatat 45 pasien, 2017 tercatat 49 pasien, dan 2018 meningkat lagi menjadi 63 pasien .

Dalam rilis tertulisnya. dr Anthony menyatakan, pengetahuan masyarakat terhadap penyakit Sifilis sampai saat ini masih minim, termasuk tentang deteksi dini terhadap penyakit ini. Padahal  Sifilis merupakan Penyakit Infeksi Menular Seksual yang dapat menyerang organ lain seperti jantung, otak dan saraf pada tahap lanjut di kemudian hari. Di samping itu, Sifilis dapat berpengaruh terhadap kehamilan dan dapat menyebabkan kecacatan. Dengan demikian, harus dilakukan pemutusan rantai penularan penyakit ini.

“Klinik Pramudia, sebagai Pionir Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin swasta, yang tahun  ini bergiat melakukan kampanye #SembuhGakPerluMalu dapat memberikan kontribusi terhadap kesehatan kulit dan kelamin di Indonesia dengan membagi ilmu dan edukasi mengenai penyakit Sifilis kepada seluruh masyarakat.

Sementara itu, Dr. dr. Wresti Indriatmi, SpKK(K), M.Epid, Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menyatakan, pentingnya untuk meningkatkan awareness terhadap penyakit Sifilis. “Sifilis merupakan penyakit sistemik yang gejalanya tergantung pada stadium penyakitnya. Jika tidak segera diobati, penyakit berkembang dalam stadium dengan gambaran klinis yang bervariasi dan tidak khas, kemudian bisa menjadi komplikasi serius. Jika diobati dini, komplikasi sedikit.

"Seseorang yang menderita penyakit sifilis dapat mempermudah tertular HIV, demikian juga sebaliknya,” jelas dr. Wresti.

dr. Wresti memaparkan terdapat 4 tahapan stadium atau tingkatan Sifilis: Sifilis primer, Sifilis sekunder, Sifilis laten, dan Sifilis Tersier. Pada Sifilis primer, bakteri memperbanyak diri pada tempat inokulasi dan membentuk chancre (lesi pada kulit yang keras, tidak gatal, biasanya berdiameter antara 1 cm dan 2 cm). Pada Sifilis sekunder, Sifilis menyebar ke kelenjar getah bening setempat, kemudian ke pembuluh darah. Pada Sifilis laten, Sifilis sudah mulai mengenai banyak organ tubuh. Hingga akhirnya pada tingkatan Sifilis tersier, terjadi infeksi/inflamasi pembuluh darah dalam susunan syaraf pusat dan sistem kardiovaskular, atau membentuk lesi gumma. Jika infeksi tidak diobati akan merusak organ-organ tubuh seperti kebutaan, jantung, otak, saraf, pembuluh darah, tulang, kelumpuhan, dimensia, tuli, impotensi, hati bahkan kematian. 

“Sifilis paling mudah menular kepada pasangan seksual dalam stadium primer dan sekunder. Perkiraannya, 3-10% tertular dalam satu kali hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi Sifilis. Masa inkubasinya berkisar 10-90 hari, namun umumnya 21 hari,” tambah dr. Wresti. 

Terdapat 4 tahap pemeriksaan terhadap Sifilis. Pertama, pemeriksaan fisik pada selaput lendir dan kulit pada stadium primer dan sekunder. Kedua, pemeriksaan Lab serologi darah (VDRL, TPHA), lazim digunakan untuk skrining awal dan lanjut. Ketiga, pemeriksaan Dark-Field Microscopy dan keempat, pemeriksaan CSF/Carian Serebrospinal pada Neurosifilis.

Bakteri Treponema Pallidum masih sensitif terhadap antibiotik Penisilin, sehingga obat pilihan utama terapi tetap dengan pemberian antibiotik golongan penisilin.

"Oleh karena itu, pasien harus teredukasi jika tidak ingin Sifilis berlanjut ke stadium yang lebih berat,” tutupnya. (fir)


Berita Terkait

Rekomendasi Untuk Anda

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul


Lebih Lengkap

Trending

Sales Course yang Jamin 99 Persen Penjualan


Lebih Lengkap

Bernas TV

Rekomendasi Produk

Tinggal 1 Rumah Mewah 300 Jutaan Diskon 60 Juta di Sedayu Bantul

Rumah Cantik 300 Jutaan - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Mewah di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Jalur Bandara NYIA

Rumah Tipe 58 Cantik di Jogja Diskon 70 Juta - Strategis di Pertumbuhan Ekonomi Baru dan Jalur Bandara NYIA

Lihat Lebih Banyak
keyboard_arrow_up